Pertemuan kita baru berlansung kurang lebih dua minggu . Bukankah itu waktu yang terbilang singkat untuk mengungkapkan rasa suka? Oke, maksud aku rasa sayang karena suka mungkin bisa di terima. Bukankah kebanyakan orang bisa langsung suka hanya dengan saling menatap? Hanya suka . Lalu berlalu tanpa rasa lebih.

Aku ini bunga yang layu di tengah kemarau panjang . Yang merasakan gersangnya siang dan gerahnya petang. Tentu saja aku merindukan hujan. Kamu sendiri baru datang menawarkan diri menjadi hujan untuk bunga layuku. Tapi bukankah Hujan saja tidak cukup untuk membuatnya mekar? Kelebihan curah hujan juga malah membuat bunga layuku bisa berangsur-angsur mati.

Hey, Bung! Jangan terlalu menyombongkan diri. Bunga layu ini tidak bisa begitu cepat merekah kembali. Hujan saja tidak cukup untuk itu . Mentari juga aku butuhkan layaknya pelangi yang selalu tampak ketika hujan reda ditengah cahaya petang yang menyejukkan. Maafkan aku,Bung! Logikaku masih sibuk mercerna semuanya.

Maafkan aku terlalu naif mengartikan segalanya. Aku masih saja yakin Hujan tak selalu menampakan pelangi setelahnya. Maka, biarkanlah aku beradu dengan logikaku.

Hal yang paling ku sukai dari hujan adalah dia mampu membuat kamu malas beranjak dari tempatmu berpijak. Mampu menjebakmu dalam ruang nostalgia. Mengajakmu masuk mengimajinasikan pikiranmu. Lalu, melegakan perasaanmu hanya dengan menatap butiran air hujan jatuh dari langit.

Advertisement

Tapi, jangan jadi hujan. Hujan tak selalu menampakkan keindahan pelangi setelahnya. Jangan jadi Hujan , karena terkadang kelebihan air yang tumpah dari langit malah menimbulkan malapetaka, mengorbankan jiwa. Jangan jadi hujan yang mengajak seseorang mengenang luka dalam larutnya melihat rintik hujan.

Jadilah, dirimu sendiri. Entah, itu menjadi mentari, hujan, atau pelangi.

Dariku,

Yang tak percaya hujan selalu bisa menampakkan pelangi setelahnya.

N C U