Kisah Rio Haryanto yang berjuang supaya mendapatkan dukungan pemerintah untuk berlaga di F1 sempat jadi trending topic beberapa waktu yang lalu. Cerita itu menarik perhatian saya karena salah satu kisah mirisnya *katanya* adalah ketika Rio berhasil menyabet juara 1 di Turki namun saking unpredictable-nya peristiwa ini… panitiapun tidak memiliki bendera merah-putih dan lagu kebangsaan kita, Indoensia Raya. Jadi, sebagai gantinya, bendera Polandia yang warnanya putih-merah itu dibalik biar jadi sang saka merah putih dan Rio nyanyiin sendiri lagu Indonesia Raya….. Membuat hati miris, mata berkaca-kaca banget, 'gak sih? :’)

Nah, itu hanya satu hal kecil dari seberapa uniquely special-nya kunjungan ke Polandia bagi saya pribadi. Sisanya, mungkin disebabkan terbuktinya pepatah yang kira-kira begini bunyinya "…people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel" Sebuah tempat juga mungkin membuat kita merasa demikian, kita bisa saja lupa dengan detil dari kunjungan kita atau detil peristiwa yang terjadi di tempat tersebut, namun kita akan sulit melupakan apa yang kita rasakan ketika berada di sana. Bagi saya, rasa itu adalah rindu. Rindu tanah air.

Hal-hal kecil selama menjelajah negara itu membuat saya ingat rumah. Saya berkunjung pada bulan Januari 2016. Polandia adalah tujuan berikutnya setelah satu minggu penuh menikmati salju menebal di Skandinavia yang memiliki kualitas air baik sampe minum aja tinggal nyari keran, sistem transportasi umum yang canggih-bersih-murah, tapi harga barang kebutuhan sehari-harinya bikin pengen kehilangan kemampuan menghitung sejenak karena gak nahan banget sampai beli makanan dan mau ke toilet aja merasa serba salah……

Jadi, begitu tiba di Polandia, cukup shock juga dengan perbedaannya.

Kenapa?

Advertisement

Polandia adalah negara yang cukup berbeda dari kebanyakan negara Eropa lainnya, sekalipun arsitektur kotanya serupa dan sejarahnya masih kental Eropa, tapi sebagai negara post-komunis perbedaan terasa cukup besar di negara ini. Ambillah contoh harga makanan dan pakaian. Rata-rata di Eropa, mau beli sandwich aja mikir beberapa kali karena harganya ber-euro-euro, dikonversi ke rupiah saat itu, jadilah harganya selevel sandwich di cafe-cafe mahal ibu kota. Sampai ke Polandia, kagetlah saya karena harga makanan, minuman bahkan sampai baju aja persis harga di Indonesia. Cukup dengan 1,5 PLN (kurang lebih Rp 5.000) bisa dapat satu scoop ice cream. Beer yang di negara-negara Eropa lainnya seharga Rp. 50.000, di sana bisa didapatkan seharga Rp 15.000 saja. Tapi kok enggak lihat sama sekali ada orang mabok di jalanan padahal salju turun sepanjang 3 hari saya tinggal di Krakow yang bikin dinginnya minta dikasih yang hangat-hangat, beda banget sama negara Eropa lainnya yang penuh dengan para pemabuk walaupun harga beer dan mirasnya mahal banget. Selain itu, harga makanan seperti salmon dan pizza, sangatlah terjangkau. Secara garis besar harga bahan-bahan kebutuhan sehari-hari seperti roti, buah, yoghurt, sampai ke lotion gitu nyaris sama dengan harga di Indonesia. Oh ya, kita juga harus beli minuman kemasan, karena walaupun di-claim aman, pihak hotel sekalipun tidak merekomendasikan meminum air dari keran langsung.

Selain itu, kalau di negara Eropa lainnya mall itu sepi dan tutupnya cepat banget, di Polandia mall itu penuhnya persis banget di Jakarta waktu akhir pekan dan tutupnya sampai saya sudah puas keliling dan ngantuk. Wah, benar-benar mengingatkan sama tanah air sendiri, ya.

Saya menyimpulkan, mungkin negara ini memang masih berkembang, seperti halnya Indonesia.

