Nyaman.

Semua mendambakan kenyamanan dalam relationship.

Tapi apakah hanya karena nyaman membuat hal yang buruk sekalipun dianggap wajar?
apakah kenyamanan membuat kita mesti keluar dari jalur yang seharusnya?

Diam-diam kenyamanan disisipkan dalam hubungan yang tidak semestinya.

Dianggap penyangkral hal diluar nalar, yang penting sama-sama bahagia.

Advertisement

Tapi, pada akhirnya kita sadar semua hubungan boleh saja berdasarkan kenyamanan, tapi itu Cuma sebagian part dari relationship. Masih banyak hal diluar kenyamanan itu sendiri.

Pernah seorang teman bilang “ ga peduli sekarang kamu dengan siapa, atau bahkan kamu istri/suami orang sekalipun, nyaman membuat aku tak memikirkan hal itu, yang penting kita bahagia”

Pernyataan itu akan masuk akal bagi mereka yang menganggap kenyaman dalam konteks yang sangat tidak wajar itu, yang penting sama-sama bahagia, ga peduli dengan mereka atau orang diluar berkata apa.

Apakah itu kenyamanan?

Bukan, itu bukan kenyaman itu hanya nafsu ingin memiliki hal yang seharusnya tidak dimiliki.

Bukankah tidak semua harus kita miliki?

Bayangkan ketika kita memaksa untuk hal yang bukan untuk kita?

Dari awal saja sudah salah, bagaimana mengharapkan hasil akhir yang bahagia?

Lakukan lah hal sewajarnya saja, bukankah selain menciptakan nafsu, Tuhan juga memberikan kita sifat sabar?

Sabarlah, tidak semua hal yang kamu anggap nyaman itu benar kenyamanan.

Tanyakan hatimu, apakah itu benar?

Apakah itu membuat kamu bahagia?

Ketika terperangkap kenyamanan yang salah itu, cepatlah ingat itu salah dan sibukan dirimu dengan hal yang lain.

Sabarlah, ketika memang dia dijodohkan hanya untukmu, bahkan semua hal akan terjadi dengan ajaib.

Tanpa kamu harus membuat kenyamanan menjadi kesalahan bahkan penyeselan untuk dikemudian hari.

Nyaman itu ketika tidak ada seorang tersiksa hatinya.

Logislah