-imrsxoxobae-

***

Ternyata pilihanku untuk menyandang status 'Single,' tidaklah mudah. Masih banyak adu pendapat di luar sana tentang alasan mengapa aku masih tetap sendiri tanpa ada status menjalin hubungan asmara dengan seorang pria.

Beberapa mengatakan pendapatnya tentang alasanku masih single adalah karena aku belum move on dari seseorang yang kucintai selama kurang lebih lima tahun, sebut saja Mr X—tidak sopan untuk menyebut namanya di media sosial seperti ini—apalagi nantinya tulisanku ini akan di baca oleh ratusan bahkan ribuan pasang mata. Ada yang menyebutkan pula bahwa aku terlalu pemilih dengan sederet kriteria yang membuat para lelaki yang ingin mendekatiku menjadi takut dan akhirnya mundur perlahan tanpa tahu kekalahan mereka. Ada pula yang mengatakan bahwa beberapa pria yang menyukaiku itu mungkin saja memilih mundur karena tidak menemukan hal 'dibutuhkan' itu dalam diriku.

Mungkin karena aku adalah wanita mandiri yang nyaman sendiri tanpa atau ada kekasih atau sosok pria di sampingku, dan aku yang tampak cuek saat mereka berusaha mendekatiku dengan cara mengobrol atau berteman lebih dekat denganku, misalnya.

Advertisement

Aku menarik napas pelan-pelan dan menghembuskannya ke udara, berusaha menenangkan saraf-sarafku untuk tidak berkutat dengan emosi sesaatku dan menyelesaikan masalah yang sebenarnya tidak bisa disebut sebagai masalah juga dengan memperjelas statusku, yakni dengan memulai sebuah hubungan baru dengan pria yang sedang mendekatiku dan berujung dengan penyesalan karena aku tak bisa seutuhnya mencintainya dan akhirnya membuat hati seseorang terluka, padahal mungkin saja dia sungguh-sungguh mencintaiku saat itu.

Mungkin saat membaca ini akan ada pertanyaan yang muncul, "Apakah aku takut jatuh cinta?"

Tidak .. (!!)

Aku tidak takut untuk jatuh cinta.

Aku hanya takut mencintai pria yang salah.

Ya, aku bukannya takut untuk jatuh cinta tapi aku hanya takut mencintai pria yang salah. Mungkin saja karena aku pernah mengalami kadar terluka yang amat sangat dalam, jadi itu membuatku belajar tentang aturan nomor satu dalam perihal cinta yang sebenarnya tertulis dalam kamus yang kususun sendiri yakni, "Tidak boleh jatuh cinta pada pria yang akan membuatmu menangis karena sakit hati." Well, manusiawi .. Aku pun ingin bahagia, aku ingin seperti Chelsea Olivia yang menangis bukan karena sakit hati tapi karena saking bahagianya.

Jadi .., "Apakah aku belum move on?"

Ha ha ha … Pertanyaan macam apa itu? Percayalah, aku sudah move on. Aku bukan tertawa demi menutupi sakit di hatiku. Memang kadang kalanya—tak ingin munafik—akan ada saatnya di mana rasa rindu dan rasa sesak di dada itu beradu menjadi satu, semua tentang kenangan yang pernah tergores dalam buku tentang kisah cintaku, di mana aku adalah penulis dan editornya.

Namun, bagian akhir dari cerita yang telah kututup dengan indah–bukan dengan air mata–itu adalah tentang pelepasan hati dan memaafkan bukan tentang pengkhianatan. Ya, lebih tepatnya .. Aku sudah berdamai dengan masa laluku.

Aku bahkan sudah mempunyai sebuah buku baru yang di dalamnya hanya ada kata "Happiness," dan "No More Cry." Dua kata yang membawaku kepada hal-hal baru yang selama ini belum kutemukan karena ke-fokus-an diriku hanya pada satu lelaki saja, atau hal-hal itu sebenarnya sudah ada sejak lama namun sering kuabaikan dan kini aku benar-benar menemukannya.

Jati diriku, yes I found it by myself. Aku belajar untuk menjadi dewasa, aku belajar untuk memaafkan dan menerima, aku belajar untuk meredam emosiku di kala rasa sakit itu kian memuncak, aku belajar menjadi pribadi yang lebih baik dari 'aku' yang sebelumnya. Aku belajar banyak hal baru di sekitarku dengan membangun relasiku dengan lebih banyak orang.

