Setelah masalah keberagaman agama di desa Ngadas yang di ulas pada artikel sebelumnya, http://www.hipwee.com/narasi/keberagaman-agama-dalam-dekapan-adat/ sekarang kita tengok yuk cara bersarung nya mereka sebagai pakaian sehari – hari.

Ternyata sarung yang setiap waktu di pakai oleh mereka tidak serta merta digunakan secara asal dan seenaknya, tetapi ada makna dan model tersendiri dalam setiap kegaiatan yang mereka lakukan. Apa saja ya cara bersarungnya ? Yuk simak macam – macam cara bersarung yang saya kutip dari artikel.

Kakawung

Untuk bekerja, mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua, kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. Cara ini disebut kakawung, yang dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ketempat mengambil air atau kepasar. Cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat.

Sesembong

Advertisement

Sedang untuk pekerjaan yang lebih berat, seperti bekerja diladang atau pekerjaan-pekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar, mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas.

Sempetan

Saat bertamu, mereka mengenakan sarung sebagaimana masyarakat umumnya, yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. Cara ini disebut Sempetan.

Kekemul

Sementara itu, pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan, mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. Setelah disarungkan pada tubuh, bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya, kemudian digantungkan di pundak. Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada.

Kekodong

Cara lain yang sangat khas, yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat-tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala, sehingga yang terlihat hanya mata saja.

Sampiran

Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri, yang disebut sampiran. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya.

Sumber : http://litaetlavie.blogspot.co.id/2010/09/pola-tata-ruang-permukiman-suku-tengger.html