Selamat malam tuan. Ah saya kenapa turut memanggilmu tuan, ya ? oh, barangkali karena terinspirasi status orang lain yang mampir di timeline saya hehe. Tapi sesungguhnya, lebih dari itu. Apa hak saya memanggil tuan dengan kamu ? terlebih jika saya tidak bisa sedekat itu dengan tuan sehingga harus menggunakan kata ganti lain yang lebih layak.

Ya, saya hingga kini tidak tahu kapan bisa bersua tuan dan kita berbagi pengalaman atau sekedar basa-basi hangat yang mendekatkan jiwa kita . Oh iya, perkenalkan, saya adalah salah satu gadis di antara ratusan bahkan ribuan lainnya yang berjajar mengharapkan tuan.

Tuan mungkin sekalipun tak pernah melirik saya, pun melihat saya. Memandang dari kejauhan sesungguhnya sulit saya lakukan. Kebetulan karena saya sedikit rabun jauh dan ada sedikit astigmatisma sehingga bayangan menjadi kurang fokus butuh kacamata dan cinta tuan.

Tapi entah mengapa, saat itu adalah tuan, gangguan penglihatan saya SEKETIKA ITU JUGA sirna, berganti menjadi pandangan sejernih kristal.

Saya mampu melihat dengan jelas senyum dan mata tuan yang selalu memancarkan semangat, meskipun sesekali tampak ada rasa sungkan.

Advertisement

Mungkin kepribadian santun dan sedikit pemalu tuan pula lah yang mendesirkan laju darah saya. Tapi sepertinya masih banyak lagi yang lain, hanya saja saya tidak dapat mendeskripsikan apa apalagi mengekposisikannya, mungkin saking banyaknya hingga saya sulit.

Oh iya tuan apa kabar hari ini? Apakah tuan kini tengah berjuang dengan kewajiban terakhir tuan? amanah tuan? Saya minta maaf tidak bisa menolong banyak, hanya doa. Itu pun kadang saya ragu apakah tuan bisa merasakan keijabahan doa saya. Tapi insyaAlloh, malaikat sudah aminkan sehingga tuan menjadi lebih mudah.

Pun apa makna doa saya dibandingkan ayah ibunda tuan yang tercinta, tiada penat membangun doa untuk tuan. Merapalkannya setiap waktu untuk kemudahan tuan. Sungguh saya bukan apapun dibandingkan itu.

Oh iya tuan. Saya mohon maaf, mungkin seringkali mengganggu tuan. Entah dengan pertanyaan anonim atau sejenisnya yang menggelitik atau bahkan mengusik lainnya. Bukan niat saya demikian. Hanya saja, saya benar-benar tidak tahu lagi caranya untuk bisa terikat dengan tuan meskipun sebentar. Akhirnya hanya menjadi si pengintip tulisan tuan, atau barangkali aktifitas lain yang sering tuan tunjukkan, hanya itu yang dapat saya lakukan. Entah mengapa, saya hanya merasa sangat bahagia seperti ribuan kupu-kupu berterbangan di ruang-ruang dada ketika tuan menyempatkan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya terlebih dahulu sebelum menulis kembali.

Seringkali saya berangan-angan mampu bertanya dengan anda, 30 cm atau 15 cm di depan atau sebelah anda dan seketika melihat mata penuh semangat tuan. Pasti saya terpaku tapi saya akan sangat menyukainya.

Hanya sebuah pertanyaan seringkali melintasi ruang pikir saya yang penuh dengan deadline revisi KTI saya, yakni kapan itu terjadi? Mungkinkah sore ini, hari ini, atau tahun ini? Mungkinkah sekarang, tapi di imajinasi liar saya saja? Maaf tuan, saya hanya ingin mengenal tuan langsung. Sudah cukup saya terlalu mengendap-endap mencari tahu tuan dari belakang jendela atau bahkan layar saja.

Saya juga mohon maaf sekali lagi, jika nama tuan menjadi salah satu daftar nama yang saya doakan setiap harinya untuk saya dapat dampingi. Berkenankah tuan jika saya menjadi pendamping tuan? Layakkah?

saya sadar saya bukanlah gadis jelita berwajah merona yang seringkali menyapa tuan dengan senyum menggoda. Mungkin saya justru akan dengan konyolnya melotot ketika anda bisa melintas, itupun jika berani dan jika mungkin erjadi. Tapi jika tidak berani, mungkin saya hanya bisa menunduk atau melihat dari sela-sela halaman buku saya. Atau barangkali saya akan menyembunyikan wajah malu saya dalam selapis masker kesehatan lima belas ribuan yang dijual di minimarket biru merah itu. Lagi-lagi, jika itu bisa terjadi. Tapi selagi awan masih di langit, cabai masih bisa berubah warna atas kuasa-Nya, saya masih berharap mungkin terjadi.

Saya memohon maaf jikalau akhir-akhir ini, saya sering memutar film tentang perjalanan kisah kita versi saya, di angan-angan saya. Bukan karena saya maniak atau apa, hanya … saya sudah jatuh. Jatuh hati pada tuan yang tidak mampu saya gambarkan rasanya.

Tapi saya yakin Allah lebih memahami dibandingkan saya sendiri. Sekarang tinggal saya tunggu jawaban dari Allah, apakah saya di acc-Nya untuk dapat dekat dengan Anda tahun ini dan mampu bercengkrama barang 20 menit di pelataran atau mungkin harus gigit jari usap tangis dan beralih mundur.

Doakan yang terbaik bagi saya ya, Tuan. Semoga jika tuan adalah jodoh saya kini dan nanti, mudah bagi kita dipertemukan. Namun jika tuan bukanlah jawaban bagi saya, semoga Alloh segerakan jodoh bagi tuan dan saya yang terbaik bagi kita tanpa meninggalkan barit jejas di perasaan saya. Semoga tuan tidak seperti masa lalu saya yangmana menjadi alasan, saya enggan percaya pada spesies tuan. Dulu cukup membunuh, tapi saya kini masih terselamatkan, semoga tidak terulang.

Wassalam.

Dari (yang berharap jadi) masa depanmu