Sudah hampir 2 bulan kita tidak bertemu. Bagaimana keadaanmu? Ku doakan kamu selalu baik-baik saja di manapun kamu berada.

Ah, namun di sini aku terpuruk. Kamu tahu aku masih seorang pengangguran, di tambah lagi sosok dirimu yang seakan tidak mau menghilang dari pikiranku. Kamu selalu saja berhasil mengecohkan duniaku. Jangankan bayanganmu, candaan tawamu saja rasanya masih terdengar renyah di telingaku. Bahkan sekuat apapun aku berusaha untuk melupakanmu, hanya sia-sia belaka!

Sekerasnya keyakinan aku berusaha acuh dan berhenti melamunkan dirimu. Lagi dan lagi usaha itu hanya sia-sia. Aku yang sejak awal berusaha untuk menjaga jarak denganmu, tidak berdaya dengan sikapmu yang selalu membuat diriku nyaman berada di sampingmu; seolah aku ingin memilikimu tapi keadaan tidak berpihak kepadaku.

Kamu telah dimiliki orang lain. Bagaimana aku bisa merebutmu darinya? Sedangkan aku tidak pernah diajari untuk menjadi seorang pencuri.

Namun di sinilah aku meragukanmu; kamu memang pernah bilang untuk tidak mudah lepas darinya begitu saja, sedangkan dirinya yang ku ketahui sangatlah menyayangimu. Kamulah yang telah memberinya isyarat untuk meninggalkanmu. Tapi ia tetap bertahan. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa dirimu yang dulu seakan menggebu menginginkannya kemudian kamu ingin meninggalkannya begitu saja?

Advertisement

Biarlah kalian tetap bersama karena bagaimanapun akhirnya tetap aku tidak akan bisa memilikimu.

Aku tahu diri! Mana mungkin kamu berubah memiliki selera rendah; diriku. Lagi pula, tidaklah mungkin aku, orang baru yang kamu kenal kemudian sudah meminta hatimu untuk ku miliki, sangat tidak mungkin.

Walau hubungan kita masih bisa dikatakan baru, rasanya aku sudah mengenalmu sangat lama. Sudah ku ketahui apapun dari dirimu. Hal-hal yang tidak kamu sukai, apa saja yang kamu lalukan. Bahkan kerap kali kamu menceritakannya kepadaku walaupun aku tidak membutuhkan untuk mengetahuinya.

Aku mencintaimu tapi tidak bisa memilikimu. Rasanya benar adanya bahwa ‘cinta tidak harus memiliki’.

Aku hanya memiliki kenangan-kenangan bersamanya tidak dengan orangnya. Aku meragukan ada seseorang yang lain yang mampu melenyapkanmu dari sisi hatiku. Sungguh, kamu cinta pertamaku!

Walaupun sebelumnya aku pernah bersama yang lain, tapi tidak seperti denganmu. Kita memang tidak ada ikatan selain pertemanan, namun ketahuilah rasaku jauh melebihi seorang teman kepadamu.

Kadang kala aku berpikir kenapa bisa diriku menjadi seperti ini setelah kehadiranmu? Kenapa harus kamu? Begitu rumitnya keadaan seperti ini. Namun satu yang pasti ku ketahui, Tuhan memiliki maksud tertentu mempertemukan aku denganmu.

Inilah cinta; tak butuh berbagai alasan. Aku tidak butuh kriteria apapun untuk menyakinkanku, menyakinkanmu bahwa kamulah yang selama ini yang aku cari, yang aku inginkan. Semuanya sudah ada pada dirimu tapi tidak denganmu. Kamu memang pantas mendapatkan seorang wanita yang lebih berkualitas untuk berada di sampingmu, untuk kamu miliki.

Kamu selalu memasang kriteria yang seakan membuatku tertunduk malu; hingga rasanya telingaku sakit mendengarnya. Entah kamu sedang bercanda atau mengkhayalkan itu benar terjadi, terasa ada yang menyesakkan di dada kemudian membuat mataku terasa amat perih. Dan aku tidak ingin menumpahkan air mataku, apalagi di hadapanmu.

Ketika itu pula, aku hanya membuang muka dari hadapanmu. Ingin berlari menjauh darimu yang tidak pantas berada di dekatmu. Namun lagi, hal itu tidak bisa aku lakukan. Menjauh darimu hanya membuatku seperti orang mati. Sekalipun berada di sampingmu membuatku seperti orang tolol yang seakan mengemis perhatianmu, mengemis waktu untuk dapat selalu berada denganmu, di sampingmu.

Untukmu yang selalu berada di jiwaku. Ketahuilah, aku sangat merindukanmu. Aku sangat menyayangimu. Hingga rasanya tidak tega untuk meyulitkanmu, membuatmu terluka.

Kemarin kamu berjanji untuk mengunjungiku walau hanya sekadar untuk keperluan yang sebenarnya tidak perlu kamu lakukan pun sudah aku ikhlaskan. Seperti anak kecil yang kegirangan mendapatkan hadiah, aku senang sekali tapi entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Pikiranku diliputi berbagai macam hal-hal yang tidak sepatutnya aku curigai hingga mendadak seperti seseorang yang sedang cemburu dengan kekasihnya.

