Pertengahan 2007…

Pengumuman STAN.. Tahun 2007, aku hanya mendaftar di salah satu perguruan tinggi kedinasan, STAN – Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Karen banyak hal, orang tuaku hanya memperbolehkanku mendaftar di perguruan tinggi yang tak memungut biaya untuk pendidikannya. Alasannya klasik, biaya. Kala itu aku memilih STAN, maklum tak banyak pengetahuan tentang perguruan tinggi kedinasan lainnya, hanya karena banyak kudengar dari orang di sekitar bahwa STAN ini gratis, spontan saja kupilih. Bukan karena aku suka akuntansi, tapi ya karena alas an gratis saja ingin sekolah disana. Allah suka dengan orang orang yang menuntut ilmu, begitu kan? Pikirku. Dengan modal sadanya aku belajar sendiri latihaan-latihan soal STAN, tapi nggak tahu juga sih belajarnya bener atau nggak, namanya juga belajar sendiri, hehe. Latihan soal lihat kunci, latihan soal lihat kunci, begitulah kira-kira pola belajarku. Jangan ditanya kenapa tak ikut bimbel, untuk sekolah saja kan pengen yang gratis, untuk bimbel sayangnya belum ada yang gratis, hihiii. Berusaha seadanya, kemudian berdoa. Begitulah yang kulakukan..

Saat hari pengumuman, aku bersemangat sekali menuju warung internet di kota diantar bapak, pengumuman STAN harus lewat internet, tidak di media cetak, dan maklum di desaku belum ada warung internet menjamur seperti sekarang ini. Mulailah membuka-buka… lemot… deg degan sekali, pikirku, mau ngapain aku kalau tidak sekolah, mau ngapain aku kalau hanya di rumah saja…
deg deg degan…. Akhirnya dalam kegalauan itu, kudapatkanlah ketetapan pengumuman, hati lega mengetahui… antara senang, antara sedih… oke kusampaikan hasilnya ke Bapak…
“Bapak, Ayu tidak diterima…”

Bapakku hanya terdiam, namun kemudian beliau bilang…
“Yasudah… tidak apa-apakan, ayo kita pulang…”

Dalam sedihku, sepulangnya dirumah, hanya terdiam, sesekali menangis sesenggukan. Maklum, biasanya wanita kalau tidak mendapatkan yang diinginkan ya begini ini, bisanya nangis.

Advertisement

"Dan dari sini cerita baru dimulai…"

Beberapa hari setelahnya, aku mulai bangkit mengumpulkan kekuatan. Insya Allah ini yang terbaik dari Allah, Allah sedang mempersiapkanku di suatu tempat terbaik. Oke aku mau belajar untuk tahun depan. Ingin bisa ikut SPMB- Seleksi Peneriamaan Mahasiswa Baru (nama SBMPTN tahun 2007). Mungkin juga Allah hendak memintaku menyerahkan baktiku pada orang tuaku dan lebih banyak tinggal di rumah, pekerjaan mulia membantu orang tua – anak rumah tangga. Selama aku SMA aku sudah tinggal indekos yang lebih sering pulang sepekan sekali karena sekolah di kota dan jaraknya jauh. Mungkin pula Allah hendak memintaku tentang banyak hal yang lainnya, yang mungkin tak kuketahui saat ini. Dan kemudian perjalanan baru dimulai, sekolah di sekolah kehidupan.

Mulailah kukumpulkan, buku-buku dari teman-teman. Tapi aku sudah berazam-niat yang kuat, aku akan menyebrang jurusan, yang sebelumnya dari jurusan IPA- menyebrang ke IPS. Saat itu, aku merasa tak sanggup belajar Matematika IPA dan Fisika tanpa bimbingan siapapun. Belajar bimbel? Sekali lagi tidak, alasannya klasik sekali. Bahkan mungkin kalau belajar bimbel aku seperti sekolah ya, hanya saja aku tak berkesempatan untuk itu. Dan belajarlah aku tentang IPS, hal yang sebelumnya tak kupelajari selama dua tahun SMA. Syukurlah kemudian aku berhasil menumbuhkan Ayu yang suka membaca. Namun aku tetap belajar jurusan IPA, jurusanku sebelumnya.

Pola belajar yang kugunakan kurang lebih sama, latihan soal, lihat kunci, latihan soal lihat kunci. Kemudian, aku mencatat kembali apa yang kupelajari. Kucatat poin-poin yang sering keluar dalam soal. Tak seperti sekarang, kala itu aku jauh sekali dari peradaban bernama internet. Sekarang pun aku lupa bagaimana menjawab pertanyaan yang tak kutemukan jawabannya di buku. Setidaknya, setiap hari, insya Allah dalam ingatanku kala itu, aku selalu belajar mempersiapkan diri untuk SPMB tahun selanjutnya. Sekali lagi aku tak tahu apakah benar cara belajarku ini atau tidak, namanya juga otodidak, tanpa pembimbing, aku berdoa saja. Berusaha belajar semuanya tanpa bimbingan, semoga tak makin bingung, hihihiiii….

