Perjalanan jauh atau dekat, berpindah dari satu stasiun ke stasiun lain, menaiki tingginya gunung, menyusuri pantai, berteduh di hutan belantara, melawan terpaan angin, menemukan tempat wisata baru atau berkunjung ke tempat-tempat yang sedang menjadi hits di kalangan traveler. Apakah esensi dari sebuah perjalanan adalah demikian?

Kadang orang-orang berbondong-bondong mendatangi tempat yang menjadi tranding topik di setiap musimnya. Sebenarnya apa yang mereka cari? Ada yang hanya sekedar ingin berfoto lalu berbagi pada sosial media bahwa ia telah berhasil menjamahi tempat wisata baru. Tak jarang hal itu kadang membuat iri orang lain. Kemudian apa sebenarnya esensi dari sebuah perjalanan?

Rangkuman perjalanan ini memiliki esensi bahwa sudut pandang perjalanan tak hanya soal berfoto dan mengenalkan destinasi. Ber-traveling-lah untuk sebuah pengalaman dan mengenali batas diri.

Sesungguhnya perjalanan bukan hanya sekedar bermain tanpa persiapan.

Saat sebuah perjalanan masih terasa abu-abu bagi ku, aku hanya mengikuti keisengan orang lain ikut pergi kesana kemari dengan persiapan yang hanya sehari dua hari. Tak jarang aku melakukan perjalanan dengan tanpa persiapan matang. Pergi tanpa rencana, dan berjalan apa adanya. Pulang pergi Purwokerto-Wonosobo setiap 2 minggu sekali dan berada di sana selama 2 hari. Saat pertama kali melakukan perjalanan ke Bukit Sikunir, Dieng, Wonosobo. Perjalanan yang paling konyol bagi ku, dengan prediksi waktu yang tak tepat dan tak membawa persiapan.

Advertisement

Pukul 03.00 Sikunir dengan suhu sedingin-dinginnya. Tiada tenda, matras, atau sleeping bag yang kami bawa. Menyewa salah satu peralatan itu pun bukan jawaban satu-satunya. Kami memutuskan beristirahat di dekat telaga Cebong, dengan menggelar mantel-mantel, duduk beralaskan mantel dan berselimut untuk berlima. Hanya dingin yang menjadi cerita saat itu. Orang-orang disekitar mungkin melihat kekonyolan kami, sedangkan mereka tak akan bertindak bodoh seperti ini. Namun, saat itu ialah pilihan yang terbaik dan menjadi pelajaran berharga bahwa tak selamanya perjalanan itu tanpa persiapan.

Setiap perjalanan ialah belajar menjadi tour guide untuk diri sendiri dan orang lain.

Perjalanan mengajarimu untuk tahu dirimu sendiri. Sejauh mana dirimu mampu bertahan berjalan jauh, mengerti jalan keluar ketika tersesat. Kamu tidak bisa mengandalkan orang lain untuk menjamin keselamatanmu. Bahkan pada teman perjalanan laki-laki sekalipun tak bisa kamu mengandalkannya. Walaupun pada dasarnya adanya lelaki dalam setiap perjalanan adalah untuk melindungi.

Seperti saat menjelajah Curug Gagak di Kemutug Kidul, Baturraden. Tempat wisata ini masih belum tereksplor. Rute jalan menuju Curug ini harus menuruni tebing. Masih ekstrim sekali dan masih lumayan tinggi tebingnya. Hanya ada seutas tali untuk membantu turun tebing. Saat menuruni tebing itu, perasaan was-was, pikiran yang tidak karuan. Teman-teman ku pun merasakan hal yang sama. Mencoba tenang, saat mulai menuruni tebing itu. Ketika itulah aku harus menjadi tour guide untuk diri sendiri. Tergelincir sedikit saja, bisa terjatuh. Aku pun turun dengan cara yang berbeda dengan teman-teman.

Perjalanan ialah soal mengenal orang baru dan belajar tentang isi kehidupan.

