09 April 2015

Sudah hampir dua puluh dua tahun aku menghirup udara bumi. Menikmati indahnya kehidupan yang indah dan tanpa batas. Berinteraksi dengan alam setiap hari dan tak pernah membosankan bagiku. Setiap pagi, selalu kunantikan sang mentari menggoreskan cahaya terangnya di retina mataku. Kulangkahkan kaki untuk memulai hari yang menyenangkan. Berjalan kian kemari dengan berbagai tujuan dan cita-cita yang kucetuskan pada masa kecilku; “Aku ingin menjadi seorang yang berguna bagi banyak orang, seorang guru!”

Ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah, ibuku selalu berpesan. Dalam gelapnya malam waktu menjelang terlelap. Di atas tempat tidur kesukaanku, ibu berkata, “Kamu jangan pacaran ya nak, sekolah dulu. Lihat tuh teman-temanmu yang sudah pada pacaran, sekolahnya terganggu dan mereka malas belajar”. Aku mengangguk dan terdiam.

Mudah bagi orang tuaku untuk menasihati kami, anak-anaknya. Sudah terbiasa dan hanya cukup sekali saja mereka berkata, aku pun langsung dengar dan tetap taat melakukannya. Walaupun terkadang, hati kecilku selalu ingin memberontak. Namun, aku percaya bahwa semua itu baik bagiku. Mereka inginkan aku berprestasi di sekolah dan membuat mereka bangga.

Selama 6 tahun aku berada di bangku sekolah menengah, suatu perasaan aneh mulai timbul. Dulu aku biasa saja dengan lawan jenis. Namun, saat aku melihat seseorang yang menarik hati, hatiku pun ikut jatuh. Setiap tahun ada saja orang yang berbeda yang aku suka. Mulai dari yang badannya kecil, yang imut-imut, yang hitam manis, sampai yang badannya tinggi besar. Sungguh tersiksa batinku menahan semua perasaan itu. Aku ingin ungkapkan tapi aku malu. Nggak sopan seorang cewek menyatakan cinta pada cowok!

Advertisement

Aku menunggu-nunggu selama itu, akan ada seseorang yang akan menyatakan cintanya kepadaku. Nyatanya, tidak ada. Tidak ada cowok yang suka padaku. Mungkin karena aku kecil, pendiam, dan kuper. OH NO! Betapa sedihnya hatiku. Akan tetapi, aku telah berkomitmen bahwa aku tidak akan pacaran sebelum aku tamat SMA. Aku sudah berjanji pada orang tua dan diri sendiri. YA! Aku harus pertahankan prinsipku ini. ALRIGHT! Aku berkomitmen untuk tidak pacaran hingga aku tamat SMA.

Inilah waktu yang tepat bagiku untuk melepaskan diri dari perjanjianku kepada orang tuaku, namun tak juga bebas. Aku telah meninggalkan bangku kelas tiga SMA dengan hasil yang memuaskan. Inilah titik di mana aku akan memiliki hak penuh untuk membuat keputusan. Aku akan kuliah dan menjadi seorang mahasiswa. Aku pasti lebih mandiri dan bebas. Tidak ada yang mengatur, tidak ada yang melarang, dan tidak ada yang mengawasi. Segala kebebasan ini kuisi dengan hal-hal yang positif.

Kemudian, Kartu Tanda Mahasiswa masuk ke dompetku yang berwarna hitam. Aku merasa berubah drastis ketika kuterima almamater yang menjadi kebanggaanku. Komitmen untuk tidak pacaran sudah tidak mengikatku lagi. Orang tuaku percaya sepenuhnya bahwa aku bisa menjaga dan mengendalikan diri. Mereka yakin aku dapat mengatur segala sesuatu yang mereka berikan kepadaku. Dan aku senang.

Di tengah perjalanan kuliahku, tiba-tiba ada tiga hingga lima orang menyusup ke hatiku dan menyatakan cinta. Banyak hal mereka lakukan demi mendapatkan kata “iya” dariku. Semuanya terasa berbeda. Dulu aku begitu mendambakan seorang cowok datang dan meminta aku menjadi pacarnya. Selama enam tahun aku menantikan itu, tapi tak kunjung terdengar oleh telingaku. Dan kini, begitu mataku melihat, masing-masing mereka mendekat dan menginginkan aku untuk jadi pacar. Perasaanku yang dulu itu sudah memudar.

AKU TAK SELERA LAGI!

Sejak itulah aku berjanji pada diriku sendiri dan kepada Tuhan, bahwa aku tidak akan pacaran kalau bukan Tuhan yang menunjukkan cowok itu kepadaku. Aku hanya akan pacaran dengan cowok yang akan membantu aku mempercepat kepada tujuan hidupku. Aku maunya dia sebagai pacarku, dan dia jugalah yang akan jadi suamiku yang pertama dan selamanya.

Berbagai hal yang menyedihkan kualami selama masa perkuliahan. Dan yang paling menyedihkan ternyata adalah SENDIRI! Aku berpikir pada mulanya, sendiri lebih baik karena aku tidak akan merepotkan orang lain, aku tak akan membuat orang lain menanggung deritaku, aku tak akan membuat orang lain pusing memikirkan masalahku. Aku merasa aku bisa melakukan segala sesuatu sendiri. Masak sendiri, nyuci baju sendiri, pergi ke kampus sendiri, pergi ke pasar sendiri. Membuat keputusan sendiri, mengambil tindakan sendiri, aku merasa tidak perlu masukan dan tanggapan orang lain.

