Semua berawal dari sini…

Belum pernah terbayangkan olehku. Seorang seperti dia menemui orang tuaku untuk meminta izin menikahiku. Seorang lelaki terbaik yang pernah aku kenal selama ini. Bukan seorang pangeran berkuda putih. Bukan pula anak pejabat yang datang dengan penuh kemewahan dunia. Tapi dia, seorang lelaki sederhana yang membuat aku tak mampu untuk tak memikirkannya sejak pertemuan itu. Tentang teduh pandangannya. Tentang lembut suaranya. Tentang sikap positifnya. Tentang ilmu agamanya. Dan semua tentang dia membuatku tak berhenti bersyukur telah dipertemukan dengannya.

Assalamualaikum, Ukhti…

Suara lembutmu membuyarkan kecanggunganku. Membuka percakapan kita yang kukira akan membosankan, tapi ternyata membuat kita langsung akrab. Sebuah percakapan singkat yang mampu membuat kita menyamakan pandangan tentang masa depan. Bukan hanya tentang aku ataupun kamu, tapi tentang kita dan orang terdekat kita.

Sesekali kujumpai kamu memandangku dengan teduh. Yang bahkan tak mampu membuat aku memandangmu sekedipan mata. Aku hanya mampu tertunduk malu. Dan kamu satu-satunya lelaki yang mampu membuatku tersipu malu. Membuat jantungku berdegup tak menentu. Bahkan sampai kamu meminta izin untuk mengakhiri percakapan kita.

Dan dalam sekejap, semuanya berubah…

"Ayahmu sama sepertiku, rasa-rasanya akan berat".

Advertisement

Suara ibu membuyarkan kebahagiaanku. Aku sangat paham tentang apa yang ibu katakan. Sebuah kalimat yang berarti mematahkan keinginanku untuk bahagia bersamanya. Dan aku pun menyerah malam itu juga,

Tapi tak berakhir sampai di situ, semuanya berubah-ubah menjadi semakin tak menentu…

"Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang dia dulu sebelum memberi jawaban"

Ucapan ibu membuatku semangat lagi. Dan itulah awal mulai kekecewaan hati. Aku mulai menggantungkan harapan tinggi. Aku kira, ibu menyerahkan semua keputusan kepadaku. Tapi aku salah.

Setelah sekian banyak informasi yang aku dapat tentangnya yang bahkan tak ada cela, ibu mulai mencari-cari alasan agar aku tak menerima pinangannya. Bahkan ketika ayahku sudah memberikan restunya. Aku sangat bahagia dengan restu ayah dan tak peduli dengan ucapan ibu yang terus menyudutkan. Aku terus berusaha untuk memburu restu ibu.

Hingga akhirnya kudapatkan restu ibu. Rencana untuk tahap selajutnya pun telah ditetapkan. Tapi semua berubah lagi. Sebuah persyaratan besar itu pun muncul dan menjadi awal dari berakhirnya perjuanganku.

"Kalau ibu memberikan syarat seperti itu, berarti ibu memang tidak ikhlas. Dan saya tidak bisa memaksakan diri saya jika memang ibu tidak ikhlas".

Itulah ucapanmu yang membuatku mengakhiri kisah kita. Aku tak mau hubungan kita menggantung lebih lama. Aku tak mau menghalangi kebahagiaanmu yang mungkin tertunda karena aku. Aku tahu ada nada kecewa dibalik ucapanmu, tapi aku tak ingin memaksamu. Aku tak mungkin memaksakan keadaan.

Kebahagiaanmu lebih penting, Mas. Jika aku memaksamu untuk tetap bersamaku, mungkin itu akan membuatmu terbebani dengan keinginan ibuku. Aku selalu berharap yang terbaik untukmu. Mendoakan kebahagiaanmu walaupun tidak bersamaku. Maaf telah membawamu masuk dalam kehidupanku yang merepotkan ini.

Aku menunggumu di antara hujan. Di balik sebuah doa, yang semoga juga di-aamin-kan oleh malaikat. Ana Uhibbuka Fillah..

Dan untukmu ibu..

Aku tahu persyaratan ibu itu untuk kebahagiaanku. Tapi ibu tak pernah mencoba mengerti perasaanku.

Sumber kebahagiaan rumah tangga itu bukan hanya tentang uang, bu. Karena rezeki itu bisa dicari dan telah dijamin oleh-Nya, tak perlu engkau merisaukan itu hal itu.

Aku hanya perlu seorang suami yang mampu menjadi imam yang baik untuk istri dan anak-anaknya nanti. Dialah suami yang punya bekal akidah dan akhlak yang baik. Dengan begitu, dia akan berusaha menjadikan aku sempurna bersamanya. Menjadikan aku anak sholiha yang doanya tak tertolak untukmu sampai kapanpun ibu..

Tak pernahkah engkau memikirkan sejauh itu, ibu?

Aku mencintainya, Bu.. bahkan aku masih menunggunya. Tak bisakah engkau mempertimbangkan sisi baiknya sedikitpun? Tak bisakah engkau berubah pikiran? Haruskah engkau menggadaikan kebahagianku demi idealis mu itu, Bu?? Bahagiakah engkau saat aku kecewa seperti ini?