Bolehkah aku menceritakan sedikit cerita panjangku?

Terimakasih jika jawabanmu adalah 'ya'

Sebelumnya ku awali dengan pembukaan yang kamu pasti tahu akan kemana ujungnya. Seharusnya kamu sudah tahu benar bagaimana perasaan ini padamu. Cinta tidak akan menjadi benar serumit ini jika memang bukan kita berdua pemeran utamanya. Dahulu jatuh cinta, menangis, dan kembali bangkit menjadi hal biasa yang seharusnya begitu mudah untuk aku lakukan. Dulunya kisah cinta menjadi hal yang mudah dan sepele bagiku.

Namun karena karma sudah memilihku untuk menjadi target mereka, untuk diremuk dan hancurkan karena cinta, aku jatuh kedalamnya. Sudahkah aku nampak seperti bocah ingusan yang membicarakan cinta monyetnya? Atau sudahkah aku nampak seperti kisah-kisah sinetron bodoh tentang cinta yang muluk-muluk? Tak perlu kau jawab, karena aku rasa iya.

Dulunya aku menganggap jatuh cinta padamu tidak akan pernah sesederhana dan serumit ini. Sesederhana pandangan mata, namun serumit pelik didalamnya. Pernah aku memilih pergi karena hatimu telah ada yang memiliki. Namun ketika hati itu kembali kosong lagi, sumbu ini kembali tersulut api.

Advertisement

Dan kepala ini mulai menggaungkan "Bolehkah aku mencintaimu sekali lagi?" Dan awalnya aku tahu, ini hanya akan menjadi cinta biasa tanpa alasan dan akan sementara. Akan mudah menghapusnya, akan mudah menggantikannya. Namun masalah datang silih berganti semenjak hati ini siap untuk jatuh cinta lagi.

Dulunya telah rapat kukunci, namun sosokmu kembali membuatku tak terkuasai. Dulunya aku muak dengan cinta yang selalu begini dan nampak benar hanya seperti nafsu birahi. Dulunya cinta yang tumbuh dihati tak pernah benar murni. Hingga hati ini berani untuk menyambutmu kembali, dan mengetuk pintu itu untuk pertama kali, berharap kau persilahkan masuk diri ini.

Rasanya betul berbeda dengan yang dulu pernah kurasa. Kali ini aku merasa benar kacau. Sikapmu yang bak sungai entah kemana bermuara terus menimbulkan pertanyaan. Sebentar dingin, namun sebentar menyejukkan. Tidak. Sedikitpun kehangatan tidak pernah aku rasa disana. Selalu saja dingin. Namun kadang akan terasa bedanya antara dingin, dengan menyejukkan.

Sikapmu benar tidak mudah ditebak. Berkali-kali hati ini kau buat panas dan memarah. Berkali-kali kau memaksaku untuk membencimu. Namun toh akarnya sudah tertanam dan tertancap terlalu kuat. Padahal kamu bukan pria yang sempurna. Jika dihitung, mungkin akan banyak kekurangan yang ada padamu, sekalipun milikku akan tetap lebih unggul. Namun tetap saja hati ini selalu kembali.

Banyak yang mengataiku bodoh, bahkan tolol. Karena seharusnya bukan hal yang rumit untuk dapat bengkit dari keterpurukan cinta. Namun mereka bukan aku, dan mereka bukan kamu. Jika benar mereka rasakan yang aku rasakan, mungkin untuk sekedar mengucap 'move on' akan sulit. Bukan tidak mampu, tapi hati ini terlanjur pahit dan bosan. Beribu cara sudah dilakukan dan dicoba.

Membencimu bahkan sudah menjadi jadwal yang wajib ku ingat. Tapi tetap hasilnya sama saat mata ini tak sengaja tararah padamu, atau hanya sekedar mendengar namamu. Tenang, bahagia, itu yang terasa. Seperti kembali pulang kerumah setelah pergi entah kemana jauhnya. Jika memang bukan jodoh (karena aku tidak ingin berpikir juga berkhayal terlalu jauh), ajaran apa yang Ia ingin kembali berikan untukku melaluimu?

Bahkan saat lutut ini bertelut dan tangan ini melipat, saat doa kupanjatkan, selalu kupinta jawaban dari-Nya, "Apa yang harus aku lakukan?" Dan pertanda-pertanda yang Ia beri justru membuat hati ini berkecamuk. Karena tanda yang Ia beri, selalu terbanding berbalik dengan tingkahmu. Aku terus memperhatikanmu dari kejauhan, mempelajari benar burukmu, memperhatikan indahmu, apa yang harus aku lakukan? Apa?

Karena setiap kucoba membencimu, hati ini semakin terpikat. Akhirnya aku memilih untuk mengalir. Namun saat hati ini mengalir, tetap tidak ada yang berubah. Kucoba cara lain untuk menjauh dari hidupmu, namun tetap saja selalu tak bisa. Segala ketidak sengajaan dan segala hal ini membuat segalanya kian menjadi rumit.

Aku rasa cukup. Bercerita panjang hanya akan membuatmu bosan. Aku terus menulis hanya untuk meluapkan apa yang aku ingin katakan. Tidak langsung padamu, namun pada mereka. Yang entah akan mengerti, atau akan menghujat diri ini. Terimakasih.