Aku menyadari bahwa hari itu adalah hari Jumat. Hari di mana setiap kali kamu selalu menjemput kekasihmu. Apalagi kamu bilang kalau kamu sedang cuti. Bisa saja setelah kamu menghabiskan waktu dengan kekasihmu kemudian kamu bertemu denganku. Rasanya ada perasaan ketidakpenerimaan. Bagaimana mungkin aku yang bukan seseorang yang berarti bagimu bisa berpikiran bahkan memiliki perasaan yang seperti ini terhadapmu? Aku telah menerima bahwa aku hanyalah bagian kecil dari hidupmu. Aku hanyalah sandaranmu ketika kamu butuh.

Kemudian aku sudah menunggumu berjam-jam. Lagi kamu mengingkarinya. Tidakkah bisa egomu itu kamu kurangi sedikit saja? Egomu seperti dinding yang menjulang tinggi untuk memisahkanku denganmu atau aku yang terlalu mendramatisir keadaan ini?

Ataukah kamu memang tengah menjauhiku? Jelaslah sudah apa artiku bagimu. Ku bendung sekuatnya agar air mataku tidak tumpah ruah, namun tidak mampu lagi kulakukan.

Aku selalu pasrah dengan keadaan seperti ini bersamamu; bahkan telah terbiasa. Bodohnya aku tidak bisa meninggalkan kebiasaan yang buruk ini. Entah sampai kapan aku akan bertahan dengan keadaan yang seperti ini. Aku pun tidak menginginkan hal semacam ini terjadi padaku.

Hari demi hari, hingga berganti bulan pun tidak memudarkan rasaku kepadamu barang sekecil pun. Rasa cinta dan rindu dengan keegoisanmu terhadapku bahkan tidak membuatku membencimu. Aku hanya mengikhlaskan segalanya. Mengalir begitu saja mengikuti lajunya arus tak tahu akan terbawa kemana. Aku menyadari meskipun kita kembali dekat seperti dulu yang pernah kita lalui, tidak akan pernah sama lagi. Karena telah terselipkan sebuah rasa, cinta.

Dulu aku merasakan ada sebuah rasa yang kamu sampaikan oleh bahasa tubuhmu, oleh kata-katamu. Aku tidak bodoh dan tidak sedang ke-ge-er-an. Hal yang kamu lakukan terhadapku itu seperti seseorang yang sedang menawarkan hatinya kepada seseorang yang disukainya. Aku tidak bodoh meskipun itu gombalan paling murah, tapi kamu sudah berhasil meluluhkan hatiku. Namun sayang aku harus terbangun dari mimpi indah bersamamu.

Aku tepis semua itu walaupun sebenarnya aku tidak menginginkannya. Aku hanya ingin kamu bahagia.

Aku tidak ingin menjadi seorang perusak dalam hubungan kalian, walaupun kenyataannya aku menginginkan dirimu bersamaku. Tapi itu dulu. Dulu waktu awal-awal kita masih mengenal satu sama lain, saling mengisi kekosongan waktu kita. Sekarang semuanya sudah berubah. Di tambah dengan keputusanku untuk menginggalkan pekerjaanku. Hal itu pula yang membuatku meninggalkanmu. Karena memang pada akhirnya aku harus meninggalkanmu (walau dengan cara seperti ini).

Entah rasa apa yang ada di hatimu sekarang tentangku? Apa kamu peduli? Apa kamu merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan terhadapmu? Mungkin hanya ada rasa iba, rasa peduli, atau rasa yang paling rumit di hatimu tentangku?

Tidaklah mudah bagiku untuk melepas semuanya; setelah kamu membuat segalanya terasa begitu indah, setelah apa yang kamu lakukan terhadapku, kenyamanan yang tak tidak ku dapatkan oleh pria lain. Ku yakin kamu di sana baik-baik saja tanpa mengingat hal-hal tentangku dengan dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangimu.

Aku ikhlaskan semuanya pergi dari kehidupanku.

Satu persatu aku tinggalkan untuk masa depanku yang aku yakini akan lebih baik dari sekarang. Semua mengalir begitu saja, sama seperti awal perkenalanku denganmu, mengalir begitu saja.

Aku harus berbenah diri. Memantaskan diri untuk seseorang yang juga pantas untuk aku, untuk masa depan kami yang lebih baik. Bukan denganmu.

Aku patut berterima kasih kepada Tuhan karena telah memperkenalkanmu kepadaku. Kamu yang telah membawaku jauh ke angan melihat dunia dari sisi yang berbeda. Merasakan dan melihat keindahan walaupun hanya sejenak. Mengajariku tentang arti hidup, tentang arti kesetiaan, tentang arti cinta.

Terima kasih atas waktu dan bantuanmu yang terkadang terasa begitu berat untuk dilakukan. Terima kasih atas perhatian-perhatianmu yang telah membuatku luluh dan selalu mengalah atas kondisi apa pun. Terima kasih atas waktu luangmu yang telah kita habiskan bersama. Terakhir, terima kasih telah menjadi pelajaran untuk kehidupan cintaku berikutnya agar tidak terulang seperti ini.

Lepaskan dan berbahagialah, kamu yang menginspirasiku.

Jakarta, 31 Oktober 2016