Baiknya lagi, memperbanyak ibadah, perbaiki yang wajib, tambah yang sunnah. Sholat Malam, sholat juga. Selain itu, ada ibadah dalam bentuk lain, aku mulai banyak mengerjakan pekerjaan rumah, terutama belajar memasak. Sebelumnya ketika aku masih sekolah, tak banyak kulakukan hal bernama memasak ini. Mungkin saja baktimu ini kelak bisa mengantarkanmu menuju kesuksesan, begitu kan. Oke pelajaran di Universitas Kehidupan bertambah lagi. Dan selain ituu, aku juga mulai membaca banyak buku selain buku SPMB yang kupelajari saat itu. Kuhabiskan buku-buku sejarah sahabat wanita, dan kubaca pula sejarah Rasulullah, tentunya buku ini buku pinjaman pula… hehehe

Awal tahun 2008…

Mulai kucari informasi tentang SPMB. Dan ternyata aku tak berkesempatan mengikuti SPMB. Sedih. Jangan khawatir, ini bukan karena alasan biaya atau apa, tapi karena tahun 2008 nama SPMB berubah menjadi SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Ini bentuk lain dari SBMPTN sekarang. Mulailah aku mencari cari tentang pendaftaran, dan kemudian saat pendaftaran tiba, titiplah aku formulir di teman-teman yang bimbel. Mereka ada pembelian kolektif Formulir SNMPTN. Formulir SNMPTN waktu itu tak berbentuk borang yang diisi online, tapi berbentuk seperti kertas ujian computer. Pembeliannya pun tak ada di daerahku. Panitia Lokal di dekat daerahku adalah kota Malang dan Kota Surabaya. Akhirnya kupilihlah di panitia lokal Malang. Dan mulailah aku memilih jurusan. Karena saat hampir satu tahun kuhabiskan hari hariku dengan membaca, dan tentunya menulis, kupilihlah jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Sastra Indonesia murni, dan kemudian Biologi. Namun kemudian ada tanteku yang berkomentar. Masak dua pilihan memilih Bahasa Indonesia? Kupilih pilihlah jurusanku lagi dan akhirnya kupilihlah jurusan Psikologi, karena Passing Gradenya lebih tinggi dari Sastra Indonesia kuletakkanlah Psikologi di pilihan pertama. Semuanya di PTN yang sama. Siapa tahu karena jurusanku tiga tiganya di PTN yang sama PTN ini menerimaku. Abaikan ini… hihihiiii

Ujian tahun 2008 saat itu berlangsung dua hari, hari pertama kemampuan dasar, dan hari selanjutnya kemampuan bidang studi. Alhamdulillah tak ada kendala yang berarti selain beberapa soal yang tak bisa kukerjakan, hehehee… tapi tetep saja aku tak bisa mengubah apapun selain memperbanyak doa..
Hari kedua aku ujian, aku mampir untuk sholat dhuhur di PTN tempat aku tes, qadarullahnya pula PTN tempat aku tes adalah PTN yang kuinginkan. Kemudian dalam doaku kuserahkan semuanya pada Allah, kuajukan keinginan kuatku untuk sekolah kepada Allah…

Hari bersejarah, pengumuman SNMPTN 2008….

Pagi paginya aku menyiapkan diri, seperti biasa, mengerjakan pekerjaan rumah dan kemudian mandi. Bersiap-siap untuk membeli Koran – pengumuman SNMPTN tersedia di Koran. Deg degan membawa Koran pulang. Bismilah dan kubukalah halaman pengumuman SNMPTN di Koran itu, tertera di dalamnya hanya nomor nomor… dan kulihat, tak ada nomor yang bersinggungan dengan nomor pesertaku. Dalam hatiku, aku sedih, mau ngapain lagi aku tak sekolah ya Allah, tapi menguatkan hati pula bahwa inilah yang terbaik bagiku. Di Koran itu terlihat pula sebuah halaman yang menyemangati, ceritakan pengalaman tidak diterimamu disini… Pikirku langsung, aku ingin mengirimkan tulisanku. Kuberitahukan pula kepada bapak, bahwa aku belum diterima lagi, sedih membuat beliau kecewa… Sampai beliau melihati satu per satu nomor peserta Koran itu… kemudian beliau menyarankanku…

“Coba dilihat di internet, siapa tahu ini Koran memang tak lengkap…”
“Tapi sepertinya nggak ada bapak…”
“Coba dilihat dulu…” saran bapakku lagi

Dan berangkatlah aku ke warnet. Di kota? Tidak, di desaku sudah ada satu warnet. Bismillah dengan deg-degan nya kumasukkanla nomor pesertaku… dan muncullah…

“SELAMAT ANDA DITERIMA DI PROGRAM STUDI PSIKOLOGI”
Allahu Akbaar, aku langsung bersujud syukur di warnet. Alhamdulillah… Terima Kasih Allah…

Sepulangnya kuberitakan ke Bapak kalau aku diterima di pilihan pertamaku, mata beliau berkaca-kaca bahagia melihat anaknya hendak sekolah lagi. Dan setelah kusadari, ternyata di Koran yang aku beli hanya ada pengumuman SNMPTN panitia local Surabaya. Tentu saja namaku tak ada. Kan aku mengikuti Panitia Lokal Malang.

Semoga ini ketetapan terbaik Allah untukku, semoga berkah….

Mungkin saja diluar sana ada banyak anak yang perjuangannya melebihi perjuanganku, belajarnya, baktinya kepada orang tuanya, keseriusannya. Semoga Allah memberi yang terbaik pula untuk mereka. Sungguh kita tak tau seperti apa perjuangan mereka yang menjadi saingan kita, kadang kita hanya fokus ke diri, aku diterima, aku tak diterima. Kadang tanpa tahu seperti apa kita harus berjuang agar diterima seperti yang lainnya.

Bersungguh-sungguhlah, seriuslah, berusahalah yang terbaik dalam belajar, dalam segala hal, carilah guru terbaik, lingkungan yang baik, teman yang baik untuk belajar, dan berdoalah, serahkan semuanya pada Allah, kemudian keajaiban akan datang. Insya Allah.

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)

Kota Perbatasan, Jakarta-Bekasi-Bogor

April 2016