Aku iri. Iri ku mahal sekali harganya. Bukan sebatas pada harta benda yang mereka punya dan dapatkan. Tapi lebih dari itu. Mereka yang sanggup berdiri cepat setelah reruntuhan dahsyat menerpa, pada mereka yang kretivitasnya menyala anggun, pada mereka yang tak pernah jengah memperbaiki diri, pada mereka yang tangguh memperjuangkan mimpi-mimpi, pada mereka yang kuat memanggul prinsip, pada mereka yang tak roboh oleh cerca manusia, pada mereka yang ringan memegang ikhlas, pada mereka yang cepat berubah pada kebaikan. Dan aku merasa hanya disini-sini saja. Jalan di tempat padahal waktu tega menyeretku secepat kilat tiba diusia dewasa.

Apa aku sudah berguna? Lantas kalau belum apakah aku ini manusia? Ya Tuhan berat sekali. Semua mengungkungku. Perasaan bersalah yang berton beratnya nangkring di kepala. Ini memupuk bungkuk pada otakku bekerja. Aku terpentok hendak melakukan apa. Salahku, kesalku, siapa yang mendengar tatkala aku tak bisa menunjukkan setitik pun rona.

Ibarat putaran kehidupan, aku sedang terbengkalai di posisi angka 6 seperempat. Untuk berjuang naik, ya Tuhan beratnya~ berat sekali. Beban-beban yang mengajaku untuk tinggal di posisi terendah melulu. Haduh konslet sekali roda kehidupanku ini.

Semua yang melukai kutelan lahap-lahap. Ah tidak selahap orang kelaparan bung. Pelan-pelan hati menelan. Tapi terus dimasukkan. Sering kali belum selesai kutelan sudah disodok oleh godam-godam. Pedih tak terperi. Inikah jalan hidup?

Tatkala mengingat yang telah lalu rasa-rasanya baru saja sedetik indah di posisi dua belas. Nyaman diatas, benderang disanjung orang. Roda oh roda. Menggelinding begitu saja tak pandang rasa iba.

Advertisement

Rasanya berjalan tidak sesuai waktu yang diharapkan. Posisi sedetik disini rasanya semalam. Memberatkan. Aku tak paham cara melangkah. Kala perasaan bersalah memenuhi penjuru arah. Lelah~

Tenggelam dalam lamunan yang senantiasa memberikan iming-iming manis, mimpi. Dia fatamorgana kehidupan paling kejam, tapi juga bisa menjadi amunisi paling ampuh sejagat raya untuk sanggup bertindak nyata. Sanggupkah diri menjadi pejuang mimpi kala hati sedang resah?