Waktu berlalu dengan sangat cepat. Sudah tidak pantas lagi saya mengenakan berbagai macam atribut yang menujukkan jika saya masihlah anak kecil yang suka merengek meminta apapun untuk dipenuhi saat itu juga. Seiring dengan berjalannya waktu, segala macam konsep hidup yang menyenangkan dan menakutkan mulai mampir meski hanya sekedar menyapa namun menjadi buah pikir selama berhari-hari.

Konsep impian yang tidak ubahnya hanya upaya mengimitasi kesuksesan yang sudah diraih oleh seseorang.

Ya. Sangat benar jika saya melakukan hal itu. Pada waktu lampau. Saat impian yang berasal dari buah pikir sendiri belum muncul.

Yang saya lakukan setiap hari hanyalah melihat kakak laki-laki tertua di keluarga besar perlahan bersinar di dalam karir yang waktu itu belum lama ia geluti namun langsung membuatnya meroket. Sebagai gadis kecil yang harinya penuh dengan rasa iri karena ingin dihargai, semua yang dia lakukan saya ikuti. Tidak perduli saya mumpuni dalam bidang itu atau tidak, ego impulsif membuat saya sengaja melemparkan diri ke dalam sebuah lingkaran yang sama sekali tidak saya kenali.

Saya ingin dipahami, ingin dianggap keberadaannya di keluarga, ingin semua orang juga menoleh memperhatikan saya. Tidak melulu selalu menjadikan dia -kakak laki-laki tertua- sebagai sorotan dan bintang utama dalam semua perkacapan para orang tua yang cenderung seperti memujanya.

Advertisement

Iri menguasai diri saya. Membuat saya kehilangan jati diri saya sendiri. Dalam usia yang masih belia, saya mulai berjibaku dengan keringat, dengan berbagai macam latihan berat di klub olahraga untuk menjadi atlet seperti kakak tertua saya itu. Hanya ego, ego, rasa iri, emosi negatif agar supaya dihargai, rasa marah, dan berbagai penyakit hati lah yang secara tidak sadar menguatkan diri saya kala itu. Saya tidak sadar jika pribadi manis saya perlahan terkikis dan berubah menjadi satu sosok mengerikan YANG SAYA SENDIRI TIDAK MENGENALINYA.

Memaksakan diri, memaksakan keadaan, memaksa kedua orang tua saya untuk memenuhi keinginan saya yang bersangkutan dengan ekonomi. Monster hidup di dalam diri saya hanya karena satu hal sepele yang tidak bisa saya jinakkan. Rasa ingin dianggap keberadaannya di dalam keluarga.

Sampai akhirnya saya berhenti di satu titik yang disebut dengan MENYERAH.

Menyerah karena keterbatasan diri. Yang disebut kebanyakan orang dengan nama tidak berbakat. Tapi bukan itu, bukan itu alasan saya berhenti. Saya hanya lelah.

Lelah berusaha meyerupai orang lain hanya agar dianggap keberadaannya. Lelah mengikuti cara hidup orang lain sedangkan saya ingin menjadi diri saya sendiri. Waktu juga lah yang menyadarkan saya jika setiap orang memiliki hidup mereka masing-masing, lengkap dengan bagaimana cara mereka memaknai, cara mereka bertahan, cara mereka bahagia, dan cara mereka untuk bersinar. Tidak ada individu yang serupa, semua punya lajur jalan masing-masing yang harus dijalani dan dimaknai dengan suka cita menurut versi mereka.

Saya putus asa. Impian untuk dipandang dan dihargai keberadaannya tidak berhasil. Posisi semakin terpuruk. Hampir semua mata tidak lagi tertuju pada saya. Tidak ada simpati yang ada hanya siratan rasa kasihan yang tidak saya inginkan. Cukup. Saya tidak ingin dikasihani. Saya tidaklah gagal. Saya hanya memilih jalan yang salah.