Namun, aku hanya belum menemukan alasan mengapa aku harus jatuh cinta pada seseorang. Mengapa? Karena aku hanya belum menemukan lelaki yang tepat dan ditemukan lelaki yang mencintaiku dengan kesungguhan hatinya dan dengan cara yang tepat.

Selama ini aku berpikir bahwa hal yang menjadi sebuah alasan mengapa aku belum jatuh cinta seutuhnya kepada seorang pria adalah karena aku masih nyaman dengan diriku sendiri, menjadi wanita tangguh nan mandiri tanpa harus menyusahkan orang lain atau tanpa harus merasakan sakit hati dan menangis sepanjang malam. Tetapi ada hal yang lebih penting dari itu adalah karena aku belum menemukan dan ditemukan.

***

Beberapa waktu lalu aku sempat dipertemukan dengan seseorang yang tak kusangka kehadirannya yang hanya sesaat mampu membawa sebuah perubahan drastis dalam diriku. Aku pikir aku telah jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama, bahkan aku sempat menjadi stalker akun media sosial miliknya atau menjadi wanita 'kepo' yang ingin tahu segala sesuatu tentangnya meski itu dari orang lain tanpa menanyakan langsung padanya karena rasa malu atau bisa saja karena rasa gengsi yang begitu besar, namun tanpa kusadari hal itu menjadikanku tampak seperti anak-anak.

Lalu saat aku mendengar tentang deretan mantan-mantan kekasihnya yang kesemuanya jauh lebih baik dariku dari segi pendidikan, segi profesi, segi sikap dan ya .. Lebih cantik, tiba-tiba saja hatiku menjadi goyah. Aku tiba-tiba saja menjadi labil dan menanyakan kepada diriku sendiri perihal, "Mampukah aku bersaing dengan mereka? Aku ini siapa?"

Kembali pada keyakinanku bahwa aku telah menemukan diriku sendiri, ternyata aku salah .. Aku belum menemukan siapa aku. Hal itu yang membuat aku belum siap untuk jatuh cinta apalagi untuk mencintai.

Beberapa waktu lalu aku sempat memberanikan diriku untuk mengobrol lebih banyak dengannya meskipun kesan pertama tampaknya perbincangan kami adalah perbincangan basa-basi saja. Aku menanyakan beberapa pertanyaan sebagai prolog percakapan kami, yang sebelumnya telah kutahu jawabannya namun masih kutanyakan lagi meski itu tampak bodoh padahal latar belakang pendidikanku tak juga amat bodoh meski tak juga amat pandai.

Namun dari perbincangan kami yang hanya berlangsung selama kurang lebih sejam, aku menangkap hal-hal positif yang ia bagikan secara sengaja atau tak sengaja padaku.

Sebelum kau mulai jatuh cinta pada seseorang, pastikanlah dirimu siap untuk dan akan jatuh cinta padanya. Sebelum kau mencintai seseorang, kau harus belajar menerima dan mencintai dirimu sendiri terlebih dahulu dan kau akan jatuh cinta setenang air mengalir pada muaranya.

Sejak saat itu, aku mulai merefleksikan setiap hal yang terjadi pada diriku. Aku tidak (belum) sepadan dengannya—seseorang yang beberapa waktu lalu itu sempat mengisi hatiku dengan perasaan berdebar-debar yang tak menentu dan tanpa tahu alasannya.

Sejak saat itu, aku jadi tahu satu hal: Alasan aku belum menemukan dan ditemukan adalah karena aku belum siap untuk mencintai.

Maksudnya aku belum berusaha memantaskan diri sebaik mungkin untuk pria yang kelak akan mendampingiku atau sebut saja jodohku. Kalau selama ini aku pikir bahwa aku telah menemukannya dan itu sudah cukup, ternyata masih banyak hal lagi yang harusnya lebih dari cukup bagiku dan membuatku menjadi pribadi yang tidak hanya lebih baik namun lebih pantas untuk ditemukan oleh seseorang yang akan mencintaiku dengan cara yang tepat dalam kesungguhan hatinya.

Jadi tidak masalah untuk memilih sendiri dahulu sembari belajar memantaskan diri untuk menemukan dan ditemukan.

-imrsxoxobae-

***