Saya selalu mengingatkan diri sendiri bahwa: “Terkadang, selamat tinggal berarti untuk selamanya dan perpisahan adalah akhir dari sebuah cerita. Dia yang memilih pergi mungkin telah berbahagia. Tapi saya PASTI BISA menyusulnya kemudian.”

Saya adalah perempuan yang tidak menyukai segala bentuk perpisahan. Perpisahan saat lulus dari sekolah, perpisahan dengan keluarga di bandara, perpisahan dengan teman-teman karena liburan kuliah, hingga perpisahan yang tidak menyertakan kata “selamat tinggal”. Perpisahan tanpa sebuah ucapan adalah perpisahan yang paling menyedihkan. Pada dasarnya, semua manusia memiliki otak dan ingatan yang otomatis menyimpan semua hal yang telah terjadi. Apakah iya, benar-benar tidak ada satu pun kenangan baik antara dua orang, hingga salah satu pihak tidak pantas mendapatkan ucapan selamat tinggal?

Saya pernah mengalami bagaimana hati saya tergerus sedikit demi sedikit ketika mendapati seseorang yang dulunya pernah saya sayangi pelan-pelan menjauh, kemudian menghilang, tanpa alasan. Selama rentang waktu itu, saya terus menanti dia kembali. Saya hidup dalam rasa bersalah karena takut pernah menyakitinya sehingga dia berbuat demikian.

Jika mengikuti prosedurnya, tentu saja kami belum resmi selesai. Masih ada hati yang belum ikhlas melepaskan, karena ternyata saya menjadi satu-satunya orang yang “masih”. Pada titik tersebut saya belum bisa memaafkan diri sendiri, saya terus menyalahkan diri saya, kepala saya dihantui pikiran bahwa saya bukan orang yang baik untuk dia hingga saya tidak layak mengetahui alasannya meninggalkan saya.

Kemudian, saya sadar. Hubungan yang terjadi antara dua orang harus selalu dilandasi dengan kebutuhan. Dia pernah sekali berkata pada saya, “saya takut kamu tak membutuhkan saya lagi di kemudian hari.” Teringat kalimat itu saat ini, justru seharusnya saya yang takut. Dia ternyata orang pertama yang tidak membutuhkan saya atau mungkin tugas saya dalam memenuhi kebutuhannya dianggap telah selesai, hingga dia memilih untuk memanjangkan jarak, menghilangkan diri, dan saya terlupakan.

Advertisement

Beberapa waktu berlalu, akhirnya dia memunculkan diri. Hari itu adalah hari yang paling saya tunggu-tunggu. Meskipun alasannya kembali adalah untuk mempertegas perpisahan. Saya masih ingat jelas, dia berkata “kalau melupakan saya berat, pelan-pelan saja.”. Dia pamit pada saya, dia bilang dia akan pergi dan dia tidak bisa mengikutsertakan saya. Perasaan saya pada saat itu adalah 30% sedih dan 70% LEGA. Dengan begitu, kami resmi selesai.

Bagi saya, lebih baik orang tersebut mengucapkan “kita putus ya!” atau "selamat tinggal, jangan pernah temui saya lagi!" yang menandakan suatu hubungan betul-betul berakhir. Tegas. Dengan titik. Bukan dengan koma ataupun tanda tanya. Perpisahan dengan ucapan paling menyakitkan akan jauh lebih baik dibandingkan ditinggalkan mentah-mentah tanpa satu katapun.

Lebih baik dibandingkan saya harus bingung antara bertahan atau meninggalkan dia.
Lebih baik daripada saya terus menunggu dia tanpa tau kapan dia akan kembali.
Lebih baik daripada saya terus mencintai dia tanpa tau ternyata dia telah berhenti mencintai saya sejak lama.
Lebih baik jika kami menjadi teman atau sekedar kenalan yang tidak perlu lagi melibatkan diri di kehidupan masing-masing.

Akan lebih mudah untuk saya melanjutkan hidup, karena sekarang saya tidak punya alasan lagi untuk terhenti di ruang kenangan itu. Saya harus berhenti berharap lalu hati saya akan mantap untuk melangkah maju tanpa perlu terus menerus menantinya lagi. Detik itu saya paham, semua manusia punya batas waktunya di kehidupan saya. Mereka datang dan pergi. Mereka ada di suatu masa untuk membuat saya bahagia. Saya menerima itu.

Jangan lupa ucapkan selamat tinggal, jika kamu memang mau pergi.
Kamu tidak pernah tau ada hati yang mati-matian menunggumu yang tidak ada kejelasan.

Ketika saya bersedia menerima kehadirannya dalam hidup saya, maka saya telah mempersiapkan diri untuk menerima keputusannya jika suatu hari dia ingin keluar dari hidup saya. Saya tidak akan memohon-mohon agar dia tetap tinggal. Saya bukan tipe orang yang suka mengekang seseorang dari kebebasannya. Saya pasti akan melepaskannya dengan lapang dada asalkan dia mengucapkan selamat tinggal pada saya.

Jadilah seperti awan yang memberi mendung; agar saya bisa sedia payung sebelum hujan.
Dan kamu jangan lupa ucapkan selamat tinggal, agar saya bisa sedia ketabahan sebelum kamu pergi.