Rasanya baru kemarin aku melihatmu dari kejauhan, memandang dengan penuh minat akan apa yang kamu lakukan. Kamu seperti candu, membuatku selalu ingin bertemu meski hanya melihatmu bertopang dagu. Dulu aku masih berpikir kekanakan, mungkinkah kamu pernah melihatku barang sebentar?

Ini sekedar aku, gadis yang dari kejauhan menyimpan kagum teramat dalam. Mungkin tidak akan kamu ketahui rasanya memandangmu dalam diam dan senyuman, menantimu di gerbang sekolah saat kelas kita pulang bersamaan, dan diam-diam mengamatimu yang sibuk berkelakar dengan teman-teman satu kelasmu yang hampir kuhafal namanya. Ya, apakah ini memang sekedar kagum yang diam-diam?

Lalu, kudengar kamu mencintai gadis lain, yang mungkin lebih baik dariku. Lebih dari definisi baik untukmu.

Aku tak berani patah dalam sebenar-benarnya patah.

Kenyataan bahwa kamu mencintai orang lain, tanpa sedikitpun menoleh padaku, adalah hal yang kuyakini akan terjadi. Aku cukup baik untuk tahu siapa diriku. Siapakah aku bagimu? Hanya keping ingatan yang kamu lupakan, bukan? Kamu hanya tahu aku dalam selintas pertemuan tanpa sengaja yang kemudian dengan cepat berlalu. Kamu berlalu, meninggalkanku yang tergila-gila padamu, Sedang aku, olehmu, tak pernah kamu rindukan pertemuan-tanpa-sengaja itu.

Advertisement

Atau bahkan, kamu tidak pernah benar-benar mengingatku. Barangkali kamu hanya tahu aku sebagai salah satu dari sekian banyak temanmu. Ya, barangkali hanya itukah aku bagimu?

Karena sekali lagi, tak apa. Sungguh.

Kemudian, Tuhan mengabulkan doaku. Aku bertemu denganmu, berkenalan, dan berbicara banyak hal denganmu. Kenyataan bahwa pada akhirnya kita dipertemukan dalam kesengajaan dan kamu mulai mengenalku, adalah kenyataan paling manis yang tidak akan kulupakan. Terima kasih, pernah mengenalku dan mengingat wajahku, meski pada akhirnya kamu melupakan. Hanya dengan memandangmu dalam diamku, kupikir sudah lebih dari cukup untuk mengisi ruang hatiku yang penuh candu akan rindu.

Terima kasih, untuk percakapan-percakapan sore itu.

Meski pada akhirnya aku bukan satu-satunya, ingatlah bahwa kamu pernah menjadi satu-satunya untukku. Ingatlah bahwa ada gadis yang masih penuh syukur bersamamu atas pertemuan dan percakapan yang kita sengajakan.

Pada waktu aku berujar, "Beranjaklah sampai aku lupa bahwa aku pernah menunggu. Pergilah, sampai aku lupa bahwa aku sudah ditinggalkan. Berlalulah, sampai aku lupa bahwa aku telah dilupakan,"

Sedang olehmu, aku benar-benar menjadi kepingan; yang pecah dan tak meninggalkan sisa.

Terima kasih, karena pernah mengingatku barang sebentar. Karena aku tak punya banyak hal untuk dikenang. Pergilah, kamu. Sejauh yang kamu bisa, kemudian berjanjilah untuk tidak menoleh lagi padaku. Karena aku akan dengan penuh luka, kembali mencintaimu. Seperti orang bodoh, mencintaimu yang memilih berlalu. Merindukan senyummu, yang kutahu bukanlah untukku. Mengkhayalkan pertemuan-pertemuan tanpa sengaja seperti biasa, meski kutahu pertemuan itu tidak pernah kamu harapkan.

Karena sungguh, ini hanya sekedar aku, keping ingatanmu yang terlupakan, yang tidak meminta untuk diingat, pun meminta untuk dikenang. Jatuh cinta terbaikku, terima kasih karena itu kamu. Suatu hari, ketika kamu benar-benar tak lagi ingat siapa gadis yang dengan setia mencintaimu dalam diam, kuharap semesta akan mengingatkan, bahwa itu aku.

Ya, sekedar aku, gadis yang mencintaimu dalam sebenar-benar kecintaan dalam diam.

Ya, sekedar aku, gadis yang menjadi keping ingatan yang kamu lupakan.