Setiap orang pasti punya rasa cinta. Setiap individu pasti punya cara untuk menghadirkan cinta. Kehadiran cinta bisa disamakan dengan rumus 5W+1H hehe. Dengan siapa, kapan, apa, di mana, dan bagaimana cinta itu bisa tumbuh. Cinta yang tumbuh berbeda-beda kadarnya, ada yang semakin pasang, ada juga yang semakin surut.

Seiring berjalannya waktu, cinta akan melewati berbagai perjalanan yang kadang mulus kadang terjal. Apalagi cinta terhadap pasangan. Ya, dari sinilah kita menemukan berbagai emosi yang bergejolak. Mulai dari bahagia, sedih, terluka, kecewa, haru, senang sampai kehilangan. Air mata lah yang menjadi saksi keberadaan cinta itu sendiri. Entah itu disebabkan rasa senang, maupun rasa sedih.

Ketika sedih datang menghantui, cinta akan punya dua opsi antara maju atau mundur. Ada yang tidak kuat dengan kesedihan cinta, lalu mundur perlahan dan mencari pengganti. Ada juga yang kuat bertahan dan maju mempertahankan cinta dengan melupakan kesedihan dan menghadirkan keceriaan kembali. Ketika senang, di saat inilah cinta akan diuji, seberapa senang menjalani cinta, apakah melebihi apapun atau sekadarnya.

Cinta yang melebihi apapun akan menjadi suatu ujian bagi hati, karena cinta yang berlebihan akan menjadi suatu musuh dari kesenangan itu sendiri. Bukankah cinta dilatih untuk sekadarnya saja. Cinta yang berlebihan akan mendatangkan kepedihan yang mendalam, karena cenderung terikat oleh ikatan cinta itu sendiri.

Ketika kecewa, cinta akan merasa tak dihargai. Cinta yang selama ini dibangun dengan perasaan yang tumbuh sebegitu kadarnya merasa dikhianati. Yah, kecewa memang tidak bisa diprediksi, namun bisa diantisipasi. Kecewa yang tidak bisa diprediksi yaitu kecewa yang ketika cinta tidak siap menerima apa yang terjadi dan belum diketahui, namun kecewa bisa diantisipasi dengan cara yang menenangkan hati tanpa harus menyakiti cinta itu sendiri.

Advertisement

Haru yang menghiasi perasaan cinta, di sinilah cinta akan dibawa ke suasana yang syahdu. Suasana yang bisa menghadirkan rindu yang tak jemu-jemu. Haru yang begitu membuat hati tak menentu. Ini bahasa kalbu atau hanya sebongkah pilu. Haru yang berani menciptakan bumbu-bumbu yang menciptakan rasa menjadi luluh dan leleh.

Ya begitulah cinta, sebegitu gaeknya membolak-balikkan rasa yang menghujam hati. Cinta yang absurd, yang penuh dengan lika-liku rasa. Rasa rindu yang melanda terpatri dalam hati. Rasa gelisah yang hinggap dalam resah. Rasa takut yang menghalau. Kepercayaan yang dipupuk sedari dulu.

Kegalauan pun tidak pernah ragu untuk datang bertamu mengetuk hati. Kesendirian juga dibutuhkan cinta untuk mencoba menenangkan hati. Hari-hari yang berlalu semakin menjadi saksi akan perjalanan cinta yang sudah melewati berbagai mozaik rasa, hingga suatu hari kehilangan pun datang dan mampir dalam cinta.

Satu hal yang menjadi momok paling menakutkan yaitu cinta yang hilang. Cinta yang awalnya tumbuh dan semakin mekar tiba-tiba hilang dan pergi tanpa permisi. Cinta yang menyisakan tangisan yang tidak disangka. Cinta yang sudah tidak memiliki rasa. Cinta yang semakin menurun kadarnya. Cinta yang menggesek seluruh pikiran menjadi galau. Cinta yang bisa membunuh rindu. Cinta yang bisa menghardik candu. Cinta yang hilang meninggalkan berbagai jejak.

Kehilangan yang tidak bisa dialgoritmakan, dihukum-newtonkan, maupun dihitung secara archimedes. Walaupun belum ada rumus yang ampuh dan valid mengukur kadar cinta hilang, hasilnya tetap sama yaitu luka. Luka yang menjadi hasil dari sederetan perjalanan panjang cinta yang melahirkan teka-teki. Ya… Cinta memang aneh…

Namun, pada suatu masa, hilang? Bukankah hilang bisa dicari? Bukankah hilang bisa kembali? Cinta yang hilang bisa hadir kembali. Cinta yang pergi akhirnya pulang. Cinta bak seperti termometer yang berfluktuatif pada suhunya, dari menurun kadarnya menjadi stabil dan naik. Rasa yang terselip entah di mana, hadir kembali. Cinta yang berlalu, mampir dan mengisi hari-hari kembali. Betapa sekeras hati ini berperang, berperang pada rasa yang jika salah bisa menjadi bumerang.

Ya. Kini, cinta yang hadir kembali bisa disebut dengan "cinta lama bersemi kembali". Hati tidak ingin mengulangi kata kehilangan. Sekuat hati menjaga dan memeluk erat doa-doa.

Di sisi lain, cinta yang hilang terkadang tidak memihak jiwa kurang beruntung. Sedih, sendiri, dan sepi masih menaungi. Bahkan jika cinta itu pernah kembali, kemungkinan akan hilang semakin besar. Peluang hilang untuk kedua kalinya mungkin semakin tinggi, jika tidak diiringi dengan penjagaan hati yang ketat. Yah, hati ini mungkin akan kebobolan dan siap untuk kehilangan kali kedua. Beginilah cinta, kepastiannya tidak bisa disamakan dengan hukum exact manapun. Selang kepercayaan cintapun tidak bisa dideteksi melalui excel maupun spss.

Cinta memang sangat rumit, walaupun referensi sudah mentereng untuk diterapkan dalam dunia percintaan. Tapi kembali lagi ke hati, hati tidak akan pernah salah, karena hati tidak bisa membendung segala luapan cinta. Kadang antara hati dan cinta itu homogen (bersatu) terkadang juga heterogen (beda). Dan sekarang cinta yang ada mengikat doa-doa. Doa yang bertubi-tubi dimunajahkan dengan Sang Maha dari segala Maha. Tuhan…

Tuhan yang Maha Membolak-balikkan Hati, jika cinta sebegitu rumit, jika cinta sebegitu absurd, jika cinta sebegitu aneh dan membingungkan, jika cinta berliku-liku, jika cinta menghadirkan kecewa lalu kehilangan, dan jika cinta sudah tidak berpihak lagi, tetap teguhkanlah cinta itu di atas agamaMu..jangan biarkan hati ini terus-terusan menimpa rasa tersakiti, jangan biarkan rasa khawatir selalu mengikuti, Tuhan peluk doa-doa ini… Tegur cinta untuk selalu memahami hati, kuatkan hati dan cinta yang hakiki..

“Tuhan yang Maha Membolak-balikkan Hati, Teguhkanlah hati ini di atas agamaMu…”