Memiliki mimpi yang bukan hanya sekedar angan belaka, membuatku harus memilih di antara dua keinginan yang berarti dalam hatiku. Memiliki mimpi sebanding dengan cita-cita yang aku dambakan adalah sebuah perjuangan untuk aku wujudkan. Setidaknya mimpi terbesar dalam hidup ini adalah meraih pendidikan setinggi mungkin, memperbanyak ilmu dan memiliki masa depan terbaik yang didambakkan.

Mungkinkah itu angan? Itu bisa jadi kenyataan, aku selalu yakin akan keinginanku untuk menjadi sosok yang berguna dan membanggakan. Aku selalu menyakinkan diri sendiri kalau usaha adalah bagian dari keyakinan di atas kemauan diri kita sendiri dan kehendak Allah SWT.

Namun di saat yang sama aku bertemu dengan seseorang yang memang meyakinkan pilihanku terhadapnya, sayangnya saling jatuh cinta tak cukup untuk menjadikan kita bisa bersama.

Belum takdir atau hanya intermezzo semata?

Inilah yang menjadi pilihan terberat di saat kita saling mencintai tapi belum siap membuat komitmen untuk bersama dan mengikat janji suci, terhalang restu dan terhalang keinginan. Di sisi lain aku tak pernah ingin menikah muda, aku ingin menikmati indahnya dunia dengan mengejar ilmu dan mengembangkan banyak ilmu yang kudapatkan. Bekerja, belajar dan berkarya itulah ketiga hal yang menjadi sebuah visi dalam hidupku.

Advertisement

Melepaskan? Tidak aku tidak pernah melepaskan, karena aku tau "jika kita memang ditakdirkan bersama, sejauh apapun akan bersatu juga"

Jadi aku belajar untuk lebih ikhlas dan sabar, cinta dan cita-cita adalah dua hal yang membuatku tak bisa memilih namun aku berusaha menyakinkan apapun itu jika memang takdir kita dia akan datang kepada kita. Meraih Cita – Cita di usia muda memang keinginan terbesar bagi setiap manusia, layaknya aku yang mencoba menyakinkan cinta untuk mengizinkan aku meraih mimpi terlebih dahulu.

Sepandai apapun aku menyembunyikan perasaanku terkadang aku teringat akan saatnya mencintai dan dicintai, entah yang kulakukan sekarang ini untuk berusaha sebaik mungkin, ada kedua orangtua yang harus aku bahagiakan sebelum aku memilih cinta sepenuhnya.

"Mencintailah di saat kau siap, bukan disaat kau ingin" kutipan indah yang selalu aku ingat, bahwa cinta akan datang di saat cita-cita itu tercapai. Bukan karena ambisi, hanya saja buat apa membuang waktu terhadap cinta yang belum pasti. Itu pilihan dan tentunya pendewasaan diri untuk lebih melihat sejauh mana kita paham akan cinta dan seberapa jauh berjuang untuk cita-cita.