Penyair Lebanon pernah bercerita tentang seekor kerang yang mengeluh pada kerang lainnya bahwa di dalam tubuhnya ada sesuatu yang berat dan membuatnya menderita. Mendengar keluhan dari sahabatnya ia berkata “Puji Tuhan aku tidak memiliki sesuatu yang menyakitkan dalam tubuhku.

Aku merasa sehat dan segar, tubuhku bersih dari berbagai macam penyakit”. Mendengar perkataan temannya kerang yang sakit tadi semakin sedih. Pikirnya hanya ia yang memiliki penyakit dalam tubuhnya. Kerang lain tidak memiliki sesuatu yang membuat sakit di dalam tubuhnya. Ternyata percakapan mereka telah di dengar oleh kepiting tua yang memiliki banyak pengalaman. Si kepiting berkata pada kerang yang segar bugar “Kesakitan yang dirasakan sahabatmu adalah mutiara dengan keindahan yang tak terlukiskan”.

Kisah yang ditulis oleh Kahlil Gibran itu memuat makna yang mendalam bahwa sesuatu yang tampaknya menyakitkan, terasa aneh, atau bahkan seperti sesuatu yang buruk bisa jadi merupakan suatu hal yang berharga dalam hidup kita. Contoh ibu hamil, jika kita melihat seorang ibu hamil tentu ada yang berbeda dengan tubuhnya.

Jika sebelum hamil ia tampak seksi dengan lekuk tubuh yang menggoda, maka ketika hamil ia akan tampak aneh dengan perut menggembung. Kaum lelaki tentu tak bisa membayangkan betapa menderitanya mengandung jabang bayi di dalam perut selama sembulan bulan. Namun, dibalik keanehan serta penderitaan para perempuan ada harta paling berharga bagi sepasang suami isteri yang mereka tunggu kelahirannya.

Analogi kerang dan ibu hamil yang telah diceritakan di atas merupakan cerita yang relevan bagi kita yang terus-terusan merasa sakit, merasa ada sesuatu yang salah dari diri kita, merasa diri tidak berguna dan hampa. Bisa dibilang perasaan-perasaan tersebut merupakan sesuatu yang menyakitkan dalam diri kita.

Advertisement

Mungkin semua manusia di bumi ini pernah merasakan sakitnya diabaikan, betapa sakitnya merasa tidak berguna dan sakitnya kegagalan. Parahnya lagi kegagalan terkadang begitu sering datang dalam hidup kita, sehingga kita mulai pesimis pada hidup yang kita jalani. Tanpa sadar pesimisme mulai tumbuh dalam diri kita, dan kita mulai belajar untuk mengeluh, menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, bahkan parahnya lagi bisa saja kita menyalahkan Tuhan. Mungkin diri ini sudah tidak sanggup lagi menerima rasa sakit yang terlampau sering menghampiri.

Andai saja kita mau berpikir jernih, mau menggunakan akal sehat, tidak malas berpikir, serta rajin membaca lingkungan, sebenarnya semua rasa sakit yang kita derita tidak berbeda dengan mutiara dalam kerang. Rasa sakit adalah sesuatu yang sangat berharga untuk kita.

Loh kok bisa gitu?

Mungkin selama ini kita memandang rasa sakit sebagai sesuatu yang ingin dihapuskan dalam hidup kita. Jika perlu kita tidak perlu merasa sakit. Terutama sakit hati ditinggal pacar, hehe… Sangat menyenangkan jika hidup ini tanpa rasa sakit, tanpa luka, dan tidak perlu menderita. Pokoknya “katakan tidak untuk rasa sakit”. Coba deh kita pikirkan lebih matang lagi, sebenarnya rasa sakit itu merupakan harta kita yang bisa dijadikan bekal untuk menjalani hidup. Dengan mengalamai rasa sakit kita belajar untuk melangkah dengan hati-hati, tidak bicara dan berperilaku seenaknya, dan tentu saja membuat kita menjadi pribadi yang tangguh.

Rasa sakit datang dalam hidup memang untuk menghancurkan jiwa kita. Dan boleh percaya atau tidak dalam prosesnya rasa sakit juga mengikis rasa sombong, membersihkan kedengkian, serta menumbuhkan rasa kemanusiaan pada jiwa-jiwa kita. Dengan rasa sakit kita bisa memperbaiki nilai-nilai kemanusiaan yang telah rusak digerogoti nafsu kebendaan. Rasa sakit bisa menjadi pengingat bahwa manusia perlu untuk saling berbagi. Dan bisa jadi rasa sakit adalah fondasi utama dalam membangun kebahagiaan.

Mari kita memperbaiki diri dengan menerima segala rasa sakit dalam diri kita dan mulai bersyukur atas apa yang kita miliki dalam hidup.