Mendung menggelayuti Ibukota. Cahaya tak menembus jendela yang terbuka lebar. Seisi kota gundah gulana dengan temaramnya pagi. Melawan resah, sama saja bunuh diri di hari Senin. Di atas sejadah Aku merenung akan apa yang kan ku lakukan sedari sadar hingga hinggap dalam mimpi. Seketika benak itu melintas dengan cepatnya.

Buku, buku, buku.

Hampir saja benak itu ditelan lupa. Bersyukur Aku sempat menangkap benak yang sekelabat lewat tadi. Basa-basi di meja makan menjadi ritual sakral tiap pagi yang dilakukan keluarga besarku. Dari politik, pusat perbelanjaan, film, mimpi, hingga hidangan yang terpampang di depan mata tak terlewat untuk diperbincangkan.

Aku selalu enggan mengikuti ritual itu selapas lulus SMA, karena merasa diri ini tak sanggup membahas topik yang rendah itu.

Menyeruput kopi, ditemani alunan tembang musisi lawas, serta melahap liar kata-kata dalam buku yang kuambil secara acak di kolong tempat tidur. Ibu selalu dirundung cemas dengan ritual sakralku. Intonasi lembutnya selalu kubalas dengan anggukan patuh yang sepatutnya.

Advertisement

Seketika gundah gulana berubah menjadi sumringah, matahari mulai menjalar di atas ubun-ubun pencari nafkah yang lalu lalang. Tanpa pikir panjang ku kenakan pakaian senyaman mungkin untuk mengimbangi matahari yang tak tahu malu ini. Angkutan ke angkutan ku sambangi demi mencapai tujuan yang ku kehendaki. Receh selalu tersimpan baik di balik kantong celanaku yang urakan.

"Bayar apa yang musti ku bayar." Wejangan Bapak terngiang-ngiang dalam benak.

Sesampainya di perempatan tempat para intelek memamerkan karya-karya lusuh berharganya, aku terdiam sejenak.

Bukanlah hal biasa aku menyambangi toko buku emperan. Aku biasa menyelam di toko buku yang menjual kesejukan, ditemani alunan musik klasik, serta keramahan settingan-an pemuda-pemudi toko. Sedari kecil orangtuaku menjauhkanku dari perempatan ini.

Namun, saat ini aku ingin menyelam dalam lautan yang dianggap keruh

Semakin dekat, semakin jelas rayuan persuasif dengan nada keras, namun mengandung rasa akrab. Seakan-akan sudah lama kenal. Intelek pertama merayuku dengan banyaknya buku-buku langka, namun tidak ada hal menarik yang ia suguhkan selain susunan yang disusun bak piramid. Intelek kedua membuatku berdecak kagum dengan koleksinya yang berisi Mohammad Hatta, Moctar Lubis, W.S. Rendra, Tan Malaka, dsb. Bagai menggunakan susuk Aku terpincut untuk menyelam lebih dalam pada intelek yang sudah separuh baya ini.

Ku putar balik buku Demokrasi Kita, karya Mohammad Hatta dan Harimau Harimau, karya Mochtar Lubis seraya menimbang berat buku bagaikan berat buku akan memengaruhi harga buku ini. Kulihat resensi dibalik buku yang tanpa kubaca sudah membuat terpincut tiada tara. Karya yang kuanggap takkan pernah bisa ku temukan, bahkan baca. Sekarang jelas-jelas ada di depan mata kepalaku sendiri. Intelek paruh baya itu bersiul dengan merdu yang membuatku agak ngeri.

Dengan keramahan ala intelek emperan, Ia memberiku masukan untuk terus membaca karya-karya sastra lama untuk memperkaya wawasan layaknya dia sewaktu muda dulu. Tak pernah terpikir olehku akan tempat ini yang ternyata menyimpan begitu banyak mutiara-mutiara. Tanpa diminta, intelek itu mengisahkan pengalamannya sedari menikmati hingga menjajakan mutiara ini di lokasi yang sebetulnya kurang layak untuk menjajakan mutiara.

Begitu banyak lika-liku Intelektual ini hingga membuatku berdecak kagum dalam menyerap intisari yang Ia suguhkan. Sesampai malam mulai menggrayangi ibukota, maka Aku pun pamit sembari memberi tiga puluh ribu dalam pecahan receh kepada sang intelek emperan.