Teruntuk sahabat yang pernah kusayangi..

Aku tau begitu banyak pertimbangan yang sudah kau pikirkan sehingga akhirnya kau memutuskan untuk menikah dengannya, walaupun sebenarnya hatimu menginginkan aku untuk menjadi pendamping hidupmu. Kita sudah bersahabat sejak kecil dan jauh sebelum kau mengenalnya. Kita pernah mencoba untuk bersama tapi restu itu yang tak kunjung didapat. Ya, restu keluarga adalah salah satu faktor terbesar tak bisa dilanjutkannya hubungan kita lebih dari sahabat, yang akhirnya kita harus masing-masing saling merelakan.

Ikhlas adalah satu-satunya cara kita untuk saling merelakan..

Hari bahagiamu kini telah tiba dan kau terus memintaku untuk hadir di hari itu. Kau berkata suatu keharusan untukku turut hadir di hari nan sakral itu. Dengan berdiri tegak kusunggingkan senyum terbaikku untuk pernikahanmu. Kini akhirnya kulihat lagi senyummu yang merekah, senyum yang sudah lama tak kulihat dan senyum itu kini menghiasi hari bahagiamu, dan aku pun tau senyum itu bukan lagi untukku.

Terasa menyenangkan melihat dirimu bahagia

Hidup bersamanya, Ku doakan bahagia untuk selamanya

Walaupun diriku tak bisa untuk memilikimu

Bila kau bahagia aku bisa apa (astrid_aku bisa apa)

Advertisement

Saat ijab sudah diikrarkan, aku hanya bisa tersenyum dengan mata berbinar untuk kebahagiaanmu. Walau memang kenyataannya begitu sulit untukku, tapi aku turut bahagia untukmu. Semoga kebahagiaan selalu mengelilingi kehidupan kalian.

Dari aku, sahabat masa kecilmu 🙂