Perjalanan cinta memang tidaklah selalu berjalan mulus dan nyaman begitu saja, kadang hambatan dan perbedaan pendapat juga kerap kali mengisi kisah romansa kita.

Aku mengetahui bahwa aku juga tidak akan selalu baik adanya. Kadang aku juga kerap kali bertingkah bodoh hanya demi memenangkan statement yang ku punya. Namun, bila suatu saat nanti aku tiba-tiba berlaku pasrah dan membiarkan kamu pergi begitu saja, aku harap kamu tidak akan menyerah untuk menggenggam erat kedua sayapku agar tidak mudah meninggalkan.

Mungkin, suatu hari nanti, entah itu kapan, aku mulai tidak bisa lagi berpikir sehat dan mulai terus menerus mengucapkan kata terserah tentang hubungan kita. Mungkin juga nanti aku tidak akan melakukan suatu usaha pun untuk membuatmu tinggal dan bertahan di kala pertengkaran datang sedemikian hebatnya.

Sebelum masa-masa itu datang, aku ingin memberi tahumu satu hal. Bila diriku nanti melakukan hal-hal yang kubilang tadi, percayalah itu bukanlah aku, itu sama sekali bukan diriku yang sebenarnya. Bila aku mulai tidak lagi bergairah untuk tidak mengucapkan kata sayang, percayalah, itu bukanlah aku.

Itu adalah emosi buruk yang sedang menjajah pikiran dan tubuhku, ku harap kamu tidak mempercayai segala perbuatan yang akan ku lakukan pada masa-masa yang entah kapan atau mungkin saja akan terjadi.

Advertisement

Bersama dengan tulisan yang ku sampaikan saat ini, aku selalu berharap, nantinya kamu akan bisa mengerti bahwa aku yang itu jelas berbeda dengan aku yang sebenarnya. Bahwa aku yang asli adalah “aku” yang selalu bertahan untuk terus bersamamu dan “aku” yang asli adalah aku yang tidak akan pernah malas dalam berlari untuk menjemput pelukmu.

Aku hanya ingin sekadar memberi tahu, bahwa hanya kamulah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan aku dari penyesalan yang panjang sesudahnya, karena tanpa kamu aku mulai tidak mengenali lagi huruf yang harus aku tulis dan aku tak akan mampu mengenali lagi segala makna dari setiap frase yang aku pelajari selama ini.

Mungkin aku tidak akan pernah bisa sanggup untuk berjanji membuatmu tertawa dan bahagia, namun bisakah aku meninggalkan janji bahwa aku akan selalu ada bagaimanapun kondisi hubungan ini ke depannya?

Izinkan aku untuk tinggal lebih lama. Oh tidak, maksudku izinkan aku untuk tinggal selamanya.

Dampingi aku dengan segala macam kekurangan yang begitu banyak melekat pada pribadiku, untuk itu bila aku mulai lesu dan tertekan atas segala macam masalah yang menelantarkan asaku.

Aku selalu berharap bahwa kamu bisa menamparkan sedemikian keras demi membuatku sadar. Kamu pun tahu sendiri, bahwa aku merupakan sebuah pribadi yang sungguh mudah lupa. Tapi untuk mencinta padamu, hal itu akan selalu ada dan tidak akan pernah sirna.

Beritahu aku bila aku mulai lalai, semangati aku bila aku mulai lunglai, karena tanpamu aku tidak akan pernah bisa mengerti lagi tentang bait-bait cinta yang bahkan aku tulis sendiri ceritanya.

Izinkan aku untuk tetap menjadi layak untuk kau cinta. Bila kamu menemui diriku yang tengah membara atau lesu tak berdaya, ku harap kamu bisa menyadarkan diriku bahwa “aku” yang ini, aku yang saat ini tengah menulis pesan ini adalah aku yang asli, dan aku yang buruk itu hanyalah sebuah “lara” yang mulai menjajah dan mendeterminasi sadarku.

Bantu aku dengan genggaman hangatmu,

Sadarkan aku dengan pengertianmu,

Karena sampai kapanpun, aku adalah seorang lelaki yang tak akan pernah mampu hidup sendiri, terlebih lagi tanpa adanya kamu.

Jadi bisakah kamu mengingat “aku” yang ini,

Iya, “aku” yang ini adalah aku yang berani mengucapkan kata cinta dengan sedemikian lantang dan “aku” yang ini adalah aku yang berhasil menyingkirkan gengsi untuk meminta kamu untuk tetap tinggal.

Karena “aku” yang ini adalah aku yang tak akan pergi dan bila suatu saat lara mulai mencuci isi kepalaku. Sadarkan aku segera dengan cinta yang pernah kita rawat bersama dan jangan pernah pergi untuk selamanya.

Dan perlu kamu ingat, bahwa mencintamu adalah sebuah kebutuhan dan bukan sekadar keinginan belaka.

Jadi, ingat “aku” yang ini ya~