Tidak terasa 360 bagian dari 2016 sudah kaki kita jajaki. Pastinya banyak sekali peristiwa – peristiwa yang punya arti tersendiri. Penulis ingin berbagi pengalaman selama 360 hari bersama tahun 2016. Kita flashback ke beberapa bulan silam,awal tahun 2016 penulis memutuskan untuk berhijrah dari dahulu penulis yang terkesan tomboy, tampil alakadarnya perlahan menata diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Penulis memutuskan untuk menggunakan rok dan berhijab menutup dada dalam kegiatan sehari-hari, baik itu kuliah maupun travelling.

“Wanita adalah sebaik-baiknya perhiasan di dunia ini. Wanita bisa membuat dunia ini berjaya,bahkan sebaliknya pun jika akhlak wanita-wanita sudah melenceng dari syariat yang ditetapkan bisa menghancurkan dunia.”

Akhir-akhir ini wanita sudah banyak yang menggunakan hijab. Hijab pun menjadi tren fashion yang digandrungi para wanita-wanita. Entah tujuannya sebagai memenuhi hasrat fashion atau memenuhi kewajiban. Bagi mereka yang melakukan hal ini untuk memenuhi kewajiban sehingga mereka melebarkan jilbabnya menutupi dadanya, hal-hal ini sudah nggak asing lagi dirasakan oleh mereka. Berikut ini beberapa suka duka penulis ketika melangkah untuk memperbaiki diri :

Jilbab besar dikonotasikan wanita kolot

Sering banget orang-orang memandang sebelah mata wanita-wanita yang berjilbab besar. Katanya si “ Belum tua pake gituan jadi keliatan tua, Neng”. Apalagi kalo kuliah pake jilbab besar, “ Itu mau kuliah apa pengajian Neng?” . Ya begitulah gambaran kecilnya. Namun kata-kata seperti ini gak penulis tanggepin, toh prinsip penulis selagi kita melakukan sesuatu yang benar kenapa musti ragu. Anggap aja kata-kata mereka menguji kesabaran kita. Suatu saat kalo mereka sudah merasakan kenyamanan seperti penulis mereka pasti akan bilang, “ Ternyata adem juga ya hatinya kalo gini”

Advertisement

Udah jilbab besar kok masih main sama cowok

Main sama cowok jangan di konotasikan loh ya.. Maksudnya udah jilbab besar kok masih kumpul-kumpul sama cowok,eitts bukan kumpul-kumpul yang gak bermanfaat. Kami berkumpul karena tuntutan dari sebuah organisasi yang kita jalankan bersama,selain itu kami kan dianjurkan menjalin ukhuwah silaturahim sesama muslim,walaupun juga ada anggota organisasi kami yang non-muslim tapi kami gak mempermasalahkan itu. Tuhan itu memang satu,mungkin cara kita menyembahnya yang berbeda. Yang penting selalu ada keyakinan dihati.

Dengan jilbab kita merasa aman lo

Kenapa aman? Soalnya kami tidak terlihat menggoda. Ibarat aja nih sebagai gambaran, rok gede, baju gede, jilbab gede, apaan yang diliat? Ahahaha. Paling-paling kalo ada yang menggoda cuma bilang “Assalamualaikum cantik..” “Adem bener sih ngeliatnya..” Bahkan ya ada temen penulis dia non-islam dia ngerasa kalo yang pake jilbab itu serasa dilindungi karena gak bakal ada yang berani nyentuh,kata dia “Aku yang pake baju udah sopan, pake celana juga gak ketat.. eh tetep aja masih ada yang berani colek-colek. Aku iri sebenarnya sama kalian yang berhijab, kalian jadi punya benteng pertahanan”. Tapi sebenernya bukan hijab aja yang melindungi, masalah sebenernya yaitu mereka kaum lelaki harusnya bisa menahan diri.

Yang lalu biarlah berlalu. Seperti lagu Banda Neira “ Yang patah tumbuh , Yang hilang berganti” . Ayo ukhti-ukhti bersama memperbaiki diri di tahun 2017 dengan berhijab syari. Kalau sudah berhijab syari jangan lupa menata diri dan hati untuk jadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi diri kita sendiri, agama, nusa dan bangsa.