Ibu, ini adalah kisah anak perempuanmu, yang mungkin tidak terdengar merdu untuk di dongengkan. Tidak cukup indah untuk dijadikan barisan dalam kata. Namun Ibu, aku tahu kalau kau selalu bisa menjadi tempatku berpulang untuk mengadu.

Lup.. Dup.. Krek.. Lup.. Dup.. Krek.

Wahai Ibu, bisakah kau dengar suara itu? Suara jantungku biasanya hanya terdengar Lup.. Dup.. Lup.. Dup.. Tapi bisakah kau dengar Ibu? Ada bunyi krek disana. Itu adalah suara retakan jantungku, Bu.

Ya, Bu. Jantungku retak menjadi luruhan-lurahan. Tercecer disana-sini tak berbentuk lagi. Membuatku harus sibuk memungutinya dan menata lagi.

Salah siapa? Salah dia? Entah Ibu. Mungkin memang salahku sendiri yang terlalu menaruh harap. Salahku sendiri yang terlalu menyimpan arti. Salahku sendiri yang terlanjur menginterpretasikan lain.

Advertisement

Orang baik belum tentu mencintai kita kan, Bu? Karena memang begitulah yang diajarkan Tuhan. Bahwa sesama manusia haruslah saling berbuat baik. Termasuk dengan lawan jenis sekalipun. Tetapi memang mungkin salahku yang mengartikan kebaikan orang lain dengan cara yang berbeda. Entah karena rasa percaya diriku yang terlalu tinggi, atau memang entah karena anakmu ini yang terlalu bodoh.

Aku pikir awalnya kebaikannya adalah wujud dari ketertarikannya padaku. Sampai aku hampir saja melayang seperti paus terbang dibuatnya. Oh tetapi Ibu, saat aku sadar bahwa ternyata kebaikan yang sama juga ia lakukan pada orang lain.

Lup.. Dup.. Krek.. Lup.. Dup.. Krek..

Ah, Ibu.. Aku benci mendengar suara sumbang yang menghancurkan irama jantungku itu. Bunyi retakan yang terdengar ngilu dan terasa dingin.

Orang perhatian belum tentu menyayangi kita kan, Bu? Dia mungkin memang begitu pada semua orang.

Mungkin memang dia seperti pahlawan bertopeng yang ditugaskan oleh Tuhan untuk menolong semua manusia di dunia ini. Sehingga aku terlalu dini untuk menginterpretasikan bahwa dia mungkin juga menaruh rasa yang sama padaku.

Awalnya aku pikir mungkin dia perhatian padaku. Dia memberikan apa yang ku mau. Mendengarkan setiap ceritaku dengan baik. Tetapi ternyata Ibu, semua itu bukan karena dia menyayangiku. Itu hanya karena dia baik. Ya, dia baik dengan semua orang.

Lup.. Dup.. Krek.. Lup.. Dup.. Krek..

Bunyi itu sungguh menggangguku. Aku benci suara retakan jantungku itu. Sebenci itu pula aku padanya. Meski sebenarnya Bu, aku sedang berusaha kuat untuk tidak membencinya. Karena bukankah “hakikat mencintai adalah mencintai, bukan berbalik membenci saat yang kau cintai tidak mencintaimu”? Ya aku sedang mencoba memahaminya sekarang.

Aku terlalu meletakkan banyak harap atau mungkin lebih tepatnya adalah khayalan dalam angan-angan. Bahwa aku dan dia akan bersama suatu hari nanti. Bahwa dia akan menjadi milikku dan sebaliknya.

Tanpa sadar bahwa aku perlahan-lahan sudah membunuh logikaku. Pun ternyata secara perlahan khalayanku itu membuat dentuman keras yang meretakkan jantungku.

Lup.. Dup.. Krek.. Lup.. Dup.. Krek..

Aku pikir jika ku diamkan saja retakan jantungku akan membaik. Namun ternyata tidak. Suaranya tetap sama sumbangnya seperti yang telah lalu-lalu. Aku justru makin menggantung harap tidak keruan. Semakin sakit, semakin retak dan tercecer kemana-mana.

Aku harus menghentikan semua ini bukan? Menghentikan rasa kagumku yang mungkin sudah memenuhi batas atas parameter normal. Aku harus memperbaiki interpreter dalam diriku agar aku tidak lagi salah dalam menerjemahkan kebaikan orang lain.

Satu-persatu aku akan mengambil angan-angan yang sudah ku gantung. Agar ia tidak meruntuhkan logikaku yang sudah perlahan-lahan terbunuh.

Lup.. Dup.. Krek.. Lup.. Dup.. Krek..

Benar kan Ibu yang aku katakan padamu? Bahwa ini bukanlah kisah yang merdu untuk didongengkan. Tidak cukup indah untuk dijadikan barisan dalam kata. Karena oh Ibu, aku sesungguhnya datang padamu untuk mengadu.

Ibu, bisakah kau datang? Membawakan aku obat merah dan meneteskannya di luka jantungku? Kemudian membalutnya dengan kassa. Seperti saat kau mengobati lukaku saat aku jatuh karena belajar berjalan di masa kecil.

Ibu, meskipun ini semua memang benar salahku, bisakah kau bantu aku? Untuk memungut kembali semua retakan-retakan jantungku ini? Memasangkan kembali kepada tempatnya. Agar nanti ketika irama jantungku sudah kembali, aku dapat kembali menggantung harap yang tak hanya sekedar angan-angan. Agar aku dapat kembali menaruh harapku kepada orang lain.

Lup.. Dup.. Krek.. Lup.. Dup.. Krek..

Bahkan sebenarnya jika aku boleh jujur kepadamu, Ibu. Aku sudah tidak lagi memiliki rasa percaya diri yang cukup. Untuk kembali menggantungkan harapku. Aku tidak ingin terlihat bodoh untuk kesekian kalinya.

Aku bahkan tidak yakin jika retakan ini ditata kembali akan bisa kembali dalam bentuk utuh seperti semula. Aku tidak begitu bisa menjamin apakah serabut-serabut jantungku akan mampu kembali mengaitkan retakan yang sudah Ibu bantu untuk menyatukannya.

Lup.. Dup.. Lup.. Dup..

Oh Ibu yang kepada bahumu aku selalu menyandarkan kepalaku, tetaplah disini. Tetaplah bersama dengan anak perempuanmu ini.

Sampai pada akhirnya nanti hanya akan ada dua irama dalam kesatuan itu yang terdengar. Suara normal dari jantungku yang berdegup. Maka aku berharap tidak akan ada lagi bunyi retakan lain lagi yang menganggu.

Sungguh memang kisahku bukanlah kisah yang merdu untuk didongengkan. Tidak cukup indah untuk dijadikan barisan dalam kata.

Namun ketika aku bersamamu, Ibu aku harap aku akan tetap mendapatkan epilog yang sempurna. Karena aku menginginkan, aku dapat menjadi anak perempuanmu yang kuat dan tidak melulu cengeng karena kisah cintanya.