Setelah kepergian bapak, kau adalah satu-satunya cahaya yang kulihat di rumah mungil kita. Aku perlahan lupa tentang ketakutanku. Aku hanya ingin dekat denganmu.

Wahai wanita luar biasa dalam hidupku, sudikah kau meluangkan waktumu untuk membaca secuil surat yang kutulis untukmu?

Sejak kecil kau mengajarkanku untuk mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Kau berangkat pagi-pagi sekali dan pulang petang. Tahukah kau bahwa aku nyaris menghitung berapa jam pertemuan kita setiap harinya? Menghitung berapa kali kita melakukan percakapan? Atau berapa lamakah percakapan di antara kita? Aku mendapati kenyataan bahwa aku lebih sering berbicara dengan aksara.

Ibu… Betapa aku ingin kau tahu tentang apa-apa yang terjadi padaku. Hari-hariku yang jarang kau tanyakan.

Tentang kawan-kawan sekamar yang kurang mampu bekerjasama dengan baik melakukan kewajiban. Dan lebih sering aku yang menyelesaikan. Membuatku sedih dan tidak mengerti tentang tujuan pembagian tugas yang kami sepakati.

Advertisement

Tentang kawan baik hati yang berbagi beberapa potong pakaian tak terpakainya denganku.

Tentang presentasi yang selalu aku mulai dengan tertawa malu tanpa lupa menunjukkan gigi lucuku.

Tentang dokter yang memeriksaku dan menjelaskan bahwa asam lambungku naik, yang ketika kau tahu, tanpa ragu meneleponku dan memarahiku karena aku sering tidak atau terlambat makan. Aku tahu itu wujud kekhawatiranmu yang bermakna kau sangat menyayangiku.

Tentang mereka yang menyembunyikan banyak hal dariku padahal aku sering berbagi dengan mereka.

Tentang pengeluaran tiap bulan yang lebih sering kugunakan untuk membeli buku. Namun bukan untukku.

Tentang tanggungjawab baru yang kuemban di tempat tinggalku, sebagai anggota divisi kebersihan.

Tentang keterbatasan ruang yang aku miliki dalam kamar, yang sempat membuatku menangis karena tidak mendapat tanggapan baik ketika aku memberitahu bahwa aku ingin memasang rak bukuku yang berukuran lebih kecil dari rak mereka.

Tentang perjalananku ke tempat yang jauh bersama kawan-kawan sekelas dan aku sendiri yang mengendarai motor. Tentang ujian yang aku tidak bisa mengerjakannya, karena memang tidak belajar dan tidak paham. Tentang tugas-tugas menumpuk yang membuatku jarang beristirahat.

Tentang malam-malam panjangku yang kulewati dengan tangis.

Tentang rindu yang membuncah kepada rumah yang kutinggalkan dan di dalamnya ada dirimu. Kerinduanku pada aroma masakan yang kau buat sepenuh hati, pada senyum yang tersungging di bibirmu bermakna kau bahagia melihat anak-anakmu berkumpul di rumah.

Tentang air mata yang sering kusimpan sendiri karena tak kuasa membaginya.

Tentang tawa yang tak mungkin kusimpan tanpa kubagi.

Tentang kawan yang mulai kuanggap berarti. Kawan yang membantuku belajar. Menjelaskan ketidakpahaman yang kualami dengan detail meski akhirnya aku tetap tidak paham.

Tentang pengabdianku pada tempat tinggalku. Meluangkan waktu untuk anak-anak di sebuah masjid di sana. Waktu yang sesungguhnya ingin aku lewati dengan istirahat saja, namun mengingat tawa dan keceriaan mereka selalu membuatku melawan rasa lelah demi mereka. Berangkat dengan kendaraan seadanya dan kawan seadanya.

Tentang aku yang tiap waktu berusaha menambah hafalan Quranku, namun tak kunjung mengalami kemajuan.

Tentang kesukaanku pada dunia menulis.

Tentang tulisan tanganku yang kata kawan-kawanku tidak bisa dibaca. Mereka tidak mengijinkan menulis pada bab metode analisis data guna laporan praktikum dengan alasan yang sama.

Tentang seseorang yang merajai hatiku. Ini adalah hal paling penting yang ingin kusampaikan, Bu.

Seseorang yang menceritakan tentangku pada ibunya, dan kemudian aku mengenal adik-adiknya.

Seseorang yang kini tengah bertahta di hati putrimu entah sejak kapan.

Seseorang yang membuat putrimu lebih dekat dengan-Nya, lebih mencintai Al-Quran, dan selalu ingin berbuat kebaikan.

Seseorang yang selalu mengingatkanku tentang investasi akhirat dan masa depan.

Seseorang yang memuliakan Al-Quran dan menjaganya.

Seseorang yang menghormati wanita dan memahaminya.

Seseorang yang memberiku banyak nasihat di dalam hadiah yang ia berikan untuk ulang tahunku kemarin.

Seseorang yang beberapa kali menawarkan diri untuk mengantarku berobat.

Seseorang yang mempunyai mimpi besar membahagiakan orang tuanya sebelum membahagiakan yang lain.

Seseorang yang memberiku kehangatan dengan jaket yang ia pinjamkan, namun aku tak berniat mengembalikannya.

Seseorang yang beberapa kali memberiku makanan karena tahu aku tengah kelaparan dan lupa makan.

Seseorang yang berkali-kali menoreh luka di hatiku sekaligus menyembuhkannya, membuatku mau tak mau membiarkan air mata membasahi pipiku.

Seseorang yang mampu memekarkan kuncup rinduku namun juga memangkas habis seketika.

Namun, Bu. Kau harus tahu. Dia adalah orang yang tidak terlalu mempedulikan perkataan orang tentangnya. Selama yang dilakukannya benar, dia tidak terlalu khawatir dengan pandangan orang lain.

Sejak itu, Bu.

Sejak itu aku memutuskan untuk menjadi orang yang memahaminya lebih dari yang lain. Mempercayainya lebih dari yang lain.

Jika aku harus berterimakasih pada setiap pelajaran yang kuambil darinya, maka aku tidak tahu akan berhenti di mana kata terimakasihku.

Bu, kau harus tahu. Aku tidak memiliki alasan untuk membencinya meski dengan segala luka yang pernah ia toreh.

Bu, kau harus mengenalnya. Meski aku tahu, sulit membuatmu ingin tahu.

Berikan aku restumu. Berikan kerelaan untuk putrimu memperjuangkannya dalam doa. Memperbaiki diri agar pantas bersanding dengannya.

Aku butuh restu semesta melalui restumu, Bu.