Hallo Nona… Kekasih baru pria masa lalu saya, apa kabarmu di sana? Bahagia? Bagaimana dengan dia? Memperlakukanmu dengan istimewa bukan?

Mulanya saya sama sekali tidak tertarik kita saling berhubungan, dan sejujurnya mengenal namamu pun tidak pernah saya inginkan. Tapi sepertinya memang ada perkara yang perlu kita bicarakan, seandainya bisa, saya ingin sekali kita duduk bersisian, berbicara dengan tenang dan saling membagi perasaan. Namun karena itu tidak memungkinkan, biar lewat tulisan ini semuanya saya sampaikan.

Nona, beberapa waktu ini kamu mulai mengendap-endap masuk ke celah hidup saya, boleh saya tahu apa maksudmu sebenarnya? Ingin mengenal saya? Memperingatkan saya? Atau memastikan bagaimana perasaan saya pada dia? Nona, dengarkan ya…agar setelah ini saya tidak perlu lagi mengulangnya.

Saya Tidak Pernah Menginginkan Priamu Kembali

Secara tersirat saya tahu kamu berpikir saya masih mengharap belas kasih dari priamu, sayang sekali perkiraanmu salah kali ini. Saya buka tipe perempuan yang akan meminta kembali apa yang sudah beranjak pergi. Bagian mana lagi dari diri saya yang harus kamu musuhi? Bukannya dia sudah kamu miliki? Untukmu, dulu dia memilih pergi. Karenamu, dia memilih hubungannya dengan saya diakhiri. Lalu sekarang apa lagi?

Sudah jelas sekali bukan, kamu memenangkan semua pertarungan. Jika dia memilihmu, tentu saja kamu lebih mengerti bagaimana cara membuatnya nyaman. Lalu apa kamu masih harus merasa takut kehilangan? Bukannya kamu yakin sekali hubunganmu dengannya akan sampai di pelaminan? Jika begitu, apa saya ini masih jadi ancaman? Hingga kamu semangat sekali memamerkan pada saya betapa bahagianya kalian. Sungguh, bagi saya priamu itu kini tidak lagi signifikan, saya bahkan tidak peduli tentang apa saja yang kalian lakukan. Tentang banyaknya dia menghujanimu dengan ciuman, atau berapa banyak waktu yang kalian habiskan untuk saling berpelukan. Untukmu, dirinya sudah benar-benar saya lepaskan, dan kembali bersamanya sama sekali tidak lagi terlintas di pikiran.

Kamu Tidak Mengerti Apa Yang Sudah Saya Lalui

Advertisement

Kamu minta saya untuk mengerti dan berbesar hati tentang hubungan kalian saat ini, tentang mimpi-mimpi kami yang bersamamu saat ini sedang ia rajut kembali. Kamu tegaskan bahwa kamu mencintainya jauh lebih besar dari yang saya yakini, kamu pun mengenalnya dengan baik sekali. Kamu juga bilang bahwa kamu tidak akan pernah meminta dia untuk menghapus saya dari memori. Katamu, kamu mengerti apa yang kami lalui tidak akan mudah saja dihapus dari hati, kamu juga bilang pernah merasakan kegagalan seperti yang saya alami.

Tidak Nona, kamu tidak mengerti, kamu tidak tahu bagaimana rasanya jika kekasihmu dicuri.

Kamu ringan sekali berkata pada saya bahwa kita ini bukan lagi dua bocah, melainkan dua wanita dewasa. Kamu sangat bangga menceritakan pada saya bahwa priamu itu sangat mempesona, bahwa dia datang saat kamu sedang jatuh-jatuhnya. Kamu meminta saya untuk menerima saat ini kamulah yang bersamanya dan kalian sangat bahagia. Nona, tahukah kamu di awal hubungan kalian dulu dia masih bersama saya? Setiap kamu menghubunginya, meminta pertemuan dengannya, memohon pendampingannya, dia selalu meminta ijin pada saya. Saya tidak pernah keberatan kalian berhubungan, karena dia berkata kalian murni hanya berteman saja, dan lebih dari itu saya tidak pernah menaruh curiga karena padanya saya benar-benar percaya. Kamu tidak pernah saya perhitungkan sebagai wanita yang bisa mencuri hatinya.

Nona, kamu tahu bagaimana rasanya jika hubunganmu berakhir saat kamu sudah punya gambar tentang masa depan? Ada sangat banyak hal yang sudah saya perjuangkan, rencana yang sudah saya susun rapi dan mulai saya persiapkan. Keluarga priamu bahkan sudah meminta pertemuan, menginginkan hubungan kami segera sah di mata Tuhan. Tapi setelah kamu datang, semua rencana itu pecah berantakan, dan akhirnya hanya boleh disimpan dalam angan.

Nona, kamu bilang kamu tahu bagaimana rasanya jatuh setelah menjalin hubungan sekian lama. Tidak, jelas saja berbeda, tidak akan sama rasanya putus cinta karena perbedaan yang tidak ketemu jalan tengahnya dengan patah hati karena ditinggalkan setelah kekasihmu menyiapkan pengganti lainnya. Kamu tahu bagaimana remuknya saya?

Saya pernah merasa begitu jauh darinya walaupun kami masih saling menghubungi. Saya merasakan perhatiannya berkurang jauh sekali, dia menjadi sulit ditemui, apapun yang dia lakukan terasa sekali tidak datang dari hati. Saat itu saya mulai bertanya kesalahan apa yang sudah saya lakoni. Lalu setelah semua usaha saya untuk memperbaiki hubungan kami, dia tetap berkeputusan bulat untuk melangkah pargi. Bagaimana perasaan saya? Dekat sekali dengan sekarat dan mau mati! Saya bergelung dan memeluk lutut sendiri, menangis dan mengunci diri di kamar berhari-hari, juga mengoreksi kesalahan saya di sana sini. Ternyata alasan dia mengakhiri kami sebenarnya sederhana sekali, dia sudah punya penganti. Kamu tahu, dia sudah terang-terangan memamerkan keberadaanmu pada saya hanya tiga hari setelah hubungan kami disudahi. Lebih menyakitkan hati saat saya tahu perempuan yang mencurinya dari saya adalah benar kamu, seseorang yang dia akui hanya teman dan benar-benar saya percayai. Bagi saya, priamu yang mempesona itu adalah makhluk yang sama sekali tidak punya hati. Proses sesakit itu pernah saya lalui, separah itu saya sudah dipecundangi, lalu apa masuk akal jika saya masih mengharap priamu kembali?

Nona, kamu bilang kamu tahu semua hal tentang saya, dan kamu sama sekali tidak pernah cemburu pada masa lalu priamu bersama saya. Kalau kalian begitu bahagia, bisakah kamu tidak datang dan mengganggu saya? Seperti katamu, kita ini dua wanita dewasa, maka mari kita urus hidup masing-masing saja. Saya sudah bahagia dengan hidup saya, tidak perlu risau tentang bagaimana perasaan saya pada dia, kalaupun masih cinta itu sepenuhnya jadi urusan saya. Saya tidak peduli lagi dengan hidup kalian berdua. Bagi saya, apapun tentang dia sudah selesai, finish, tidak ada lagi yang tersisa. Sekali lagi, tolong jangan pernah berusaha menghubungi saya. Pusatkan saja perhatianmu pada hubunganmu dengannya, kita tidak pernah tahu apa yang ada di depan sana, tidak ada yang menjamin bahwa hubungan kalian nanti pasti berjalan sesuai rencana. Walau sedang menggenggam dunia, ada baiknya kamu tidak perlu jumawa.