Hai, apa kabar? Sudah lama kita tidak berbicara. Sudah tidak ada lagi percakapan manis kita di sela-sela aktifitas yang menerpa. Iya, memang sudah tidak ada lagi. Semenjak kamu memilih pergi dan menyerah dengan keadaan. Semenjak malam itu, malam saat aku tak mampu menahan emosiku dan di saat itu pula kamu melancarkan seranganmu. Luluh lantah. Dari awal aku mengenal kamu sebagai sosok yang baik, yang kesabarannya mampu meluluhkanku.

Dan itu yang membuat aku jatuh hati. Ya, benar. Memang semua sangat berwarna saat kamu ada. Tapi, sudahlah! Aku hanya ingin menuliskan beberapa bait kata untukmu.

Aku masih ingat, saat kamu sibuk mencari pekerjaan terbaik pasca wisudamu. Ya, tentu di sana ada aku. Aku ada untuk berbagi denganmu. Aku ada saat kegamanganmu. Aku masih ingat betul alasanmu jatuh hati padaku. "Kamu wanita mandiri, aku sayang kamu." Kurang lebih, itu bagian kata yang paling aku ingat dan selalu berhasil membuat aku tersenyum. Aku menemanimu tanpa banyak aturan. Aku mendukung semua yang kamu lakukan.

Pada akhirnya, kamu pun mendapatkan pekerjaan yang kamu suka. Dengan pendapatan yang kamu inginkan pula. Senang. Aku turut senang melihatmu seperti itu. Bercerita seperti itu.

Sungguh, aku senang berbagi denganmu.

Advertisement

Dan hari terus berjalan. Aku sangat mengerti kamu sedang membangun karirmu. Kamu sedang memulai hidup barumu. Kamu sedang merintis sebuah keberhasilan nantinya. Tapi sayang, sungguh aku merasa sepi. Kamu dengan duniamu sangat tak bisa kujangkau. Kalau tidak salah, aku pernah mengutarakan itu padamu. Ya, aku pernah. Betapa takutnya aku kalau kamu pergi. Betapa takutnya aku saat kamu akan jatuh hati pada wanita lain.

Dengan pekerjaanmu sekarang, dengan gayamu sekarang, dan dengan kehidupanmu sekarang. Sungguh aku takut. Aku menyadari betul, aku hanya gadis biasa dan ketakutanku beralasan. Tapi berkali-kali kau meyakinkanku kalau kamu hanya menyayangiku. Dan lagi-lagi, itu berhasil meyakinkanku.

Saat itu, kita sangat sulit untuk bertemu. Sering terjadi pertengkaran kecil sampai besar yang menguras air mataku. Aku bukan memintamu untuk menemaniku ke sana ke mari, memintamu membelikan aku ini dan itu. Bukan. Aku hanya perlu waktu bersamu. Bertukar cerita. Dan saat itu pun tiba, setelah beberapa waktu kau tak menghubungiku. Kau mengucapkan kalimat yang membuat aku kaku, kelu. Kamu memutuskan untuk mengakhiri ini semua.

Kamu memilih ini semua. Kamu berkata kalau aku yang menjadi penyebab ini semua. Kamu melakukan itu.

Saat kamu berkata kalau ini semua harus berakhir, aku tak mampu berbuat apa-apa. Lagipula, apa yang bisa aku lakukan ketika kamu memilih bener-benar pergi? Tahukah kamu apa yang aku rasa? Rasanya sayang, tapi semua menghilang? Rasa ketika dada tidak selapang dahulu? Rasa saat harus ikhlas dengan jiwa terhempas. Aku sudah berusaha. Menerbangkan semua egoku dan kamu pun tahu itu.

Jadi, bagaimana hidup kamu sekarang? Bagaimana kesehatanmu dan pekerjaan yang menyita waktu itu? Aku selalu mendoakanmu. Sungguh. Tak ada rasa benci. Hanya saja, rasa sakit ini makin terasa. Hanya saja, aku belum bisa tidur sebelum pergantian hari dan bangun tanpa mata sembab di pagi hari. Hanya saya aku masih menyayangimu sampai saat ini.

Aku sayang kamu? Tidak cukupkah itu?

Kamu seharusnya tahu itu. Tapi aku berjanji, tak akan kusentuh kontakmu dan menuliskan untaian kata yang sangat ingin aku sampaikan. Aku tak akan memperlihatkan mata sembab dan lemahnya keadaanku di pandangan tajammu. Percayalah, kamu bisa mempercayaiku. Sampai kita bertemu lagi, nanti. But I miss you, Did you miss me?