Jika ada yang bertanya cita-citaku itu apa? Aku tak akan bisa menjawab. karena aku sendiri tak bisa mendefinisikan cita cita itu apa. Tapi jika ada yang bertanya, aku ingin seperti siapa? Aku akan jawab dengan lantang, aku ingin seperti Oppung Godang (panggilan sayang kepada kakek) begitulah kira-kira jawabanku saat masih berumur 4 tahun, dan Alhamdulillah sampai sekarang juga aku masih ingin seperti dia.

Bukan tanpa alasan aku ingin seperti dia. Oppung Godang adalah orang yang sangat pintar, pandai berbicara didepan umum, gagasannya selalu ditunggu warga kampung. Aku melihat dia bukanlah orang yang mepunyai jabatan tapi dia dihargai banyak orang. Bukan hanya dihargai tapi dicintai banyak orang.

Aku tak pernah ingat dengan pasti kapan terakhir berbincang-bincang denganya, tapi aku merindukan saat-saat itu. Kau pernah bercerita padaku dengan berapi-api tentang pengalamanmu yang hampir melihat soekarno di dalam sebuah upacara, karena hal sepele kau gagal melihat idolamu itu. Disaat itu juga aku sadar bahwa Kulit keriput mu hanya menutupi otot-ototmu bukan meredupkan semangatmu.

Kau ucapkan, kau ingin bermain sepak bola dengan ku, tapi kau tak sadar tulangmu tak sekuat semangatmu yang tak bisa menopang badanmu. Oppung Godang kau tak perlu menunjukkan seberapa kuat dirimu dimasa lampau karena kerutan di wajahmu telah memberitahuku seberapa keras perjuanganmu

Oppung Godang, masih ingat kah kau? Di bangku yang berwarna cokelat kesayangan mu, kita berbicara sampai larut malam, sampai-sampai kita di tegor sama batukmu yang meradang. Kita berdiskusi layaknya pria dewasa yang menyusun siasat agar tak dikenali oleh musuh. Padahal saat itu umurku masih 13 tahun. Kau berkata bahwa engkau ingin melihat diriku tumbuh dewasa, aku juga berkata sebaliknya, bahwa aku ingin dibesarkan olehmu sampai tumbuh dewasa. Tapi apa boleh buat kebersamaan kita telah dirampas oleh waktu

Advertisement

Pertengahan tahun 2008 badanmu sudah tidak kuat berdiri lagi, jangankan untuk berdiri duduk di ranjangmu saja kau harus dibantu. Aku melihat Oppung Godang sedikit stres dengan keadaan, ingin menyerah dengan kehidupan, tapi aku salah. Kau malah meminta ku agar dibelikan koran setiap harinya, untuk apa Oppung Godang di belikan koran setiap harinya, tanyaku dengan lugu. Kau mejawab dengan sedikit meneteskan air mata, cukup badan ini saja yang tergeletak dikamar tua ini, tapi otakku masih ingin menjelajah ke penjuru dunia.