Hari libur merupakan salah satu hal yang selalu membuatku bahagia. Orang orang juga pasti berpendapat hal yang sama denganku. Libur semester yang panjang kali ini aku habiskan di pulau Jawa. Aku memang sudah merencanakan beberapa bulan sebelumnya untuk berlibur di Jakarta. Aku berangkat dari Medan pada hari Sabtu tanggal 1 Agustus 2015. Ini menjadi perjalanan yang menyenangkan bagiku karena aku mengurus semua keberangkatan seorang diri, biasanya aku pergi ke luar kota bersama keluarga, tapi kali ini aku merasa sudah sangat dewasa dengan melakukan semuanya sendiri dan bahkan aku membeli tiket pesawat dari uang saku yang aku kumpulkan selama kuliah dua semester.

Saat tiba di Jakarta aku dijemput oleh abang Adi, aku langsung memeluknya melepas rasa rinduku. Ia adalah abang tertua yang sedang bekerja di kota Jakarta. Aku bersyukur memiliki abang yang begitu mengasihi dan perhatian padaku. Selama disana, aku tidak melewatkan kesempatan yang ada untuk bercerita, bercanda bersama dan makan bersama dengan keluarga. Aku sangat jarang bisa melakukan hal ini karena jarak dan waktu yang tidak memungkinkan. Mereka membawaku jalan-jalan mengelilingi kota yang padat penduduknya itu. Aku selalu merasa jengkel setiap kali akan berpergian karena macatnya jalanan, untuk pergi ke tempat yang sebenarnya tidak terlalu jauh mengahabiskan waktu yang lama. Dalam hati aku mengatakan bahwa aku tidak ingin tinggal menetap di kota ini. Aku memberitau pada temanku yang berada di Bandung kalau aku sedang berlibur. Ia pun mengundangku untuk berkunjung ke tempatnya sekaligus menikmati keindahan kota Bandung. Aku meminta ijin pada abang dan keluarga untuk pergi kesana. Walaupun awalnya mereka tidak mengijinkanku pergi, tapi pada akhirnya mereka memberi ijin pergi sendiri ke kota yang belum pernah aku kunjungi.
Ketika tiba di loket day trans travel sekitar pukul 4 sore, temanku Ariyanti datang menjemputku dan langsung membawaku ke sebuah mall di Bandung untuk menikmati beberapa makanan yang enak sambil membuat rencana perjalanan selama aku berada di Bandung karena aku hanya mendapat ijin 3 hari saja. Kami menyusun daftar tempat yang akan kami kunjungi yaitu Kawah Putih dan Tangkuban Parahu. Namun sebenarnya untuk pergi ke tempat itu kami terhambat karena transportasi. Ariyanti adalah seorang mahasiswi di Bandung dan juga anak kos, ia tidak memiliki kendaraan pribadi, meskipun belum pasti akan pergi kemana, kami akan tetap melanjutkan perjalanan kami yang belum terencana. Setelah mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan kami ke jalan Asia Afrika. Ini merupakan tempat yang cukup menarik perhatian para wisatawan. Gedung megah ini merupakan tempat bertemunya para pejabat tinggi, mungkin inilah yang menjadi daya tariknya.

Saat berkeliling sambil mengambil beberapa foto, seorang wanita datang kepada kami meminta tolong untuk mengambilkan beberapa fotonya. Kami sedikit bingung dengan bahasa Inggris yang ia gunakan, saat itu aku dan temanku hanya tersenyum seraya memperhatikan gaya bicaranya. Setelah berfoto, kami pun berkeliling bersama sambil mengenalkan diri kami masing-masing. Ia seorang wanita berusia sekitar 40 tahun yang berasal dari Thailand. Ia mengatakan pada kami kalau ia akan pergi ke Tangkuban Parahu. Dan ia mengajak kami untuk pergi bersama karena ia hanya seorang diri.

Aku dan Ariyanti saling bertatapan sambil tertawa kecil dan mengatakan bahwa kami juga sebenarnya ingin pergi kesana. Miss Mukda memberi nomor telepon pada kami agar menghubunginya besok, ia mengingatkan kami datang tepat waktu ke hotel tempat ia menginap. Aku dan Ariyanti tertawa bahagia sepanjang perjalanan menuju kosnya. Kami tidak pernah menduga hal ini, kami hanya berkata bahwa ini adalah rejeki anak-anak baik seperti kami. Setelah lelah berkeliling, kami singgah sebentar ke sebuah cafe, tempat ini terkenal dengan makanan khas Bandung yang lezat yaitu surabi. Keesokan harinya pun tiba, kami begitu bersemangat untuk melanjutkan perjalanan. Kami tiba di hotel miss Mukda sekitar pukul 8 dan disana kami sudah ditunggu teman baru kami itu. Ia menanyakan apakah kami sudah sarapan atau belum. Namun sebelum kami menjawab ia langsung mengajak kami ke lantai dua untuk sarapan sembari menunggu taksi yang sudah dipesannya. Kami mengambil makanan yang kami suka dan makan yang banyak karena kami belum sarapan. Selesai sarapan, kami berangkat menuju Tangkuban Parahu. Sepanjang jalan kami berbincang-bincang dan bergurau dengan supir taksi. Supir taksi senang karena kami menolongnya memahami apa yang dikatakan oleh miss Mukda, sehingga ia tidak kesulitan untuk menyampaikan sesuatu pada teman baru kami.
Setelah hampir sampai ke tujuan kami berhenti sejenak untuk membayar registrasi, wisatawan non lokal harus membayar tiga ratus ribu rupiah sementara wisatawan lokal hanya membayar tiga puluh ribu rupiah. Aku dan temanku mendapat ide cerdik agar teman kami tidak membayar mahal. Kami memintanya duduk di depan dan tidak menoleh ke petugas. Kami mengatakan kepada petugas bahwa kami bertiga adalah wisatawan lokal, dan langsung membayar sembilan puluh ribu. Pak supir taksi hanya tertawa melihat tingkah kami. Tak berapa lama kami pun tiba di Tangkuban Parahu, di tempat ini kami mengambil banyak foto. Keindahan alamnya membuat kami sangat senang berada disana. Beberapa jam kami habiskan untuk berkeliling dan membeli beberapa cenderamata. Kami segera meninggalkan tempat indah itu karena miss Mukda harus balik ke Jakarta pukul 4 sore. Kami mengantarkannya ke stasiun kereta sekaligus berpisah dengannya, sebelum berangakat ia memeluk kami dan berkata ia akan merindukan kami dan menunggu kedatangan kami di Thailand. Kami memang baru kenal satu sama lain tetapi kami terlihat begitu akrab. Esok harinya aku juga kembali ke Jakarta. Sisa hari libur yang kumiliki tinggal menghitung hari dan itu aku gunakan untuk berkunjung ke rumah saudara-saudara. Ini adalah pengalaman luar biasa yang akan selalu ku simpan di dalam ingatanku. Aku sangat menyukai hari libur dan ingin melakukan perjalanan berikutnya.