Bermula saat aku mengikuti relawan mengajar di Desa Pakis, Gunung Lurah, Cilongok. Sebuah desa yang jauh dari peradaban kota. Ungkapan dari seorang guru relawan disana, bahwa desa ini bukan menjadi desa tertinggal tetapi desa yang ditinggalkan. Tetapi menyimpan semangat yang sungguh luar biasa. Tak hanya potensi desa yang menjadi desa wisata, disana pun ada sebuah penumbuh semangat anak-anak desa yang ingin meraih citanya. Sepetak gedung berdiri kokoh di tengah rerimbunan pohon-pohon khas kaki gunung. Bangunan yang berbentuk huruf L menjadi satu tanpa sekat yang sebenarnya terdiri dari tiga ruangan. Sepi, sepintas aku melihat tiada puluhan bahkan ratusan siswa sekolah seperti yang ada pada sekolah umumnya. Hanya ada 7 siswa yang bertahan dan menggunakan fasilitas gedung itu. Dengan seorang pengelola dan 3 orang relawan yang berasal dari berbagai kabupaten.

Bermain bersama anak desa membuat arti kebahagiaan tersendiri. Senyum kepolosan, keceriaan membawa suasana kebahagiaan yang nyata. Latar belakang tak menjadi masalah buat mereka. Yang penting ialah semangat itu tetap ada. Semangat belajar meskipun dengan relawan. Perjalanan ke kaki gunung kini menjadi bekas kenangan, bahwa semangat dan impian itu tiada tak terbatas dinding-dinding desa. Relawan yang juga selalu semangat untuk menggugah pemuda desa membangun desa itu, sehingga tak ada lagi ungkapan bahwa desa ini adalah desa yang ditinggalkan.

Teman perjalanan kadang membuat kita mengerti arti sebuah persahabatan.

Seringkali teman perjalanan adalah mereka yang mengerti kita dan mereka yang tahu apa yang kita butuhkan. Kita bisa mengenal karakter teman-teman melalui sebuah perjalanan. Mereka yang sering melakukan perjalanan bersama ialah mereka yang sudah merasa nyaman dan menganggap setiap perjalanan ialah ada aku, dia dan cerita perjalanan itu. Tak ingin melewatkan satu pun momen tanpa teman perjalanan. Namun, bila mana ada orang lain datang pun mereka akan sangat terbuka dan menerimanya. Karena dengan perjalanan kita bisa mengenal karakternya lebih jauh. Dan dengan perjalanan itulah cerita persahabatan berawal dan yang paling melekat dalam ingatan.

Sudah banyak tempat ku kunjungi dengan teman perjalananku. Kami menamainya dengan ‘Pendekar Traveler’ dan ‘Jiwa Pemuda Adventure’. Tak ingin aku melewatkan setiap momen tanpa anggota kelompok itu. Tetapi sering juga kami mengajak orang lain untuk bergabung dalam perjalanan kami, agar kami bisa menemukan pengalaman yang lebih bervariasi lagi dan menemukan arti persahabatan dalam sebuah perjalanan.

Tentang batas diri yang jangan sampai kau menutupi.

Saat pendakian Gunung Sumbing via Sipetung. Sudah dua kali melewatinya, tipe jalur sudah hampir paham dan hafal. Namun yang tak bisa diduga ialah alam. Jalur yang super duper miring dengan cuaca yang kadang ekstrim dan melewati bukit demi bukit, cukup menguras tenaga. Ketika pertama kali melewati jalur ini terlihat lama, tetapi saat kedua kalinya melewati jalur ini aku merasa jauh lebih terasa sekali beratnya. Hal ini, dibedakan dengan kondisi alam yang berbeda. Saat musim penghujan lebih terasa berat dibanding musim kemarau. Saat itulah aku mengerti tentang batas diri. Segala sesuatunya tidak bisa di samakan. Apalagi tentang kondisi alam yang selalu tak bisa dengan mudah untuk diprediksi.

“Selalu ada pelajaran dalam setiap perjalanan. Traveling itu bukan soal mengikuti trand, tetapi tentang keluar dari rutinitas dan belajar untuk hal baru, hingga menjadi sebuah guru dalam kehidupan”