Kisah ini berawal dari sebuah film yang kutonton sekitar setahun yang lalu di tengah liburanku yang sangat membosankan. 5 cm, ya kalian semua pasti tahu film ini. Film yang diangkat dari salah satu novel best seller karya Donny Dhirgantoro ini diawali dengan sebuah quotes “Bangsa yang besar ini juga harus punya mimpi”. Kisah perjalanan 5 sahabat ke Semeru, dengan cerita tentang kekaguman akan ciptaan Tuhan, kekayaan Indonesia yang luar biasa, rasanya sanggup menghipnotisku untuk ingin merasakan posisi yang sama dengan mereka.

Hampir sebulan setelah aku menonton film tersebut, aku menerima ajakan untuk mendaki Semeru dari seorang kakak yang aku kenal di UKM kampus. Berbekal izin kepada ayahku, aku pun membulatkan tekadku untuk berangkat. Tidak ada persiapan fisik apapun yang kulakukan dan sebagai pemula aku hanya bermodal keinginan kuat dalam hati.

Banyak kejadian menarik di perjalanan menuju Malang sampai pada akhirnya memulai pendakian menuju Mahameru. Satu hal yang paling berkesan adalah poster 50 cm yang aku dapati dipasang di tempat pembelian souvenir di Pasar Tumpang, bukti kekesalan masyarakat setempat kepada para pendaki amatir yang meninggalkan sampah di Semeru. Melihat itu aku berjanji dalam hatiku tidak akan merusak selama pendakianku.

Saat menuju Ranu Pani, terbersit di ingatanku kata-kata, “Kita dapat salam dari Indonesia”. Aku takjub, merinding, terkagum-kagum. Pernyataan itu benar adanya. Indah luar biasa. Setelah mengurus administrasi di Ranu Pani, kami memulai pendakian. Kaki ini melangkah dan belum apa-apa aku sudah lelah. Beban carrier yang rasanya beratnya hampir setengah berat badanku menjadi salah satu penghambat terbesar. Sudah malam hari saat nafasku sudah mulai setengah-setengah, “Hei lihat, bintang di atas sana”, seseorang teman berteriak. Ya Tuhan, hatiku takjub. Pernahkah kalian melihat bintang, rasanya begitu dekat dengan kalian, banyak, bersinar terang, cantik luar biasa sobat. Aku terkagum-kagum, lama kupandangi langit penuh bintang itu. Semangatku penuh kembali dan melanjutkan perjalanan.

Kami berencana untuk mendirikan tenda di Ranu Kumbolo. Namun, tiba-tiba kabut dan hujan deras melanda. Kondisi yang tidak mendukung membuat kami memutuskan untuk membangun tenda di Pos 4. Paginya saat aku terbangun, aku dihadiahkan pemandangan Ranu Kumbolo yang sangat indah. Danau nan elok yang ada di hadapanku saat itu benar-benar menakjubkan. Sekali lagi aku terkagum-kagum. Jantungku berdecak, memuji Tuhanku. Pemandangan yang sangat indah, tidak seperti saat aku bangun di kosanku yang begitu keluar pintu langsung ketemu pintu lagi.

Advertisement

Setelah sarapan pagi dan re-packing, kami melanjutkan perjalanan menyusuri Ranu Kumbolo, tanjakan cinta, Oro-oro ombo, Cemorokandang, serta Jambangan. Kami tiba di Kalimati sekitar pukul 16.30. Kali ini kami menerima salam dari Mahameru. “Mahameru, I.m coming”, teriakku girang mendapati diriku semakin dekat dengan puncak tertinggi Jawa tersebut.

Pukul 11.30 kami memulai pendakian menuju puncak. Diawali dengan doa, yel-yel yang entah mengapa jauh lebih semangat dari biasanya, aku bertekad untuk harus sampai di Mahameru. Kami menyusuri Arcopodo yang berbatu-batu dicampur pasir, seolah pertanda bahwa memang kami semakin dekat dengan puncak. Aku ingat betul pesan salah seorang temanku yang sudah pernah mendaki. “Perjalanan menuju puncak itu paling berat, tidak ada apa-apanya dibanding ke Ranu Kumbolo atau Kali Mati. Jalurnya pasir, jadi naik 2 langkah turun 1 langkah karena pasirnya lengser. Ke puncak itu cuma modal tekad Mon. Kalau kamu yakin bisa pasti sampai puncak, tetapi kalau tidak lebih baik tidak usah dari awal.” Aku melangkahkan kakiku. Kuucapkan doa Bapa Kami, Salam Maria, dan Kemuliaan dalam hatiku.

