“Tolong jaga dan urusin bapak ya kalau Ibu sudah tidak ada, kasih makan, kalau sakit suruh minum obat biar tidak sengsara seperti Ibu,” ucapnya dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipi. Mungkin inilah pesan terakhir yang terus terbayang-bayang olehku sampai saat ini.

Hati berdebar dan jantung seakan berhenti sejenak untuk berdetak ketika kata-kata itu terlontar dari mulut Ibu. Ia yang sedang merintih kesakitan seperti sudah mengetahui bahwa malaikat pencabut roh sudah menunggu di ambang pintu.

Sambil menekankan jari-jariku di punggungnya, akupun berkata, “Iya bu, aku akan jaga bapak. Janji,” Aku berlagak tegar ketika kalimat itu keluar dari mulutku. Namun, dalamnya lubuk hati ini siapa yang tahu? Hatiku teramat sedih di kala sore yang gerimis dan awan hitam yang pekat mulai menggumpal. Sepertinya, alam pun seakan menggambarkan betapa sedihnya hatiku kala itu.

Aku agaknya tak kuat berlama-lama di dalam rumah. Terus –menerus melihat keadaan Ibu yang tidak bergairah lagi untuk menjalani hidup, tatapan matanya yang kosong, terlihat sering melamun, dan akupun tak tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya. Lantas, akupun keluar rumah mencari tempat bernaung untuk sekedar menghibur layunya hati ini.

Ibu adalah sosok penolong bagi setiap anaknya walau kadang derita sering kali melanda. Ibu selalu mengantar-jemput selagi aku duduk di bangku sekolah dasar, dan meneguk segelas es teh manis di depan sekolah saat menunggu aku kelar dalam belajar. Berawal dari seringnya ia meneguk segelas es teh manis tersebut, ia harus menerima kabar buruk dari dokter bahwa ia terkena diabetes atau sering disebut juga sakit gula.

Advertisement

Sepuluh tahun ia berjuang melawan penyakit diabetes yang menjalar hingga rusaknya fungsi ginjal. Berbagai macam pengobatan telah dijalaninya, dari medis sampai alternatif. Namun apa daya, Tuhan belum sekalipun memberinya kesembuhan untuk cobaan yang diberikan-Nya. Mungkin inilah skenario dari Maha Sutradara kehidupan yang selalu menghadirkan kejutan di setiap takdir manusia.

Bagai lagu Iwan Fals yang berjudul ‘Ibu’ pada bait ketiga yang berbunyi, “Ibuku sayang masih terus berjalan walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah.” lagu itulah yang menggambarkan sosok Ibuku saat berjuang melawan penyakit yang diderita dan berharap kesembuhan datang bersama keajaiban.

“Kalau Ibu sembuh, Ibu mau bikin selametan buat orang-orang sekomplek. Bikin aja nasi kuning dua liter, terus dibagi-bagiin ke tetangga deh,” tuturnya dengan penuh harap. Kalimat itu seringkali keluar dari mulutnya, seperti doa yang terucap diluar proses peribadahan namun tak kunjung terkabul.

Tiga hari setelah pesan terakhir itu terucap, tepatnya di hari Minggu. Saat itu aku sedang terlelap tidur dan sedang bermain-main di alam mimpi. Tiba-tiba bapak kandungku membangunkanku dan berucap “Bangun, cepat sana mandi, ada sesuatu yang harus bapak kabarkan padamu,”

Akupun terbangun dan bergegas menuju kamar mandi dalam keadaan yang masih mengangut. Air mengucur dari pancuran dan akupun bergeming memikirkan kata-kata bapak kandungku. Dan tersadar, setelah terdengar ketukan dari pintu kamar mandi.

Ketika membuka pintu, terlihat sosok ibu kandungku yang sudah bercucuran air mata dan berkata, “Sing sabar yo le, ibu asuhmu wis ra ono (yang sabar ya nak ibu asuhmu udah engga ada),” setelah itu aku pun bungkam seribu bahasa dan menahan segala duka di dalam dada, mencoba untuk mengikhlaskan karena sekali lagi, itu jalan terbaik yang diberikan oleh yang Maha Kuasa.

Ibu meninggal di pangkuan bapak asuhku tatkala menjalani terapi pengobatan alternatif. Saat itu ia berucap, “Pak, Ibu sudah tidak kuat lagi,” sesaat kalimat itu terlontar, Ibu langsung menghembuskan nafas terakhirnya. Sontak, bapak asuhku memberinya nafas buatan, tetapi usahanya tidak berhasil dan atas nama cintanya, Bapak asuhku mengikhlaskan ia pergi untuk selamanya.

Walau dia adalah Ibu asuhku yang mengurusiku sejak aku dilahirkan, tetap saja ia telah kuanggap sebagai orangtua kandung yang darahnya mengalir di tubuhku karena air susunya telah mengalir dalam ragaku. Ia tak segan untuk memberi air susunya kepadaku-yang notabenenya adalah orang yang tidak mempunyai hubungan darah dengannya-ketika aku sedang menangis dan orangtua kandungku sedang tidak ada di rumah.