Mata adalah isyarat, untuk menyampaikan pesan dengan tatapan yang penuh makna . Sedangkan rasa, adalah petunjuk untuk merasakan apa yang sedang terjadi? Namun hati adalah satu bukti bahwa jiwa membutuhkan lautan ketenangan di dekat perbatasan pelabuhan. Itulah langkah untuk menemukan diriku yang melebihi kadar hidupmu di dasar laut baru, yang baru saja kau perdengarkan pada suara gemercik kenangan yang menghidupi segenap hati dan perasaan.

Namun sepatutnya aku bersyukur, menunggu kehidupan cerah di hari esok tepat di selat kanan dan kiri nuansa keindahan. Disaat hatimu adalah samudera pasir indah yang memeluk diriku di tengah lautan resam. Ayunan indah jemarimu, rangkaian senyummu yang tersebar di udara, beraroma syahdu, menginjak risalah kalbu yang tak tau akan hal itu.

Hari berganti waktu, jalan trotoar pun terbuka untuk saling bertatap muka, sepiring sepandang, sejauh mata memandang. Sore malam itu, indah disana asa berkalbu jingga, teringat senyummu menggetarkan jiwaku..

Namun, sejemari kau pergi, mundur menginjakku tepat di titik lemah aliran sukmaku, kau renggut tampilan indah dariku, berjibaku dengan suasana merdu yang mengalir deras di lubuk hatiku. Semuanya kaku, terdiam , laksana kaki yang tersandung batu, terjatuh, tergeletak di atas bumi semu. Teronggok meneropong jauh ke alam kosong, tanpa sadar bahwa kau telah melukaiku.