Hai, perkenalkan nama lengkapku Avis, orang-orang senantiasa memanggilku dengan sebutan Avis. Aku sudah hidup di dunia yang fana ini selama kurang lebih 7 tahun lamanya, dan di dalam kehidupanku, Aku memiliki sebuah impian yang begitu sederhana. Tak pernah diriku meminta untuk diberi rumah yang tingkat, besar, dan kaya akan harta di sekelilingku, hanya satu yang inginku pinta dan yang ingin aku rasakan adalah, Aku bisa seperti teman-temanku yang lain, menikmati pendidikan yang ada. Yah, begitu sederhana mimpiku, dengan ketidakcukupan yang aku miliki hingga detik ini, aku senantiasa selalu berusaha untuk menjadi seseorang yang optimis, dan tidak tahu kenapa diri ini, sangat yakin dengan mimpi-mimpi yang begitu sederhana, yah bisa sukses dan bisa membanggakan orang tuaku di surga sana.

Sebelum aku beranjak menuju keperaduanku, aku senantiasa memohon kepada sang pencipta, bahkan terkadang sampai mengeluarkan tetesan air mata. Tepat di depan hadapan Sang Pencipta, selama aku sudah hidup di dunia tidak pernah aku putus doa untuk kedua orang tua ku, dan untuk diriku sendiri, yah mungkin isi doa ku sama saja seperti yang dulu-dulu, tetapi sampai saat ini Sang Pencipta belum mengabulkan segala pintaku. Terkadang, aku sejenak berfikir mungkin ini belum menjadi bagian dari takdir hidupku di dunia, takdirku justru hanya menjadi sosok penjual kue di pinggiran jalan. Tapi, semua hal yang aku lakukan itu sama sekali tidak membuatku putus asa dalam bertindak, justru membuat diriku ini semakin selalu rajin berusaha sekaligus berdoa kepada sang pencipta alam semesta ini.

Diriku tak ingin menjadi seorang yang pintar, tetapi saat diriku pintar, justru aku lupa dengan mu, sang penciptaku. Diriku tak ingin menjadi seorang yang bergelimang harta, namun saat diriku bergelimang harta iman yang diriku miliki akan rusak. Diriku tak ingin menjadi seorang yang memiliki kondisi jasmani yang sehat, namun saat diriku sehat Aku melupakan segala macam nikmat yang engkau berikan kepada diriku. Diriku tak ingin mengecap kehidupan, tetapi saat diriku diberi kesempatan untuk menjalani hidup, diriku selalu lupa akan segala macam kewajiban yang engkau berikan kepada diriku. Jikalau memang, sang pencipta belum memberikan izin diriku untuk duduk tenang, memperhatikan sosok pengajar di depan ku itu bukan masalah buat diriku, yah mungkin inilah takdirku, yang terbaik yang engkau berikan kepada diriku

Terlalu panjang do'aku, tetapi aku begitu berharap akan semua itu, dan selalu kuulang disetiap 5 waktuku, dengan harapan yang begitu besar kepada Sang Pencipta dunia ini. Di umurku yang semakin berkurang, sampai saat ini aku belum pernah mengecap indahnya kasih sayang kedua orang tua. Yah, sederhana kasih sayang lembut seorang bapak kepada anaknya, pelukan yang begitu nyaman dari seorang ibu kepada anaknya, tak pernah datang menghampiri kehidupanku ini, tapi tak mengapa. Aku akan selalu berdo'a untuk mereka, di surga tempat mereka berada. Semoga mereka mendoakanku, kesuksesanku dari dunia sana.

Sejak Aku kecil, aku sudah terbiasa hidup di jalaan yang begitu kejam, keras dan penuh dengan keegoisan. Untuk menjalani kehidupanku, aku mencoba untuk berjualan kue yang kata pelangganku sangat enak, kue ini aku ambil dari penjual makanan yang selalu mengantarkan dagangan ini untuk dijual, kata ibu yang selalu mengizinkanku menjual dagangannya, ini adalah balasan karena diriku selalu membantunya, yah berkah ini memang begitu lumayan hasilnya untuk menghidupkan diriku sampai saat ini. Walaupun aku harus bercapek-capek ria hingga petang tiba, tapi tak mengapa karena Aku yakin sang pencipta akan senantiasa melihat hambanya yang selalu berusaha, dan semoga.

Advertisement

Tak ada satupun alat yang bisa menghibur diriku ini, hanya ada belas kasihan dari orang-orang yang mengiringi hari-hariku di kota besar dan terik ini, sampai pada akhirnya orang-orang berseragam dan bersepatu tinggi, dengan badan yang begitu tinggi dan besar melarangku untuk berjualan di jalan ini, aku di usir dari lapakku, nasibku di kota ini semakin menyedihkan, hidupku semakin gelap dari hari ke hari, apakah mereka yang melarangku tidak memiliki nurani. Boleh saja mereka melarangku untuk berjualan disini, asal mereka bisa memberikan ku uang untuk berjualan di jalan ini, tapi kenyataannya apa, mereka para pria berseragam lengkap dan bertubuh besar hanya bisa menyengsarakan nasib kaum lemah seperti ku, dan teman-temanku diluar sana. Dan, kalian yang mengintimidasiku semakin kaya, dan semakin bisa merasakan bagaimana nikmatnya hidup yang selalu berisikan kebahagiaan, tawa, canda, sementara diriku hanya hidup di dalam penderitaan, lemah di dalam kekejaman dunia yang kalian ciptakan.

Jikalau diriku tidak dapat merasakan betapa indahnya hidup dengan uang, setidaknya berikan diriku pendidikan yang pantas, jika diriku pintar pasti bangsa ini akan semakin mengecap kemajuannya aku rasa demikian. Namun herannya, dimanakah hati kecil kalian, apakah tidak ada satu saja yang masih bersih, suci dan belum ternodai dengan kelicikan dan kekejian karena memakan jerih payahku yang kalian korupsi, yang di nodai dengan kebusukan, keegoisan dan berbagai macam kejelekan lainnya.

Yah, diriku memang tak bisa berbuat apa-apa, yang hanya diriku lakukan adalah ingin melawan, ingin memberi ancaman, ingin berteriak di depan muka kalian, bahwasannya aku sedang tidak baik-baik saja, seperti yang kalian rasakan. Aku senantiasa bertanya kepada Sang Pencipta, akankah ada keadilan di dunia ini, jika ada kapan keadilan itu akan datang menghampiriku, disini aku sudah terlalu kenyang dengan ketidakadilan dan keegoisan dan kemunafikan. Tolong dengarkan suaraku yang lemah ini wahai pemakai seragam lengkap dan bertubuh besar, dengarkan jeritanku di setiap detiknya.

Kalau kudengar dari orang-orang diluar sana yang mengenyam pendidikan, mereka pernah bilang kepadaku bahwa pendidikan itu nomor satu, tetapi jika ku pikir mengapa sampai saat ini aku belum bisa merasakan indahnya belajar diruangan kelas yang ramai dengan teman-teman dari berbagai macam wilayah. Yah,aku memang tak bisa berbuat apa-apa. Ingin melawan, kalian mengancam, ingin memberontak, kalian mengelak, ingin marah, tetapi kalian malah mencemooh. Yah, hanya satu yang aku pinta, sejahterakan lah diriku dan teman-teman seperjuanganku, entah dengan sebongkah uang ataupun dengan sarana pendidikan yang semestinya, atau pelayanan umum yang begitu memuaskan, mungkin itu adalah satu jalan yang bisa merubah negara ini, yah inilah mimpiku yang begitu sederhana.