Ibu, apa kau masih ingat impianku dulu? Sederhana saja. Aku ingin jadi wanita dewasa yang tangguh sepertimu.

Ibu, apa kau makan dengan teratur di rumah? Kudengar kau sering sakit akhir-akhir ini. Rupanya, Ibuku tak setangguh dulu.

Ibu, kau tidak pernah mengajarkanku bagaimana caranya menjadi perempuan yang kuat. Tidak, bukan dengan mengajarkan. Kau membuatku belajar sendiri, dari caramu bertahan hidup, dari caramu menyembunyikan air mata, dari caramu berdiri saat sakit. Aku merekam segalanya dalam kepala kecilku, dan kau hanya diam tanpa pernah berkata 'Perempuan harus seperti ini dan itu'. Aku menyimpan semuanya dan berangan-angan bisa menjadi sepertimu saat aku dewasa.

Aku masih ingat betul, bagaimana Ibu berkata bahwa Ayah tidak jahat saat dia meninggalkan rumah. Bagaimana Ibu tak pernah membenci Ayah sekalipun dia menelantarkan kita di rumah. Bagaimana Ibu selalu membuka pintu setiap kali mendengar kabar Ayah akan pulang dari tetangga, meski itu hanya dongeng belaka.

Aku masih ingat betul, bagaimana Ibu berangkat pagi-pagi dan pulang selepas senja untuk menghidupiku. Bagaimana Ibu menempuh terik matahari dan dingin hujan, berkendara melewati batas-batas kota, tanpa pernah mengeluh kala rebah di sampingku. Aku hanya menatap Ibu dengan mataku yang sendu. Ibu tak pernah berkata Ibu lelah, tapi aku tahu, garis halus di bawah mata Ibu lebih dari sekedar kata lelah.

Advertisement

Aku masih ingat betul, betapa derai air mata Ibu jatuh sendu kala aku terbaring karena kenakalanku sendiri. Bagaimana kerasnya hardik Ibu karena ulahku sewaktu SMA. Betapa rendah suara Ibu memintaku untuk menjaga mahkotaku, dan betapa lunak nada bicara Ibu memintaku tak menyia-nyiakan masa mudaku.

Aku selalu mengeluh pada Ibu, bahwa hidupku sulit tanpa Ayah. Tapi Ibu hanya mendengarkanku. Kelak saat dewasa aku sadar, bahwa Ibu jauh lebih sulit membesarkanku tanpa Ayah.

Ibu ingat, hari pertama aku meninggalkan rumah? Ibu menangis karena aku memutuskan hidup terpisah dengan Ibu. Aku beralasan ingin hidup sendiri selepas SMA, jauh dari kota kecil kita, dan berhenti bergantung pada Ibu. Saat itu, Ibu mengukir rasa takut paling besar di ambang pintu, sedangkan aku adalah anak paling angkuh. Kupikir, aku bisa hidup di luar sana tanpa tersesat.

Ibu ingat, bulan demi bulan aku tak pernah menghubungi Ibu? Hanya pesan-pesan singkat kukirim, sekedar memberi kabar bahwa aku baik-baik saja. Sedangkan Ibu terus bertanya, aku tahu firasat Ibu melebihi kelihaianku berdusta.

Waktu terus berjalan sedangkan aku semakin terlunta. Di sela hening malam aku merangkai tanya, "beginikah kehidupan orang dewasa?" "sesulit inikah hidup tanpa orang tua?" "seberat inikah waktu yang Ibu lalui dulu?"

Ya, aku gagal membuktikan bahwa aku bisa menjadi wanita tangguh seperti Ibu.

Bahkan hal-hal kecil pun melumpuhkanku.

Aku tak sekuat Ibu saat tubuhku kubanting keras mencari rupiah, bahkan untuk diriku sendiri. Aku bahkan lumpuh hanya karena cinta memporak-porandakan hatiku, jauh berbeda dengan Ibu yang begitu tegar saat Ayah meninggalkan kita. Aku juga menangis seperti bayi saat teman-temanku menjauh, tak seperti Ibu yang tabah saat tetangga memfitnah Ibu dengan tuduhan macam-macam. Kita ternyata jauh berbeda. Aku ternyata hanya pecundang, dan Ibu terlalu malaikat untuk kutandingi.

Aku ingin pulang dan kembali ke pelukan Ibu. Sejenak, aku ingin kabur dari dunia orang dewasa. Aku hanya ingin lelap di pangkuanmu seperti anak kecil yang lupa pada umurnya.

Ibu, kapan waktu yang tepat untukku pulang? Aku ingin menyerahkan tubuhku yang terlampau lelah, dan memelapkan kepalaku yang sudah begitu berat. Masih pantaskah aku pulang dengan timbunan kesalahanku, dan noda-noda di tubuhku? Seandainya waktu bisa kuulang, aku ingin belajar lagi dari awal, di sampingmu. Karena ternyata, aku tak mampu dewasa tanpamu.