Kenyataannya, sampai hari ini aku belum bisa memahami diriku sendiri. Saat dihadapkan pada cermin, aku hanya sibuk berdandan supaya terlihat baik di hadapan orang lain. Sering berpura-pura di depanmu, juga temanku. Bersikap seolah baik-baik saja seperti sedia kala. Namun aku tahu apa yang dilakukan oleh pikiranku, kedua mataku, perkataanku, juga apa yang kurasa. Hingga mampu menggerakkan jemari menjadi tulisan ini.

Dalam keadaan belum mengenal diriku sendiri secara utuh, aku terjatuh. Pada ketulusan hati seseorang yang sebenarnya sudah lama kukenal. Ketulusan itu dia sampaikan lewat gurat senyuman, yang belum tahu apakah memang untukku. Sepanjang yang kupandang, begitu dia tersenyum lebar, dada ini berdebar-debar. Dia terus berjalan mengelilingi lingkaran pertemananku. Sampai akhirnya tahu jalan masuk menuju pintu hatiku, entah siapa yang memberi tahu.

Seorang teman yang selalu mendengar semua keluh kesahku, dengan pelan berkata kepadaku,

Kalau kamu suka dia, sampaikan segera. Nanti keburu diambil orang lain! Bukan perkara lomba lari atau balap karung, ini tentang hatimu yang terkurung. Mau sampai kapan kawan?

ucap temanku yang tiba-tiba menjadi seperti orang tua. Mendengar ucapan temanku, aku semakin gelisah. Pikiran dan perasaan tidak bisa diajak kerja sama.

Advertisement

Seketika, aku bertanya pada kegelisahanku sendiri,

Bagaimana jika aku ditolak? Apakah aku harus menyepi ke pantai? Ah tidak, itu terlalu jauh. Atau ke gunung? Tidak, aku terlalu lelah. Mungkin aku akan berdiam di kamar saja.

Kekacauan ini lalu aku diami sebagai introspeksi diri. Sebuah pengakuan akan suatu hal, bahwa aku memang belum menyampaikan perasaanku kepadanya. Kepada si pemilik senyum tulus itu, yang belum tentu untukku.

Dari balik pintu, aku menunggu dengan terburu. Mengejar waktu untuk segera merapikan ruang yang tampak berantakan. Ruang hati yang tidak lagi dikunjungi, oleh sebab janji yang tak tertepati. Semenjak itu, belum ada yang bertamu kepadaku, atau sekedar mengetuk pintu. Namun, aku tidak berhenti sampai disitu. Kusiapkan satu kursi untukmu, sengaja kuletakkan dihadapanku setelah meja. Supaya senyum tulusmu tidak lepas dari pandanganku. Terlepas dari semua itu, aku masih harus duduk menunggumu. Seseorang yang tidak sedang aku undang. Dalam waktu tunggu, kulihat jam tangan di pergelangan tangan kiriku, samar-samar memasuki waktu malam. Mata memutuskan untuk lelah setelah memandang terlalu jauh. Badanku pun mulai bersimpuh, hatiku terbang. Engkau tiada kunjung datang.

Lalu, bagaimana jika aku diterima?