Untukmu yang sekarang sedang berbahagia di sana..

Aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya. Tapi kamu tiba-tiba saja hadir di hidupku. Perkenalan yang sangat biasa memang. Hanya diawali dengan obrolan di salah satu media sosial.

Awalnya, aku hanya menganggapmu sebatas hiburan sesaat. Tak pernah terpikir olehku kamu akan mengisi hari-hariku, bahkan hatiku.

Memang, aku sempat mengacuhkanmu. Selalu menolak ajakanmu untuk sekedar menghabiskan waktu bersama di kedai kopi favoritmu.

Tetapi kamu selalu menunjukkan usaha yang tak henti. Hingga tiba saatnya aku menerima ajakanmu untuk menjemputku dari kantor dan saling bertukar cerita diselingi canda tawa di tengah-tengah kemacetan ibukota.

Advertisement

Itulah yang merubah penilaianku terhadapmu. Sudah sering kudengar, tawa adalah jalan utama menuju hati. Dan tanpa kusadari, akupun mengharapkan kebersamaan kita di lain hari.

Dua hari setelah kebersamaan kita yang pertama, kamu mengajakku kencan. Akupun merasa belum ada yang spesial pada kencan itu. Hanya sekedar makan siang kemudian nonton film yang memang sedang ramai dibicarakan semua orang. Ya, hanya itu.

Tetapi entah mengapa, kebersamaan yang kita lewati hari itu membuatku merasa tak ingin hari itu segera berakhir. Kuakui, aku sangat menikmati apa yang kita lewati hari itu.

Selang beberapa hari setelah itu, kamu menawarkan diri untuk mengunjungi rumahku. Perasaanku sangat campur aduk saat itu. Bukan karena aku tidak senang akan kehadiranmu, sama sekali bukan. Tetapi karena kamu secara resmi akan mengenal orang tuaku.

Hari itu berjalan dengan sangat baik. Begitu pula orang tuaku yang menerimamu sengan senyum yang tulus. Dan pada hari itu, untuk pertama kalinya kamu menciumku ketika kau hendak pulang. Ciuman yang singkat, namun seketika mempercepat debar jantungku, yang mungkin saat itu tak kamu sadari.

Hari-hari selanjutnya terasa semakin membahagiakan. Tak hentinya aku mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa karena telah memberikanmu untuk mengisi hidupku.

Aku masih sangat ingat, hari itu hari Selasa, dan kau menjemputku seperti biasanya. Kita melanjutkan perjalanan ke salah satu Mall di tengah kota Jakarta. Hari itu hari terakhirmu di Jakarta. Karena esok kau harus berangkat dinas ke Jawa Timur selama 3 minggu.

Aku merasa tersanjung karena kamu memilih untuk menghabiskan waktu bersamaku sebelum keberangkatanmu esok hari.

Ketika kita sedang menikmati santap malam, kamu memberitahukan kepadaku sesuatu yang membuatku cukup terkejut. Seorang wanita dari masa lalumu menghubungimu kembali dan mengemis agar dapat merajut kasih bersamamu lagi.

Entah apa yang kurasakan saat itu. Aku sendiripun tidak sanggup untuk mendeskripsikannya. Tapi aku masih bisa berusaha terlihat baik-baik saja dihadapanmu.

Aku mencoba untuk memberikan pendapat terbaikku. Walaupun di balik itu semua, ada rasa sakit yang perlahan-lahan menggerogoti.

Namun saat perjalanan pulang, rasa sakit itu sedikit terobati. Lantaran kamu mengatakan bahwa kamu merasa nyaman denganku dan mengharapkan ini semua berakhir dengan pernikahan. Senyum dan tawa yang keluar saat itu sudah cukup mewakili bahwa aku sangat bahagia mendengar hal itu terucap dari lisanmu.

Tanpa kamu ketahui, di hatiku terucap kata "Amin"

Komunikasi kita berjalan cukup lancar ketika kamu berada di kota lain. Ya, semuanya baik-baik saja.

Sampai suatu ketika kamu memberitahuku hal yang sangat aku takutkan. Wanita masa lalumu memaksamu untuk bertemu. Karena kebetulan kamu sedang berada di kotanya saat itu.

Aku sangat menghargai kejujuranmu. Sangat kuhargai. Tapi aku juga tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang semakin aku rasakan. Rasa sakit dan takut seolah berlomba untuk menghancurkanku.

Aku hanya bisa pasrah. Yang kulakukan hanya memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Aku mempercayakan semua hal yang telah terjadi dan akan terjadi merupakan kehendakNya.

Pagi hingga malam, tak pernah bosan kumenyebut namamu dalam setiap doaku. Akupun berusaha untuk tidak bertanya padamu bagaimana kelanjutan wanita itu. Ya, karena aku mempercayaimu.

Tuhan memang sebaik-baiknya pembuat rencana. Tiada satu detikpun dari hidup kita yang luput dari campur tanganNya.

Tiba hari di mana kepulanganmu ke Jakarta. Aku sangat senang. Tapi ternyata takdir telah berubah.

Aku tidak tahu apa yang telah terjadi ketika kita terpisah kota dalam waktu tiga minggu itu. Yang aku tahu hanya kamu mengabariku bahwa kamu telah kembali meerajut kasih dengan wanita dari masa lalumu itu

Aku marah. Tapi aku tidak tahu kemana amarah ini harus aku lampiaskan. Apakah wanita itu? Atau kepadamu? Atau kepada Tuhan?

Tidak mudah memang menerima kenyataan sepahit ini. Tak ada hentinya aku mengadu pada Tuhan. Kenapa aku harus selalu menjadi pihak yang dikorbankan?

Hari demi hari kulewati dengan perasaan hampa. Meyakinkan diri untuk menerima kenyataan bahwa sepahit apapun itu, inilah rencana terbaik yang diberikan Tuhan.