Pertama kali menginjakan kaki di tanah Mataram, langsung terasa udara asin yang menandakan tanah ini adalah sebuah kepulauan kecil yang bersekatkan laut dengan pulau-pulau kecil lain di sisinya. Banyak yang mengatakan bahwa Mataram atau lebih dikenal dengan Lombok sangat menarik dilihat dari ketinggian. Biasanya pemandangan ini bisa dinikmati menjelang pesawat akan landing di Bandara Internasional Lombok di Praya (seperti yang dikatakan oleh pramugari sesaat sebelum mendarat).

Sebagai orang yang berasal dari daerah yang “katanya” juga mengandalkan pariwisata untuk PAD nya, saya cukup kagum dengan kedatangan di Lombok ini. saya segera bisa membandingkan dan membuat perbedaan-perbedaan yang menjadi pembatas antara kampung halaman dan Lombok.

Pertama melangkahkan kaki di keluar dari bandara, maka anda akan segera disambut dengan pengalungan kain tenun khas lombok (biasanya jika anda menggunakan agen perjalanan). Senyum hangat, ramah dan bersahabat segera menyapa anda. Tidak jauh dari bandara, anda akan dibawa menuju sebuah desa yang bernama Sukarara (dalam logat Lombok dibaca Sukarare), tempat dimana anda akan melihat pengerajin-pengerajin menenun kain khas Lombok. Menenun kain khas Lombok ini dilakukan oleh masyarakat Lombok tanpa memandang usianya. Mulai dari anak muda, hingga nenek-nenek yang sudah sangat sepuh masih telaten menenun benang demi benang menjadi sebuah kain dengan motif yang fantastis.

Workshop kain tenun Lombok ini juga berfungsi sebagai toko, sehingga anda bisa meihat proses pembuatannya, dan jika tertarik anda bisa membelinya sebagai kenang-kenangan yang bermanfaat. Satu hal yang menjadi perhatian besar saya adalah tersedianya tempat Shalat disertai tempat berwudhu yang bersih. Tidak hanya menyediakan sajadah, karpet dan kain sarung, tempat shalatnya pun dilengkapi dengan peci atau kopiah khas Lombok yang bisa anda pakai ketika shalat.

Hal lain yang membuat saya terkesan adalah mereka memahami apa yang mereka kerjakan, semua unsur kepariwisataan di sini seolah-olah terlahir sebagai tour guide. Mereka dengan fasihnya menjelaskan kepariwisataan Lombok, dalam hal ini tentang kain khas Lombok. Workshop dilengkapi dengan balai-balai atau semacam gazeboo yang bisa anda gunakan untuk melepas penat, tidak sampai di situ, mereka pun menghidangkan goreng pisang yang nikmat, disusul dengan kopi khas Lombok. Jika anda berkunjung ke Lombok menggunakan agen perjalanan, maka semua hidangan itu akan dianggap complement.

Advertisement

Tiba di dusun yang bernama Sade, anda akan melihat bahwa tidak ada masalah antara kehidupan tradisional yang bersanding dengan kehidupan modern. Tidak seperti di daerah asal saya yang masih sibuk dengan mindset tradisional, masyarakat Lombok yang sangat tradisional sekalipun malah bisa berpikir lebih maju yang terbukti dengan terbukanya mereka dengan arus modern yang hidup berdampingan dengan mereka.

Malah mereka bisa mengambil manfaat dari kehidupan modern yang ada di samping mereka. Desa atau dusun Sade merupakan tempat tinggal suku asli Lombok yang disebut dengan suku Sasak. Sebuah perkampungan yang sangat tradisional, tapi mereka tidak ada masalah dengan Alfamart yang berdiri tepat di seberang jalan. Heran ? Tidak perlu. Lombok sudah cukup dewasa dalam hal toleransi, bahkan kehidupan tradisional dan modern di sini lebih cenderung bahu-membahu daripada gontok-gontokan dan demo sana-sini.

Kehidupan mereka yang sangat tradisional sangat terjaga di dalam kampung ini. Memasuki desa ini, anda akan langsung disambut oleh “tour guide” asli suku Sasak yang akan menjelaskan dari A-Z tentang kehidupan dan budaya suku sasak. Anda akan mendapatkan pengetahuan bagaimana kehidupan sehari-hari suku Sasak, bagaimana mereka bertahan hidup, bagaimana mereka membangun rumah, bagaimana kehidupan sosial mereka dan banyak lainnya.

Di desa Sade ini anda juga bisa membeli pernak-pernik khas Lombok dengan harga sangat terjangkau. Saya pribadi kembali terpukau akan suatu hal yang sangat langka yang saya temui di desa Sade ini, bagaimana mungkin sebuah perkampungan yang sangat tradisional ternyata di dalamnya terdapat sebuah mesjid/mushalla yang masuk kategori modern jika dibandingkan dengan bangunan lain di perkampungan ini, fantastis !!!

Beranjak ke pantai Senggigi, anda langsung berhadapan dengan sebuah struktur landscape yang luar biasa. Puluhan hotel dan resort terhampar luas di sepanjang pantai ini. Baik yang berada di bibir pantai, ataupun yang berada di seberang jalan mulus yang membatasai pantai dan bukit-bukit khas topografi Lombok. Apapun pilihan anda, mayoritas hotel dan resort di kawasan ini akan menghadirkan suasana pantai dalam liburan anda.

Apakah itu tepat di kaki anda ketika melangkahkan kaki keluar dari resort yang anda sewa, atau dari balkon kamar anda di seberang jalan. Ingat, tidak banyak hotel yang akan memberikan anda pemandangan laut lepas dengan banyak perahu layar yang sedang berlayar di hadapan anda ketika anda bangun pagi. Mayoritas hotel dan resort di kawasan Senggigi bisa memberikan anda view yang mungkin lebih sering anda temui di Monaco atau Saint Tropez.

Lombok juga jauh dari tindakan-tindakan premanisme di tempat-tempat wisata. Tidak ada teh botol seharga 25.000 di sini. Bahkan drugstore di hotel dan resort bintang 4 sekalipun anda masih akan menemui baju-baju khas Lombok dengan harga Rp. 40.000,- saja. Pedagang kaki lima di tempat-tempat wisatanya sekalipun menjajakan dan menawarkan barang dagangannya dengan bujukan dan rayuan yang saya anggap sangat sopan, tidak ada pemaksaan yang bisa merusak mood anda dalam berlibur.

Angkat topi untuk semua unsur kepariwisataan Lombok, mulai dari Pemerintah Propinsi, Kabupaten/Kota, sektor swasta, pedagang kaki lima hingga masyarakat Lombok yang tahu benar dengan potensi wilayah mereka, dan tahu benar dengan apa yang harus mereka lakukan dengan itu. Jumpa lagi di tulisan selanjutnya, dan sepertinya masih mengenai Lombok.