Benar saja cinta itu rumit sekali. Padahal hidupku sudah cukup rumit untuk di-perumit lagi.

"Andaikan hidupku ini kolam, maka airnya masih keruh belum jernih karena kotorannya belum mengendap sempurna kedasar dan cinta adalah tongkat yang mengaduk-aduk. Semakin memperkeruh dan mem-perlama proses penjernihannya."

Dan dari pengandaian itu aku rasa kalian sudah bisa menangkap maksudku. Bukannya aku munafik terhadap kenyataan. Nyatanya sebelum cinta itu hadir, hidupku tentram-tentram saja tidak penuh drama semacam ini, memperkeruh saja rasanya. Bukannya aku membenci cinta itu. mana mungkin aku membencinya sementara aku mengijinkannya memasuki hidupku. Hanya saja aku baru menyadari bahwa yang kujalani ini tak memberi andil apapun justru sebaliknya.

Sekarang aku kembali lagi acuh pada hatiku, toh buat apa memanjakannya dengan cinta sedangkan hidupku saja keras tak ada yang memanjakan. Mulai saat ini dan detik ini aku tak mau melunak lagi. Biar saja mereka memandangku kaku seperti dulu. Ternyata itu memang aku. Aku tak perlu mengubah diriku demi dianggap lazim oleh mereka semua. Sebelumnya aku baik tanpa cinta dan akan selalu begitu mulai detik ini.

Tadinya aku melunak karena aku ingin seperti lazimnya wanita lainnya. Yang dengan leluasa mencintai dengan mudahnya. Dari jauh mereka terlihat bahagia, saat kurasakan sendiri..membuatku kapok mencobanya lagi. Ternyata aku melihat dengan kacamata kuda yang hanya mampu melihat satu arah saja. Sebelumnya aku acuh pada siapapun dan kupikir bisa lebih baik dengan melunak. Ternyata salah sekali. Ya jalani apa aja yang ada seperti semula tanpa takut lagi dengan penilaian mereka yang sangat gampang dipancing.

Advertisement

Sebenarnya bukan hanya karena itu saja, dari dalam lubuk hatiku sendiri cinta itu terlihat menjanjikan awalnya. Yap, awalnya saja ternyata..

"Seperti kutemukan senter yang ternyata batrenya menyala terang beberapa waktu lalu meredup-meredup dan akhirnya mati. Kembali gelap karena kuputuskan untuk mematikan cahayaku sendiri ketika ia datang. Kini aku harus bersusah payah lagi membuka tiraku sehingga sinarku ada lagi karena cahaya yang dia beri sudah mati, wah cepat sekali."

Cahaya yang sumber energinya tak sepadan dengan ruanganku yang besar dan butuh cahaya terang juga abadi. Kan nanti juga akan ada waktunya ketika aku butuh cinta dan dia datang karena membutuhkanku pula sebagai cintanya. Sekarang aku sendiri belum yakin apakah butuh, ingin atau hanya mencoba-coba.

"Bukankah lebih baik kita mencari yang dibutuhkan atau membeli yang diperlukan. Jika belum terlalu butuh maka perannya dan fungsinya pun belum kelihatan, seperti menyalakan lampu disiang hari."