Detik, menit, jam, hari, minggu, hingga tak terasa ramadan telah datang kembali. Marhaban Ya Ramadan, aku sangat bahagia engkau telah datang. Layaknya ramdan yang telah kulalui 3 tahun yang lalu, tahun ini aku merasakan kembali kurang lengkapnya keluargaku. Aku memiliki saudara laki-laki yang masih sibuk dengan sekolahnya di Yaman dan tidak dapat pulang ke tanah air. Aku yang bersekolah di salah satu sekolah berasrama di daerahku tentunya sangat bahagia dan menantikan liburan. Liburan dapat membuat aku dapat berkumpul serta bercengkrama dengan keluarga. Bukan hanya keluarga, tetapi juga pada saat bulan ramadan biasanya ada acara buka bersama. Pada saat buka bersama kita tentunya juga dapat bertemu dan berkumpul dengan teman-teman lama. Saat itulah yang aku tunggu-tunggu, aku ingin sekali bertemu teman-teman lamaku. Karena aku dulu pesantren, maka pertemanan ku sangatlah erat bagaikan saudara. Aku sangat merindukan mereka semua.

Hari telah ditentukan kapan dan di mana acara akan dilaksanakan. Tetapi takdir berkata lain, seminggu sebelum acara aku meminta izin kepada kedua orangtuaku tentang acara buka bersama tersebut. Kedua orangtuaku bersikeras tidak mengizinkan aku untuk pergi. Dengan alasan tempat yang jauh dan pastinya aku harus menginap, maka mereka tetap tak membolehkan. Padahal aku sudah menyampaikan kepada temanku bahwa aku akan menginap di rumahnya semalam saja.

Aku marah. Aku nangis. Aku benci pada mereka. Setelah dzuhur aku mengaji, tanpa sengaja aku membaca surah Al-Baqarah ayat 216 dengan artinya. Aku langsung terdiam dan temenung, aku merasa yang kulakukan ini mungkin aku memang salah. Tidak selayaknya seorang anak marah kepada orangtuanya hanya karena hal seperti itu.

Aku mulai berfikir, pasti kedua orangtuaku punya alasan lain. Aku termenung di kamar, aku mulai berfikir hal-hal negatif yang akan ku lakukan jika aku datang, mengingat aku anak yang ceroboh dan mudah terpengaruh. Mungkin aku bisa saja tidak ikut shalat taraweh malam itu karena asik dengan teman-teman. Aku juga tidak tahu jam berapa acara akan selesai, mungkin saja terlalu malam. Aku dan temanku juga tidak memiliki SIM sedangkan kita akan menggunakan motor. Teman ku ini juga memili pacar yang akan dia temui pada acara tersebut, dan aku paling tidak suka jika menemani orang berpacaran. Bahkan mungkin saja acara tidak berjalan dengan ramah karena mereka sibuk dengan gadget yang mereka bawa, karena hal tersebut sudah biasa terjadi. Dan yang terpenting aku anak perempuan satu-satunya, cukup kakakku yang dapat membuat khawatir keluarga, aku jangan.