Fenomena kekerasan memang pada kenyataannya tidak bisa dilepaskan dari sejarah manusia. Ingatlah ketika anak Adam dan Hawa saling bertikai demi merebutkan keinginan mereka bersama, Hingga pada akhirnya salah satu dari mereka harus mati ditangan saudara sendiri.

Inilah kejadian kekerasan yang pertama dalam literatur umat manusia. Dimana disana terdapat beberapa aspek pemaksaan kehendak, sebagai simbol penegasan kedaulatan atas orang lain.

Perang pun menjadi biasa, sampai kapanpun jika manusia masih hidup di dunia. kehancuran fisik moril menjadi salah satu dampak pengikut baik dari pihak yang kalah maupun pihak yang menjadi pemenang. Walaupun pada kenyataannya tidak pernah ditemukan istilah mengenai kemenangan yang mutlak. Balas dendam pun terlahir karena disebabkan dari peperangan dan kekerasan tersebut.

Namun, peperangan yang paling destruktif dan paling kejam, menurut Erich Fromm dalam catatannya, adalah adanya perang saudara yang tidak saja akan menghancurkan secara fisik, namun lebih jauh akan saling menghancurkan secara ekonomi, sosial, politik kedua pihak yang saling bertikai. Sebab kekerasan tersebut pada akhirnya hanya akan menjadi semacam tradisi bila mana salah satu dari keduanya merasa terancam, yang itu akan bergantung dari besar kecil ancaman yang dirasakan.

Pada hakikatnya manusia sebagai makhluk sosial yang konsumtif, karena didukung oleh nilai hasrat dan agresi seseorang, Untuk itu sangat diperlukanya untuk membuat satu struktur kemasyarakat. Dimana didalamnya terdapat interaksi sosial yang dapat memenuhi insting positif dalam diri tiap manusia masing-masing. Tapi kenyataannya, dalam era manusia industri saat ini, ketercukupan aspek tersebut sangat tidak mencukupi.

Advertisement

Jika mengutip pendapat dari Konrad Lorenz, Maka agresi dalam diri manusia tadi tidak juga terlepas dari faktor eksternal yang ada dalam satu struktur masyarakat. Tidak semena-mena konflik tersebut akan terjadi jika ada faktor eksternal yang melatar belakangi itu semua.

Erich Fromm menyimpulkan bahwa manusia dalam dirinya memiliki benih hasrat yang positif, yang semestinya harus ditumbuhkan dan dikembangkan. Manusia dalam struktur masyarakat perlu memiliki iklim yang mendukung benih tersebut untuk disalurkan secara positif