Senang rasanya bisa menyapamu kembali. Laki-laki dengan suara tenang yang selalu bisa membuat hidupku terasa lebih hangat. Aku paham betul, banyak hal dalam hidupku terasa lebih indah sejak kita saling mengenal. Bagiku berbincang-bincang sejenak denganmu sesaat setelah kau pulang kerja adalah kemewahan yang begitu berarti.

Berceloteh ringan mengenai kegiatan pada hari itu, mengeluhkan rasa lelah yang merayap di sekujur punggungmu setelah seharian berkutat di depan komputer, hingga rencana masa depanmu. Sungguh, saat itu aku merasa sangat beruntung menjadi wanita yang kau percaya menjadi tempatmu berbagi cerita. Nyaman rasanya mendengarkan suaramu walaupun itu hanya lewat telepon. Dunia terasa jauh lebih cerah ketika dari ujung telepon sana kau mau membagi sedikit waktu istirahatmu untukku.

Kau adalah sosok yang selalu ku rapal dengan segenap hati disiang dan malamku. Menjelma menjadi rasa rindu yang seolah tak ada habisnya. Ingin rasanya selalu berada di sampingmu, menjaga agar senyummu tetap ada di wajah teduhmu. Menyiapkan secangkir kopi dan sepiring bolu pisang hangat kala kau harus begadang demi menyelesaikan setumpuk pekerjaan. Atau dihari Minggu pagi dengan senang hati aku akan memasakkan sayur asam lengkap dengan ikan asin goreng kesukannmu, kedua jenis masakan yang akan mengingatkanmu pada sosok Ibu di kampung halaman.

Nyatanya itu hanya akan menjadi impian yang sulit terwujud. Tiba-tiba kau telah berubah menjadi sosok asing yang begitu dingin. Tak ada lagi suara tenang itu. Aku tertegun, duniaku berlahan berubah menjadi abu-abu tanpa bisa ku hentikan. Kau semakin menjauh. Bukannya aku tanpa usaha dan membiarkanmu berlalu begitu saja, namun semua usahaku untuk mendapat kejelasan darimu kau abaikan dengan entengnya.

Ada yang terasa hilang dari hidupku. Matahari itu berlahan tertutup mendung. Jiwaku menjerit kelu. Aku seperti ombak tanpa pantai untuk berlabuh. Dengan berat hati aku harus merelakanmu. Membiarkan separuh jiwa ini menguap hilang. Dengan paksa aku harus meremukkan harapan dan kenangan manis tentang kau dan aku. Setelah itu aku tertatih melangkah nanar. Sekelilingku terasa asing tanpa kau. Mati-matian aku melawan rasa rinduku padamu.

Advertisement

Berbagai prasangka berkecamuk. Adakah sesuatu yang sangat kau cari dan itu tak kau temukan pada diriku? Adakah gadis lain yang telah berhasil mencuri perhatianmu? Kalaupun kau ingin pergi, aku tak akan sanggup menahanmu, namun paling tidak jangan pergi tanpa pamit. Bukankah segala sesuatu yang dimulai dengan niat baik bila harus berakhir seharusnya masih bisa diselesaikan dengan baik pula?

Akhirnya aku di sini terjebak oleh rasa rinduku sendiri. Entah bagaimana menjelaskan rasa rindu yang telah demikian mengangah. Rindu pada orang yang tak lagi memiliki rasa yang sama. Rindu pada laki-laki yang menganggapmu tak ada lagi dalam hidupnya. Rindu yang telah mengakar sedemikian kuatnya. Sepertinya mustahil bagiku untuk menepikan rindu itu begitu saja. Meski ku tahu kau tak lagi merindukanku, perkenankan aku tetap merindukanmu.

Bukankah cinta yang sesungguhnya itu memberi tanpa pamrih? Itu saja.