Perasaan ini selalu datang menerpa tatkala aku berusaha untuk memejamkan mataku disaat malam menghampiri. Pikiran-pikiran yang datang silih berganti membuatku semakin tak bisa tidur. Do'a yang aku ucapkan sebelum tidur selalu disertai dengan tetesan air mata. Entah sudah berapa lama aku seperti ini.

Aku tau aku hanyalah seorang ABG yang sedang dimabuk asmara dan dibutakan oleh cinta. Tapi tetap saja, cinta dan perasaan itu bukanlah hal yang spele yang bisa diremehkan begitu saja. Apalagi perasaan itu diperuntukan kepada sorang pemuda di luar sana. Aku mencintainya, ibu.

Cinta pertama memanglah sangat indah, dimana kita merasa ada yang menyayangi dan memperhatikan. Indahnya jatuh cinta dimana kita akan saling mengucapkan selamat malam disaat kita hendak terlelap dan selamat pagi disaat kita membuka mata. Cinta membuat diri kita menjadi lebih baik. Membuat gadis yang cuek menjadi lebih perhatian, membuat gadis tomboy menjadi feminim, dan membuat gadis kesepian menjadi gadis periang.

Sekiranya itulah yang ada dipikiranku ketika aku merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Tapi semua berubah ketika orangtuaku mengetahui siapa pemuda yang aku cintai itu. Dia hanyalah seorang laki-laki dari keluarga yang berkekurangan, dimana ia harus membanting tulang sejak umurnya masih belasan tahun ketika remaja diusianya sedang bersekolah dan bermain ia harus berperang melawan rasa lapar dan teriknya matahari.

Social media mempertemukan aku dan dia. Di pertemuan pertama itulah dia sudah bercerita banyak tentang dirinya dan segala kekurangannya. Hari itu dan detik itulah yang selalu aku sesali hingga 5 tahun kebelakang ini, mengapa aku mencintainya?

Advertisement

Hari demi hari, bulan demi bulan pun berlalu. Aku jadi sering pulang terlambat sehingga orangtuaku curiga. Dan akhirnya mereka mengetahui hubungan kami. Bak seorang putri kerajaan jatuh cinta kepada seorang budak, tentu saja orangtuaku marah besar dan menolak hubungan kami. Hancur rasanya menyadari kenyataan itu. Dia terus berusaha agar aku tegar dan berusaha agar mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan bisa bersekolah lagi. Satu kata untuk saat itu ketika kami diterjang masalah “Jalani saja dulu”.

Ya kata jalani saja dulu membawa kami kuat menjalani hari-hari selama 4 tahun. Hingga orangtuaku sudah tak kuat lagi dan memanggil dia kerumahku. Aku tak pernah tau apa terjadi dan apa yang dikatakan oleh orangtuaku terutama ibuku saat itu. Yang aku tau hanyalah bahwa ibuku menangis dan memintanya untuk menjauhiku. Aku berlutut memohon-mohon agar mereka tak melarangku untuk mencintainya. Apa salah aku memiliki rasa cinta seperti ini?

Ibu maafkan aku telah membuatmu menangis, maafkan aku ta bisa memberikan apa yang engkau mau maafkan aku tak bisa memilih pasangan sementara ini. Maafkan aku.

Kita akhirnya mencoba untuk memutuskan hubungan ini, walaupun terasa sangat menyakitkan dan dunia terasa hancur aku harus bisa. Aku pindah keluar kota untuk melanjutkan studiku meninggalkan semua kenangan bersamanya dan meninggalkan ia di dalam keterpurukan cinta yang telah kami buat.

Hingga tak terasa 1 tahun telah berlalu, aku mencoba memperbaiki diriku. Aku mencoba untuk melupakannya, mengahapus bayang-bayang wajahnya di pikiranku dan membuang rasa yang pernah ada ini jauh-jauh.Tapi, aku tak bisa aku masih tetap mencintainya aku merindukannya, aku disiksa oleh perasaan sendiri, aku tak bisa menghilangkan rasa cintaku ini. Kuputuskan untuk kembali ke kampung halamanku dan berniat untuk menemuinya. Sekedar berbagi kisah selama aku berada diluar kota.

Aku kembali kerumah, aku memeluk kedua orangtuaku. Aku merasa gembira bisa bertemu mereka setelah sekian lama ini, tapi kebahagian itu berubah ketika aku melihat secarik kartu undangan pernikahan yang diperuntukan untukku. Bagai disambar petir disiang hari, aku seperti jatuh ke lubang yang sangat dalam dan diledakan begitu saja. Itu ternyata undangan pernikahan dia, ya dia yang aku cintai selama ini yang selalu aku rindukan yang selalu aku sebut di dalam doaku menikah dengan perempuan lain? Apakah ini mimpi? Bukan inilah kenyataan yang harus aku dapatkan setelah lamanya perjuanganku bersamanya mempertahan cinta ini dan inilah yang aku dapatkan secarik undangan bertuliskan nama dia dan perempuan yang belum pernah kudengar namanya.

Mengapa begitu cepat baginya mengganti perasaan cinta itu? Ketika aku masih berjuang untuk mendapatkan cinta kami lagi? Begitu mudahkan bagimu?

Aku memutuskan untuk tak datang keundangan itu dan memilih untuk berdiam diri dikamar. Tuhan mengapa aku seperti ini? Untuk apa aku tersiksa selama ini untuk seseorang yang berbahagia dengan seseorang lainnya?

Ibu, apa aku salah pernah mencintainya? Apa aku salah pernah berjuang untuknya? Apa aku salah memiliki perasaan ini? Apa aku salah selalu menyimpan rasa ini bahkan hingga detik ini?

Ibu maafkan aku, tidak mendengarkan apa yang engkau katakan. Maafkan aku ibu….