Oh ya, analisis ini entah karena negaranya, entah karena kotanya. Saya tinggal tiga hari di Krakow, bukan Warsaw yang adalah ibu kota Polandia. Mengapa? Tidak lain dan tidak bukan karena tujuan utama dan sebenarnya satu-satunya pergi jauh-jauh ke Polandia adalah karena kepengin sekali berkunjung ke camp konsentrasi Auschwitz dari zaman Perang Dunia II. Saya bukanlah seorang penggila sejarah, saya juga tidak suka baca buku sejarah, tapi iya saya memang pengagum berat tempat wisata yang punya nilai sejarah. Salah satu yang paling berkesan adalah kunjungan ke Jerman sekitar 2012 yang lalu dan setelah melihat sendiri tembok Berlin dan betapa nilai-nilai sejarah dilestarikan di situ rasanya saya ingin menjelajah ke setiap tempat wisata yang punya nilai sejarah tinggi.

Dulu Krakow katanya pernah jadi ibu kota Polandia dan gosipnya justru banyak turis yang lebih suka Krakow karena old town-nya terasa banget, lebih cantik dari Warsaw, katanya. Selain itu, walaupun Auschwitz sendiri berada di suatu kota, orang-orang lebih suka tinggal di Krakow. Mungkin karena kotanya jauh lebih besar, lebih lengkap, mallnya besar. Untuk mencapai Auschwitz tourism di Polandia sudah sangat siap dan terintegrasi karena bus dari Krakow ke depan gerbang Auschwitz museum ada setiap jam. Harga tiketnya murah banget, yaa untung-untungan sih bisa dapet bus besar yang bagus atau bus segede ELF yang dipaksa memuat lebih dari kapasitas yang seharusnya. Bisa juga pakai kereta dari Krakow sayangnya stasiunnya jauh jadi masih harus naik kendaraan lain. Perjalanannya sendiri keduanya sama-sama memakan waktu sekitar 1,5 jam.

A very light snow rain and temprature that close to minus is perfect to match the mood in Auschwitz. Kesan gloomy jadi menambah suasana kunjungan di sana. Saking melegendanya sejarah Auschwitz sebagai camp konsentrasi yang jadi sejarah kekejaman Nazi bagi kaum Yahudi sampai hari ini camp ini ramai didatangi tamu dari seluruh dunia. Hal ini harus diacungi jempol, karena walaupun judulnya museum, tidak bikin orang-orang dari seluruh penjuru dunia alergi untuk berkunjung.

Saya tidak tahu bagaimana caranya menggambarkan tempat ini. Antara rasa bersemangat sekaligus keputus asaan. Antara rasa senang karena semua ini sudah berlalu namun juga ada rasa duka. Deretan foto para korban di lapangan depan museum saja sudah membuat ingin menangis, belum lagi deretan foto, lukisan, benda-benda nyata dari masa lalu, their infamous striped pajamas, peralatan makan yang dulu dipakai oleh parah tahanan, gedung dan barak yang dulu benar-benar dipakai oleh para korban, dan kondisi toilet yang menyedihkan.

Its a very big area and there are strict rules about the place you cant entered or the place where you cant take pictures. Dont use your camera flash.

Polandia, walaupun sangat mirip dalam beberapa hal dengan Indonesia, tapi memiliki sistem transportasi yang cukup maju dan patut diacungi jempol. Misalnya saja self-ticket machine yang memudahkan para turis untuk berkeliling kota. Warganya pun sudah tertib dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Walaupun belum semaju negara-negara tetannga. Setidaknya, kemajuan itu sudah terlihat nyata di depan mata. Semoga suatu hari nanti Indonesia juga dapat memiliki sistem transportasi seperti mereka dan semoga saja kita juga bisa dikenal oleh dunia lewat prestasi-pretasi yang membanggakan sehingga saat nama warga negara kita ada di list pemenang, bendera indonesia yang sesungguhnya ada sudah ada dan dapat berkibar diiringi kumandang lagu Indonesia Raya.

Jadi, #IniPlesirku, mana plesir-mu yang paling unik dan berkesan?