Ada semacam perjanjian nggak tertulis dalam dunia penyuka drama korea—drakor—, kalau pemeran utama pria (lead male) memenangkan hati pemeran utama wanita (lead female), maka pemeran pembantu pria (second lead male) biasanya memenangkan hati pemirsa.

Yang ngaku penyuka—atau bahkan penggila—drakor pasti tahu pola ini kan? Ehm, siapa sih yang nggak akan dibuat kesel atau patah hati, saat tahu si second lead atau second man yang biasanya baik hati, justru ditinggalkan sama sang lead female. Sementara itu, sang lead actor atau lead male yang biasanya brengsek melo, justru berhasil memenangkan hati sang cewek. Betapa nggak adilnya sebuah drama. Tapi ini pengecualian buat Kim Junghwan-nya Repply Series. Sebaiknya tidak dibahas sakit hati yang satu ini.

Masalahnya, apakah ini juga berlaku di dunia nyata?

Nggak jauh-jauh beda sih. Seperti itu juga di dunia nyata. Nggak jarang, menjadi pengagum rahasia atau second lead, seringkali patah hatinya, dibanding memenangkan hati sang pemeran utama. Masalahnya lagi, nggak semua orang bisa memilih untuk jadi apa dan siapa. Nggak semua orang bisa menentukan dirinya jadi pemeran utama atau ‘hanya’ jadi pemeran pembantu.

Cinta seringkali gitu-gitu amat. Saat berada di dekatnya dalam waktu lama dan selalu ada untuknya. Bahkan tahu banyak hal tentang si dia, dan selalu ada bersamanya dalam situasi apapun. Mau sedih atau senang, selalu di dekatnya. Eh, tapi ternyata si dia justru tertarik pada orang lain.

Advertisement

Dan akhirnya yang memenangkan si dia, justru orang lain. Sakit rasanya. Dan kenyataan seringkali nggak seindah dalam drakor. Kenyataan mengajarkan rasa sakit yang lebih nyata, dibanding empati yang muncul pada sang second lead male. Penonton akan dengan senang hati, membuka hati lebar-lebar untuk sang second man yang patah hati. Tapi ya, mereka Cuma ada di drama. Jadi, hentikan delusional itu.

Kalau bisa memilih, tentu tiap orang ingin jadi pemeran utamanya. Ingin jadi fokus perhatian semua orang. Kalau kata pangeran tampan di Scarlet Heart, Pangeran Wook, namanya serakah jika mengharapkan cinta dan tahta (dunia) sekaligus.

Pada akhirnya salah satu harus dikorbankan. Dan memang seperti itu kenyataan. Nggak semua orang bisa mendapatkan semuanya. Biasanya sih, Cuma si pemeran utama aja yang bisa dapat semuanya. Tapi itu juga nggak berlaku buat King Gwangjong-nya Scarlet Heart. (obrolan ini lanjut di belakang aja ya)

Balik lagi pada second lead male. Coba deh cek, berapa banyak drama yang harus dilakoni sang second lead male—atau female—sebelum akhirnya jadi pemeran utama? Ada yang bisa mendapatkannya secara instan—baca langsung jadi pemeran utama—. Tapi nggak jarang juga, butuh bertahun-tahun dan berderet drama sampai akhirnya diakui dan punya kesempatan jadi pemeran utama. Dan nggak sedikit juga, yang udah berusaha bertahun-tahun, tapi ternyata nggak juga punya kesempatan alias gagal.

Cinta juga sama seperti itu. Berkali-kali patah hati dan sakit hati karena Cuma jadi ‘yang kedua’ apalagi ‘cadangan’, nanti ada waktunya kok buat jadi pemeran utama. Yang diperlukan, kesabaran dan kerja keras. Simpelnya sih, semua butuh yang namanya penerimaan dan memperbaiki diri sebelum menemukan tambatan hati, yang nantinya bisa menjadikanmu sang pemeran utama di hidup mereka.

