Di luar sana masih hujan. Rintiknya turun bersamaan dengan kenangan yang pernah kau lukiskan dalam ingatan. Bulirnya yang turun di jendelaku mengisyaratkan dingin yang menusuk tulang. Ah, mengapa hujan seperti kamu? Dingin dan tenang, namun bisa menenggelamkan diri dalam kenangan yang berkepanjangan. Di luar sana, lampu di ujung gang itu masih temaram. Seperti sinarmu yang kian padam saat kau tiba tiba hilang tanpa berpamitan.

Andainya kau sadar, ada hati yang harus kau tenangkan di sini. Ada hati yang harusnya tetap bisa kau jaga sampai saat ini. Ada yang masih menunggumu dengan setianya tanpa pernah beranjak pergi. Tuan, pulanglah. Ada cerita yang harus kau selesaikan di sini. Kembalilah, ada rindu yang harus kau tuntaskan di pemberhentian yang kau jadikan sementara ini.

Pulanglah, dan tuntaskan semua ini. Aku tidak akan memintamu untuk tetap melanjutkan kisah panjang kita. Aku telah belajar banyak untuk menyingkirkan ego, dan juga bersandiwara. Memerankan tokoh dimana aku akan selalu baik baik saja. Pulanglah, agar semua bisa di jelaskan mengapa. Agar tak ada lagi abu-abu yang menaungi perjalanan semu dua manusia yang pernah berjuang bersama. Setelah perjalanan panjang ini, kau bisa pulang kemanapun kau ingin pulang.

Tapi, tak akan ada lagi hatiku dengan pintunya yang selalu terbuka. Tenang saja, itu akan berarti banyak. Salah satunya adalah aku tak akan memenuhi notifikasi di telpon genggammu lagi dengan pesan pesanku. Atau aku tak akan membuat keributan dengan meneleponmu lagi untuk sekedar mengingatkan agar kau tak lupa untuk sarapan setiap pagi.

Tak apa, aku akan memperbaiki puing demi puingnya sendirian. Aku akan bekukan ingatan tentang kita, dua manusia yang tujuannya tak lagi sama. Mengikhlaskan akhir dari cerita ini menjadi kelabu dan tak berwarna. Langit di atas semakin kelam, sekelam bayanganmu yang ikut menghilang ditelan gelapnya malam. Dan hujan, biarkan hujan ini semakin deras, semakin keras mengguyur ingatan tentangmu yang semakin terbatas.