Ternyata memang benar sesulit itu. Seperti kucing aku merangkak ke atas. Kuraba batu yang sekiranya bisa menjadi peganganku. Kuikuti jejak orang yang ada di depanku agar aku merasa aman. Nafasku tersengal-sengal. Rasanya tinggal setengah lagi nafasku. Lelah luar biasa tetapi kalau berhenti dinginnya juga luar biasa. Kakiku gemetaran, tetapi pelan-pelan kulangkahkan lagi kakiku yang sudah sakit. Targetku untuk melihat sunrise dari puncak rasanya tidak terwujud. Di tengah perjalanan sekitar pukul 05.00 matahari mulai menampakkan dirinya di ufuk timur. Bisa kalian bayangkan bagaimana indahnya, langit yang berwarna keemasan saat itu. Segera, semua hal di sekelilingku terlihat. Di sebelah kiri gemerlapnya Kota Malang menyapa ditemani ribuan bintang yang menghampar di langit. Aku menarik nafas dan berhenti sejenak. Aku bersyukur dalam hatiku. Luar biasa indah. Benar-benar indah. Awan pun kini berada di bawahku. Saat aku serasa bisa menggenggam matahari yang baru saja terbit pagi itu. Sedekat itu sampai aku benar-benar dapat merasakan kehangatannya dan harapan dari padanya.

Nafasku tersengal-sengal. Kali ini matahari sudah menunjukkan dirinya seutuhnya sehingga keadaan sudah sangat terang. Puncak itu sudah benar-benar di hadapanku sekarang. Aku bergegas. Tak sabar rasanya aku ingin mencapai Mahameru. Batu-batu di sekelilingku semakin besar. Rasanya semakin dekat. Kulangkahkan kakiku dan begitu sampai aku bersujud, berterima kasih pada Tuhan.

“Aku bersyukur atas karuniaMu Tuhan, ciptaanMu sungguh sangat amat teramat luar biasa membuatku mencintai dan bangga pada Tanah Air ku Indonesia. Disini, di puncak tertinggi Jawa, aku berjanji, kelak aku akan menjadi berguna untuk bangsa ini, dan berguna untuk orang-orang di sekitarku.”

Tak habis-habisnya rasa syukurku. Benar, memang benar sekali. Mahameru dengan segala keindahannya memberikanku arti sebenar-benarnya tentang kebesaranMu Tuhan, atas segala ciptaanMu yang sangat luar biasa, atas segala karyaMu yang tiada tara, luar biasa indah; memberikan arti sebenar-benarnya bahwa Tanah Airku Indonesia ini masih punya harapan, banyak hal yang bisa dibanggakan darinya; serta memberikan arti sebenar-benarnya terkait mimpi dan cita-cita yang memang patut dan harus diperjuangkan.

Semua tulisanku ini tidak ada artinya dibanding semua hal yang aku dapatkan selama perjalananku menuju Mahameru. Tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, hanya takjub menyaksikan sungguh besar Tuhan, dan betapa kecilnya aku sebagai manusia. Hanya terkagum-kagum melihat Indonesia dengan segala keberagamannya, dan berusaha berterima kasih untuk Indonesia.

Aku tertawa kecil dalam hatiku. Janjiku, walau hanya kuucapkan dalam hatiku, akan kupenuhi. Akan kugapai mimpi itu sampai aku benar-benar bisa meraihnya. Pengalaman ini tidak akan kulupakan seumur hidupku, dan akan kuceritakan kepada anak-anakku kelak.

Aku bersama teman-temanku di MAHAMERU…

Pendakian berakhir. Saat perjalanan pulang, langkah kakiku terasa ringan karena tujuanku sudah tercapai. Kami tiba di Ranu Pani sekitar 01.00 dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Pasar Tumpang. Malam itu aku berdoa. Berterima kasih pada Tuhan atas pengalaman berharga yang kudapatkan dan atas keselamatan yang kudapat dari awal sampai akhir perjalananku. Tidurku kali itu sangat nyenyak dan hatiku damai.

#IniPlesirku