YA! Aku bebas mengerjakan semuanya sendiri. Sendiri menyenangkan, sendiri lebih baik. Namun, pemikiran itu tak berlangsung lama. Pada saat ini terbukti bahwa sendiri adalah hal yang paling memilukan di dunia. Paling menyedihkan dan sungguh menakutkan hal-hal yang akan terjadi bila sendiri berkepanjangan.

Dan aku tiba di sebuah titik, di mana aku mulai rasakan jenuh hidup sendirian. Di ruang kelas saat aku belajar, aku seperti tak punya kawan. Kemana-mana aku pergi, selalu kulihat orang-orang berdua dengan pasangan mereka masing-masing. Banyak dari teman-teman cewek di kampusku, kemana pun mereka pergi mereka selalu diantar pacar. Selalu dijemput kekasih. Selalu ada yang menemani mereka. Selalu ada yang menjaga dan melindungi mereka. Selalu ada yang memperhatikan dan mentraktir mereka makan. Sedangkan aku? Bagaimana denganku? Aku tak punya pacar.

Aku bosan sendirian. Aku bosan kemana-mana pergi sendiri, tak ada yang menemani, tak ada yang menjemput, tak ada yang menjaga. Aku butuh semua itu. Aku ingin semua itu. Aku mau semua itu. Kesendirianku ini telah menjadikan aku pribadi yang egois, mementingkan diri sendiri, dan mudah emosi. Ketidakmampuanku untuk mengungkapkannya membuatku seperti udara yang terus-menerus ditiupkan ke sebuah balon. Aku susah mengerti perasaan orang lain. Bahkan aku sudah tidak terlalu peka lagi dengan apa yang orang lain rasakan dan pikirkan tentang aku. Aku bosan!

Semua rasa yang berkecamuk aku pendam sendiri. Ingin aku berteriak sekencang mungkin untuk menyuarakan rasa sedih dari dalam hatiku. Aku ingin namun tak dapat, aku ingin sekali punya pacar tapi aku sudah berjanji. Oh Tuhan, apa yang harus kuperbuat?

Pada saat hatiku sedang dilanda dilema, datanglah cowok kelima yang kuliah satu fakultas dengan aku. Begitu banyak kriteria cowok idamanku saat SMA ada padanya. Dia manis, pintar, rajin dan sangat sopan. Satu hal yang paling aku suka darinya adalah cara dia menulis nama orang. Dia sangat menghormatiku dengan menulis namaku di SMS dengan selalu mengawalinya dengan huruf besar. Belum pernah aku temukan cowok seperti dia. Tak lama kemudian, dia datang dan menyatakan cintanya lewat surat yang diantarnya sendiri kepadaku. Dia ingin aku jadi pacarnya.

Hatiku pun berbunga-bunga. Aku bagai terbang melayang ke udara dan menembus awan-awan putih yang lembut dan menenangkan hati. Kegalauanku dalam kesendirian terobati dengan datangnya dia ke dalam lubuk hatiku. Aku juga suka padanya, aku sayang padanya, demikian juga halnya dia kepadaku. Saat kusedang kesem-sem dengan dia, badai hebat datang melandaku. Dan aku teringat dengan janjiku kepada Tuhan bahwa aku hanya akan berpacaran dengan orang yang akan mempercepat aku sampai kepada tujuan hidupku. Aku akan pacaran kalau aku sudah tamat kuliah S1. Aku dan dia ini sama-sekali berbeda, AGAMA. Ya, aku tahu sejak awal bahwa ini tidak akan mungkin. Aku harus mengurungkan niatku dalam jeruji besi di bawah tanah.

Aku harus berhenti berharap. Aku tidak menodai perjanjianku dengan melanggarnya. Demi seorang yang tidak pasti akan menjagaku atau memanfaatkanku, akan seorang yang belum pasti akan menemaniku dalam segala keadaan. Ataukah hanya saat senang saja dia mau bersamaku sedangkan sedihnya tidak. Untuk apa semua itu jika pada akhirnya nanti akan menghancurkan hidupku? Sungguh, melelahkan jikalau hidup hanya untuk menjadi sama dengan dunia ini, dengan mengikuti apa yang orang-orang lakukan,

AKU INGIN PUNYA PACAR, TAPI…

Tapi aku tak dapat. Aku tak bisa. Aku perlu seorang cowok yang akan menjaga dan melindungiku, menemaniku dalam segala situasi, namun aku belum butuh. Aku sedih akan tetapi aku happy. Aku harus membuat hari-hariku yang masih sendiri ini bahagia tanpa seorang pacar, yang notabene akan membuatku ribet dan pusing. Bahagiaku ada di tanganku sendiri, bukan ditentukan oleh punya pacar atau tidak. Aku masih punya banyak teman, aku masih punya keluarga yang akan menopang dan mendukungku. Mereka akan selalu ada buatku dalam segala keadaan.

Jadi single bukan masalah lagi buatku. I’m a happy single. Aku bebas melakukan apa saja, pergi ke mana saja, dan bergaul dengan siapa saja. Tidak ada yang mengikat dan menahan. Aku happy. Aku bahagia. Satu hal yang aku yakini, bila Tuhan menghendaki, cowok itu akan datang sendiri dan mendapatkanku pada waktu yang tepat dan dengan cara yang spektakuler.