Minggu, pagi itu, di Desa Lasada, Kecamatan Asinua, Kabupaten Konawe. Matahari masih bersinar malu-malu dan sebagian orang lebih memilih bergelung di dalam selimut. Beberapa anak muda terlihat bersemangat berjalan menuju ke arah perbukitan. Dengan bersusah payah, Masrit bersama ke tujuh rekannya terus melangkahkan kaki.

Sebuah tanah lapang di tepi jalan menjadi tempat pemberhentian. Deretan pohon pinus menjulang memenuhi pandangan, lebatnya hutan mulai tergambar, kabut tipis jadi pertanda,dan cuaca pagi itu masih dingin. Saat pertama mendaki tanaman perkebunan warga sekitar menjadi pembatas jalur, mulai sayuran, tanaman toga, hingga tanaman hasil bumi, seperti merica, coklat hingga buah-buahan, butiran air di dedaunan menjadi bukti sejuknya udara di sekitar situ.

Hutan Pinus, begitulah bagian dari hutan di kawasan RPH (Resort Pengelolaan Hutan) Lasada yang ditumbuhi tanaman Pinus. Tak butuh waktu waktu lama untuk sampai ke kaki bukit hanya berjalan kaki sekitar 20 menit dari pemukiman. Bila ingin mengunjungi hutan ini, jaraknya sekitar 20 Kilometer (KM) dari ibu kota Konawe, Unaaha. Bila berkendara, waktu yang ditempuh sekitar sejam. Untuk mendakinya, jarak 100 meter dari kaki bukit tak memakan waktu lama.

Rasa lelah yang muncul saat perjalanan, dijamin bakal berangsur hilang saat pertama kali melihat keindahan hutan pinus ini, yakni saat telah mencapai puncak bukit pinus.

Di kejauhan nampak pohon menjulang berbentuk terowongan dan berbentuk runcing dengan warna hijau alami, jejeran pohon yang rapi dengan aroma khas pinus, angin sepoi yang menyambut pendatang membuat suasana semakin sejuk dan memanjakan mata. Hamparan persawahan dari ketinggian terlihat membentang luas seakan tanpa batas ditutupi dengan sedikit kabut yang semakin memanjakan mata. Meski terjalnya jalur pendakian yang berkemiringan sekitar 40 derajat serasa hanya gundungan biasa. suasan hening dengan kicauan burung sesekali terdengar membuat suasana semakin nyaman.

Advertisement

Saat Masrit dan kawan-kawan menjejakkan kaki di tanah yang sebagian besar tertutup daun pinus kering bak permadani, sinar matahari semakin menanjak tinggi dan terlihat mulai mengintip dari sela-sela batang pinus. Sinarnya yang menghangatkan mau tak mau mengusir dingin yang menemani semenjak mereka datang.

“Hutan Pinus Lasada, Wisata hutan perawan.” kata Masrit dengan nada bercanda, sambil memecah keheningan dengan gelak tawa beberapa rekannya.

Celote segerombolan anak muda yang diselingi dengan tawa mulai mengisi keheningan yang tadinya hanya berisi suara gesekan dedaunan. Tak perlu waktu lama, beberapa dari mereka mulai asyik berpose dan mengabadikan gaya menggunakan kamera.

Sementara orang-orang heboh mengabadikan setiap momen dalam jepretan kamera, saya memilih untuk berfikir apa yang dikatakan masrit sepertinya benar pasalnya, dari beberapa masyarakat yang kami temui mengatakan, jika Hutan pinus ini jarang didatangi sehingga hutan ini masih terpelihara dan suasana alam masih kental.

Menikmati suasana hutan dedaunan pinus. Gemeresik gesekan daun dan ranting menjadi satu yang mampu melelapkan semua orang ke dalam khayalan. Suasana tenang di Hutan Pinus Lasada mampu melenyapkan semua beban.