Sepulangnya aku semalam dari rumahmu. Kembali ku jumpai Tuhanku dalam sela malam yang larut. Aku kembali memperbincangkanmu dengan-Nya.  Memberitahukan pada-Nya bahwa di ujung sana ada lelaki yang selalu ingin ku dekap, yang selalu ku cari senyumnya untuk memastikan bahwa duniaku ternyata kini tak lagi kelabu.

Aku bercerita dengan semangatnya, namamu ku sebut berulang-ulang. Saking gemarnya menyebutkan namamu, aku lupa waktu.  02.02 Pagi, aku masih memilin rindu. TuhanKu juga masih setia menemani, mendengarkan curahan hatiku. Intonasi suaraku berubah-ubah, kadang aku berceloteh tanpa jeda saat menceritakan bagian tentang bagaimana rasanya aku melewati koridor jalan raya yang panjang, melesat menikmati udara malam yang dingin, mendekap punggungmu dalam diam, dan mencuri kesempatan untuk menatapmu lebih lekat. Lalu, mulai melambat karena tersendat oleh isakan, sambil menitikkan air mata karena menggingat bahwa akan ada bagian yang terlihat sendu dan rapuh jika akhirnya namamu suatu saat nanti bakal hilang dalam bab akhir cerita. Kemudian kembali  menggebu-gebu, ketika ku sebut namamu kembali, ku ceritakan bagaimana tatapan sinismu mulai mengintari pikiranku, tentang bagaimana suaramu begitu menetramkan hatiku yang kalut, tentang bagaimana hinaan dan ejekanmu bisa menjadi pujian termanis bagiku, tentang bagaimana kecupan dalam tulisan Blackberry Messager menjadi begitu berarti bagiku, tentang bagaimana pelukanmu bisa terasa hangat menjalari tubuhku. Kemudian, intonasi suaraku berubah menjadi bisikan, dengan ekspresi malu-malu ku ceritakan pada-Nya tentang bagaimana rangkulan dan dekapanmu menjadi candu bagiku.

TuhanKu pasti mulai menggulum senyumnya, tertawa kecil melihat tingkah polaku saat berceloteh tentangmu. Menceritakanmu dalam beragam ekspresi. Berbincang cukup lama dengan TuhanKu itu sungguh melegakan perasaan. Setidaknya TuhanKu tahu aku mencintai pria yang belum mengenal-Nya. Yang cara merapalkan doanya berbeda denganku, mencintai seorang Pria yang tempat peribadatannya tak sama denganku. Aku terus menyebut namamu, agar TuhanKu sedikit memberi keringanan pada cerita manis kita.

Ini semua tentang kamu. Tentang seorang Pria dengan perawakan yang khas. Tentang Lelaki yang memiliki tatapan sinis yang menggemaskan. Tentang kamu yang menyalakan debaran dalam hati. Yang mendekorasi pilar hati yang tadinya hanya mengenal hitam putih kini tampak semarak dengan hiasan pita warna-warni. Tentang kamu , pria dengan senyuman tipis  yang ku jumpai pertama kali di Bandara. Tentang kamu, juga diammu yang menggelitikku untuk terus mencari tahu segala hal . TENTANG KAMU. 

Dariku yang hingga kini masih jadi Fans Fanatik mu.

N C U