Akhir – akhir ini kau sering hadir dalam ponselku, entah itu sekedar menyapa atau memberi kabar padaku. Yaa sekedar memberi kabar, meski tak secara langsung kau ucapkan itu. Lucunya kau selalu bertanya padaku “kau sudah makan?” itu kalimat pertama yang kau lontarkan padaku. Aku hanya tersenyum membaca pesanmu.

Entah sejak kapan aku mulai gemar membaca pesanmu yang lalu, tak lupa ku sematkan senyuman kecil di pipiku. Aku tak pernah heran mengapa akhir – akhir ini kau sering menghubungiku, yang aku tahu mungkin kau sedang penat dengan duniamu. Hanya itu? Kurasa tak pernah lebih. Menyakitkan memang ketika mengetahui aku hanya tempat persinggahanmu, tempat di mana kau membuang kepenatanmu padaku dan aku, kau jadikan bahan leluconmu. Hahahaha menarik bukan?

Jujur kali ini aku tak paham bagaimana perasaanku padamu. Aku senang ketika namamu ada dalam sederetan pesanku. Aku senang ketika kau mengingatkanku untuk makan karena kau tahu badanku tak sekurus kau. Aku juga senang ketika kau mengingatku meski kau sedang sibuk dengan duniamu. Tapi ku rasa itu hanya biasa tak lebih dari perasaan istimewa. Ku harap aku pun begitu. Ternyata aku salah menerka perasaanku sendiri. Lucu memang, ketika aku tahu kau bersikap manis kepada wanita lain dan aku merasa sakit. Perasaanku berlebihan padamu, sudahlah menyukaimu ku harap hanya mitos.

Sekarang aku merindukanmu. Bodohnya aku merindukanmu yang bahkan belum sempat bertatap muka. Aku rindu ketika kau bersikap manis padaku meski ku tahu itu tak lebih dari perasaan istimewa. Lalu bagaimana jika aku menyukaimu?