Kemarilah.. Mampir sebentar. Aku akan membuatkan secangkir teh hangat dengan sedikit gula untukmu.

Catatan ini untuk kamu yang benar-benar akan aku buatkan secangkir teh hangat dengan tambahan sedikit gula jika suatu saat kamu mau singgah sebentar ke rumahku. Dan aku akan menemanimu ngobrol sambil menikmati datangnya senja di Yogyakarta.

Rasanya masih begitu melekat di ingatanku. Sikapmu yang begitu dingin. Bibirmu yang lebih sering diam. Senyum kecilmu yang sangat mahal untuk sekedar kau tebar untuk orang di sebelahmu.

Yaa.. Kamu.. Yang pernah dua kali bersamaku berdoa bersama di hadapan Tuhan saat itu. Sayangnya saat itu aku belum sempat berpikiran untuk memintamu kepada Tuhan supaya menjadi jodohku.

Tapi ketika kita sudah terpisah di tempat tugas yang berbeda kenapa aku baru merasakan anomali? Rasa yang begitu berbeda kepadamu. Kamu sosok laki-laki dewasa yang aku akui kerap membuatku begitu terpesona.

Advertisement

Jujur.. Ingin sekali aku menyanyikan lagu “Jatuh Hati” yang dinyanyikan Raisa untukmu..

Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir tapi bukan ciummu tapi sikapmu. Aku terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia. Aku harap suatu saat kamu akan tahu bahwa aku terinspirasi hatimu. Dan semoga aku bisa memilikimu.

Aku begitu jatuh hati dengan sikapmu dan caramu memandang setiap permasalahan hidup. Mungkin juga karena usiamu yang lebih tua dariku. Tapi bukannya usia tidak bisa dijadikan jaminan kedewasaan seseorang? Kawanku yang berusia lebih darimu saja masih kerap kali berpikiran seperti anak-anak.

Kamu adalah sosok laki-laki dewasa yang bisa menenangkan aku ketika aku begitu ribet dan gelisah untuk beberapa permasalahan yang aku hadapi. Kamu seringkali cuek dengan cerita yang ingin aku bagikan kepadamu. Aku juga menanggapinya dengan seperlunya saja, bahkan kamu terkadang hanya menertawakan saja. Agak sebel sebenernya dengan tanggapanmu itu. Tapi ya mau bagaimana lagi kalau memang seperti itulah sikapmu.

Aku sering ingin senyum-senyum sendiri kalau mengingat sikapmu yang sering sekali speechless ketika aku menggodamu. Seperti yang aku pernah baca di sebuah situs internet. Sikap laki-laki yang salting itu sering menggemaskan dan ternyata memang benar. Kamu menggemaskan dan mempesona.

Memang terlalu cepat dan terlalu berharap. Semoga harapan yang terlalu besar ini tidak membawa luka yang dalam dan sakit yang begitu memilukan. Maaf kalau saat ini aku sudah terlalu jauh untuk membayangkan kita berdua berjodoh. Maaf kalau aku sudah sering senyum-senyum sendiri karena beriimajinasi tentang bagaimana gugupnya aku ketika kamu membawaku ke orangtuamu dan mengenalkan aku sebagai perempuan yang kamu pilih. Aku bahkan sudah membayangkan ketika datang ke rumahmu pertama kali dan diajak memasak bersama ibumu.

Maaf. Sepertinya aku telalu lancang untuk memikirkan semua ini. Imajinasiku terlalu jauh untuk membayangkan semua hal ini. Sedangkan di sisi lain aku pun belum tahu bagaimana perasaanmu kepadaku. Mungkin yang selama ini kamu lakukan hanya euforia semata, yang dilakukan seorang laki-laki yang ingin tahu seperti apa perempuan yang pernah ia lirik.

Kalau yang kamu lakukan itu hanya sekedar untuk ingin tahu saja, lalu bagaimana denganku? Aku sudah terlanjur jatuh hati padamu. Aku sudah terlanjur sangat kagum dengan sosokmu. Aku sudah terlanjur menyebutmu dalam doa, meminta Tuhan supaya menjadikanmu sebagai jodohku. Apa kamu akan pergi begitu saja?

Tidakkah kamu terbeban untuk bertanggung jawab atas semua rasa yang tidak pernah aku tanam tapi karena kamu, rasa itu menjadi tumbuh begitu saja. Padahal aku tidak pernah menginginkannya?

Aku sudah sangat mengharapkanmu. Catatan dalam evernoteku pun penuh dengan cerita tentangmu. Orang yang aku ceritakan kepada kawanku pun juga kamu, walau aku tidak pernah menyebut nama aslimu. Dan laki-laki ke-3 setelah bapak dan adikku, yang aku sebut dalam doaku itu kamu. Sosok laki-laki yang selalu aku minta kepada Tuhan supaya menjadi jodohku. Apa mungkin Tuhan tega membiarkan kamu berjodoh dengan orang lain?

Tuhan.. Aku mohon sekali. Jangan jodohkan dengan orang lain ya. Aku mau yang ini Tuhan. Aku sudah lelah mencari-cari. Aku sudah lelah berkali-kali jatuh hati kemudian dikecewakan. Aku sudah lelah berjuang tapi ternyata yang aku perjuangkan tidak pernah dikehendaki Tuhan.

Semoga kamu. Orang yang memang bukan yang pertama tapi aku harap kamu adalah orang terakhir yang Tuhan kirim untuk menggenapkan aku. Aku tidak ingin kamu berjalan di depanku, karena aku tidak bisa melihat wajahmu dan mungkin saja aku tidak bisa mengimbangi cepatnya langkahmu. Aku juga tidak ingin kamu berjalan dibelakangku, karena aku tidak mau terus menoleh ke belakang hanya untuk memastikan kamu masih terus di belakangku. Aku mau kamu berjalan di sampingku, beriringan denganku. Membiarkan aku selalu ada di sisi kirimu, memegang erat lengan kirimu.

Jika suatu saat rasa lelah mendera kita dalam perjalanan, maka ayo kita berhenti sejenak untuk beristirahat. Jika suatu saat peluh keringat bercucuran ketika kita dalam perjalanan, izinkan aku menjadi orang pertama dan satu-satunya yang akan mengusap butir-butir keringan di dahimu. Ketika suatu saat perjalanan dunia terlalu dingin untuk diteruskan, maka aku mohon untuk kita sejenak berhenti. Aku akan memeluk erat kamu, supaya semua terasa lebih hangat dan kita bisa melanjutkan perjalanan.

Aku sangat berharap bahwa perjalanan kita bukan hanya tentang aku dan kamu, tapi kelak akan ada malaikat-malaikat kecil yang Tuhan titipkan pada kita. Anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Anak-anak yang akan menjadi pengobat lelah selain aku, ketika kamu pulang bekerja.

Sepulang kamu bekerja, aku dan malaikat-malaikat kecil kita akan menyambutmu dengan suara riuh dan secangkir teh hangat dengan sedikit gula.

Maaf kalau aku sudah berimajinasi terlalu jauh tentang aku dan kamu, yang sebenarnya belum tentu akan menjadi “kita”. Tapi ijinkan aku terus memohon kepada Tuhan supaya kita berdua berjodoh, sambil kita terus bersama-sama memperbaiki diri.