Tentu saja lagu-lagu dengan irama dan melodi mendayu-dayu, sendu, atau istilah zaman sekarangnya mellow sampai saat ini masih menjadi lagu paling populer. Lagu dengan gubahan lirik yang menyayat-nyayat hati dan tidak jarang dengan serta-merta membuat kita terbawa suasana (baca: BaPer). Lagu yang membuat kita semakin merasa menye-menye menghadapi hidup.

Lagu-lagu yang membuat hujan terasa lebih lambat jatuhnya.

Semua jenis lagu yang saya ungkapkan itu seringkali menjadi soundtrack favorit kebanyakan orang. Bahkan termasuk saya. Siapapun orangnya, seberapapun kaku dan kerasnya seseorang, ia akan punya paling tidak satu lagu mellow yang ia hapal di luar kepala. Benar, tah?

Karena pada dasarnya setiap manusia hanya nyaman ditemani oleh kesendirian saat dirundung sedih.

Maka lagu dengan irama semacam itu adalah teman paling sempurna. Pengingat paling jahil yang jarang gagal membuat suasana mendadak kelabu. Kita tercipta dengan kompleksitas tiada dua di alam semesta. Namun, saat merujuk urusan hati, kita berbagi paham yang kurang-lebih sama. Manusia tidak diciptakan untuk selalu berbagi. Kasarnya, kita adalah makhluk paling egois. Bahkan saat menyangkut tentang perasaan lara. Manusia secara naluriah (menurut saya) akan merasa lebih nyaman untuk merabai perasaan sedih sendiri. Namun tidak sepenuhnya sendiri, untaian nada dan bait lirik yang sendu akan menjadi candu paling halal untuk menemani kesedihan setiap manusia.

Saat terjatuh, putuskanlah untuk berhenti menyimpan lara.

Karena hanya ia yang terjatuhlah yang punya kuasa untuk merasakan sakit. Atau segera melupakannya. Atau perlahan mengobati lukanya. Atau sengaja membiarannya mengering dan membekas saat ia terkelupas. Hidup memang tidak pernah semudah yang orang lain ceriterakan. Hidup juga tidak sesulit apa yang selalu kita takutkan. Tetapi hidup memberikan kita kendali. Untuk membuatnya terasa mudah atau sulit.

Advertisement

Merelakan rasa sakit tidak kemudian membuat bahagia tiba lebih cepat.

Banyak yang bilang, hidup itu ibarat roda, kadang di atas, kadang di bawah. Tapi, roda juga terkadang harus berhenti sesaat. Entah pada posisi di atas atau di bawah.

Sebuah rotasi memang secara konstan akan membawa titik-titik yang menjadi entitas di dalamnya senantiasa berputar. Bergantian dengan runut untuk saling menempati posisi. Bertukar kendali dan merasakan pengalaman melihat dari sudut ruang yang berbeda. Kurang lebih itulah yang terjadi dalam hidup ini. Bahagia dan lara akan menemukan keseimbangan untuk terus-menerus bergantian menghampiri. Untuk terus-menerus membuat manusia merasa hidup yang lebih hidup. Tapi saya jjuga yakin adanya sebuah anomali. Sebuah ketidaksesuaian alam semesta. Yang pada satu waktu akan mengizinkan adanya stagnansi. Bahwa saat-saat di mana lara sedikit lebih lama merajai bahagia. Atau bahagia yang tiba terlalu cepat. Atau saat keduanya berada di titik terjauh satu sama lain. Kita, sebagai manusia, pasti lebih paham tentang anomali itu. Yang kemudian diperlukan adalah perasaan rela. Ikhlas.

Menjadi ikhlas adalah hal yang utama.

Ikhlas tidak serumit Kalkulus atau semudah mengedipkan mata. Ikhlas uga tidak datang seperti badai di musim panas. Ikhlas adalah pelajaran seumur hidup. Setiap kehidupan kita punya kadar keikhlasan yang berbeda. Bodoh jika kita saling membandingkan siapa yang lebih ikhlas dan siapa yang belum. Karena menjadi ikhlas adalah hal yang utama. Bukan hanya untuk menyisihkan sedih dan merengkuh ringan-bahagianya hidup. Tetapi ikhlas akan menyempurnakan lingkaran kehidupan, yang pada akhirnya lingkaran itu akan kembali ke titik awalnya untuk menjadi sempurna. Membuat kita melangkah lebih ringan. Membuat kita merasai Tuhan lebih khidmat.