Indahnya parasmu hanya menggugah mataku, tidak dengan hatiku. Tidakkah kau mengerti mahkota jika sudah waktunya pasti akan berkarat? Percuma kau mencoba untuk mengetuk pintu yang kuncinya saja kau pun tidak punya. Pesona akan parasmu tak bisa menghipnotisku walau seindah apapun itu, karena hatiku tidak tumbuh oleh pupuk pupuk cinta semacam itu.

Indahnya matamu mungkin bisa memuaskan hasratku, tak begitu dengan hatiku. Jika yang kau pinta hanyalah cinta sesaat, aku bisa berikan. Tapi jika kau meminta lebih dalam, berikan aku lebih dari sekedar topeng, sayang. Orang bilang itu tak biasa, memangnya apa yang kau tahu tentang biasa? Mungkin hembusan angin mempertunjukan kehalusan rambutmu, mungkin cahaya rembulan mempertontonkan betapa manisnya dirimu, mungkin bunyi kamera memunculkan keindahan tubuhmu, tapi cinta tidak selucu itu, kawan.

Karena yang kutahu, dirimu yang terpoleskan keindahan semu itu mungkin menginginkan sesuatu, cinta tanpa takut terjatuh. Apakah kamu setega itu menghancurkan kemurniannya dengan kepalsuan mahkota yang selalu kamu poles, dan lama kelamaan kemurnian itu terpoleskan dengan ego setinggi gunung yang tak ingin ditaklukan. Tak semua yang berkilau itu indah, untuk apa mementingkan ego diatas kebahagiaan yang mutlak. Walaupun di dunia ini tidak ada hal yang benar benar mutlak.

Cobalah, sekali dalam hidupmu, coba cari kunci pintu yang tidak semua orang tahu atau pun tertarik bahwa dibalik pintu itu ada pelangi. Dan kau pun akan tahu, tidak semua pintu berdekorasi permata menjanjikan keindahan di dalamnya.

Would you stay if you knew the facts were being disguised by delusive mind?