Capek? Jelas lah. Untuk memantaskan diri jadi pemeran utama, para aktor itu juga jungkir balik latihan dan latihan, audisi demi audisi dan nggak berhenti mencoba. Seperti itu juga harusnya hidup. Perlu berjuang supaya layak untuk jadi pemeran utama. Emang sih, jadi pemeran utama dalam kehidupan nyata itu relatif adanya. Kalau para aktor harus berhadapan dengan produser, writer dan warganet yang nggak jarang kritiknya pedas, maka memantaskan diri dalam cinta juga nggak jauh beda. Dari bertarung dengan diri sendiri untuk jadi lebih baik, omelan dan keluhan keluarga yang maksa buruan nikah, sampai candaan teman yang kadang nggak ngerti situasi dan kondisi hati.

Sebuah jawaban, biasanya tergantung pada usaha kita. Nggak ada produser yang mau ngontrak artis yang audisi-nya Cuma cengar-cengir atau hobi telat datang syuting. Tuhan juga mikir-mikir mau ngasih jodoh kece, kalau kita-nya yang minta nggak serius-serius amat usaha. Yang jelas, untuk bisa dapat jawaban jelas dan seperti yang diminta, maka memantaskan diri perlu tujuan yang jelas.

Ada yang pernah tanya sama diri sendiri, buat apa sih saya memantaskan diri? Cuma biar dapat jodoh? Biar orang tua nggak ribut nanyain nikah terus? Atau biar mulut cerewet tetangga sebelah bisa sedikit merapat? Atau bahkan, Cuma sekedar gengsi pada orang lain, yang sudah punya jodoh? Halo … memantaskan diri itu, pada prinsipnya buat diri sendiri. Baru tujuan berikutnya, buat orang lain. Gimana mau sayang orang lain, kalau nggak sayang diri sendiri. Atau, gimana mau pantas jadi pemeran utama kalau nggak pernah ngerasa pantas di posisi ini.

Mungkin nggak sih, kalau semua usaha yang udah dilakukan ternyata gagal? Semua usaha memantaskan diri, memperbaiki diri dan menerima diri apa adanya, ternyata nggak membuahkan hasil apapun? Semua kemungkinan itu ada. Yang jadi masalah, mau tetap terpuruk dalam kegagalan itu, atau bangun dan bangkit mencari cinta baru. Katanya, nggak boleh lho bertahan dan terdiam saja di depan pintu yang terlanjur tertutup.

Harusnya tuh, beranjak dan move on, mencari pintu (hati) yang baru, untuk kemudian diketuk, diperjuangkan dengan memantaskan diri dan didapatkan hatinya. Yang udah usaha buat memantaskan diri aja, masih bisa gagal. Lah, yang nggak usaha, apa lagi. Jelas lah gagalnya. Ya paling nggak, kalau pernah mencoba, apapun hasilnya, nggak akan nyesel. Mungkin suatu saat malah akan jadi bahan guyonan yang seru. Toh gagal itu, tentang sudut pandang saja. Bukan akhir dari suatu perjalanan hidup.

Katanya sih, kalau minta sama Tuhan, Cuma ada tiga macam jawaban. Iya, nanti atau ada yang lebih baik dari yang kamu minta. Yang mana yang bakalan jadi jalan hidup nantinya? Tergantung kita juga. Kita bakalan jadi makhluk yang pantas dapat jawaban apa.

Kalau orang jawa bilang, ‘urip iku sawang sinawang’—hidup itu saling memperhatikan dan menilai—. Orang lain boleh lah, ngasih penilaian atau anggapan apapun soal hidup kita. Tapi toh yang menjalani nantinya adalah kita. Mau jadi apa nanti, ya kita yang merasakan. Pilihan apapun yang kita ambil, maka kita juga yang harus siap dengan segala konsekuensinya.

Memantaskan diri, sekali lagi bukan urusan semacam membalik telapak tangan. Butuh kerja keras, usaha tak kenal henti dan penyerahan diri yang sempurna, untuk ini. Sampai suatu saat nanti, kita nggak akan Cuma jadi second lead lagi. Tapi kita akan pantas menyandang status lead female atau lead male yang bisa mendapatkan hati sang pemeran utama. Semua tergantung pada diri kita.

Semoga sukses!