JANGAN BERSEDIH, TUHAN SELALU MENAWARKAN CARA LAIN UNTUK BAHAGIA.

Kalimat itu menggugah saya. Menarik hasrat saya untuk mau mendongakkan dagu kembali dan menantang rasa terpuruk yang sempat merundung saya dalam duka.

Tuhan selalu punya rencana indah untuk hamba-Nya. Hanya cara Tuhan memberikan kebahagiaan pada hamba-Nya lah yang berbeda-beda. Ada yang dengan sekali berusaha langsung mendapatkan hadiah indah dari Tuhan. Namun ada juga yang sampai harus mencoba berkali-kali, merasakan jatuh bangun, keterpurukan dan lain-lain. Macam permainan lotre.

Tidak bisa disamakan. Hanya saja Tuhan memberikan garansi, semua yang berusaha akan memetik hasil usaha yang ia lakukan. Kebahagiaan.

Saya keluar dari dalam kubus keterkungkungan. Mencari-cari hal yang saya kuasai dengan baik namun saya tinggalkan karena nafsu buruk untuk mengubah diri saya menjadi orang lain. Saya tidak mau menyesal. Itu bukan kesalahan.

Masalahlah yang mendewasakan seseorang.

Tanpa masalah seseorang tidak akan belajar untuk menghadapi hidup yang sebenarnya. Dan tidak mengerti apa guna mengoreksi diri demi menjadi seseorang yang lebih baik.

Perlahan-lahan saya mulai beralih dari yang awalnya hanya sebatas mengimitasi segala hal dalam diri kakak saya perlahan menjadi diri saya sendiri. Dengan apa yang saya sukai, apa yang cocok dengan diri saya. Cerminan diri saya yang sebenarnya.

Beruntung saya tidak sendiri. Bersyukur ada malaikat yang tanpa saya sadari tidak pernah meninggalkan saya. Dengan bantuan mereka, saya menemukan minat dengan dibumbui sedikit bakat yang menonjol namun terlupakan karena saya terlalu fokus pada rasa iri.

Sedikit demi sedikit lembaran baru penuh dengan asa saya torehkan. Saya tidak malu mengatakan jika jalan yang saya ambil adalah suatu bentuk PELARIAN. Bukan pelarian yang buruk, tapi pelarian indah yang tidak sedikit pun disisipi dengan berbagai iri, dengki dan teman-temannya lain.

Helaan nafas saya kini semakin mudah. Tidak ada lagi beban yang menggelayut. Tidak ada lagi sakit yang menyayat.

Semua berkat keberanian untuk berhenti menjadi tukang jiplak, orang yang suka mengimitasi kesuksesan orang lain tapi tidak tahu jika jiwanya tidak akan menyatu dengan hal yang ia jiplak mentah-mentah itu. Hal lain yang saya dapatkan, Tuhan memang selalu menawarkan cara lain untuk bahagia. Kunci yang lain adalah saya berani mengambil keputusan untuk menyudahinya dan berubah menjadi pribadi yang sesuai dengan yang seharusnya.

Dengan tidak memaksakan keadaan juga, akhirnya hal yang saya harapkan malah menjadi kenyataan. Buah dari harapan dan kesabaran pun menjadi kenyataan setelah saya menjadi diri saya sendiri. Memang lebih bahagia menjadi diri sendiri. Sekalipun saya dipandang oleh semua keluarga tapi dalam keadaan saya masih menjadi seorang penjiplak, saya tidak akan sepuas sekarang.

Sebiasa apapun kita, meskipun tidak sebersinar orang lain. Kepuasaan yang akan didapatkan tidak akan ternilai harganya jika kita dapat mewujudkan keinginan menggunakan usaha dan kerja keras sendiri dengan tetap menjadi diri sendiri.

Selalu ada campur tangan Tuhan di dalam usaha setiap manusia. Percayalah, Tuhan akan memberikan kebahagiaan pada hamba-Nya. Pasti….